Pada suatu ketika, adik ipar saya kirim pesan WA. "Mas, ono festival film pendek. Melu, yo?" (Mas, ada festival film pendek. Ikut, ya?)

"Siap." Jawab saya singkat. Meskipun sebenarnya belum tahu bakal bikin film apa dan kek gimana.

Tiga hari sejak saat itu, saya masih belum tahu rencanya bakal bikin film apa. Karena kategori dan tema akan diundi oleh panitia.

Ada kategori fiksi, dokumenter, dan video profil. Berharapnya sih dapet kategori dokumenter. 

Menurut saya paling ringan untuk digarap dari ketiga kategori itu ya, Dokumenter. 

Eh, begitu diundi dapetnya kategori fiksi. Parahnya lagi dapet tema "Bahasa, Sastra dan Aksara."

Menerima Penghargaan Film Terbaik Kategori Fiksi di Festival Film Gunungkidul 2019

Bingung Bikin Film Apa

Sempat bingung mau bikin film fiksi kek gimana dengan tema itu. Akhirnya adik ipar saya melempar ide cerita.

"Mas, judul filmnya Caraka Balik ya? Buatin sinopsis dan skenarionya."

Terus terang baru kali ini saya dengar kata Caraka Balik. Bayangan saya sih ceritanya tentang seseorang bernama Caraka yang sudah lama pergi, lalu balik ke kampung halaman. 

Ternyata bukan. Setelah saya cari info di Google, ternyata Caraka Balik ini adalah mantra Jawa kuno yang sudah lama punah. 

"Ini mo kek gimana filmnya?"

"Bikin genre horror, Mas. Hahaha."

Waktu itu saya masih ragu mau bikin alur gimana. Apalagi harus sesuai tema Bahasa, Sastra dan Aksara.

Lak yo mumet menyusun konflik cerita horor yang temanya kek gitu. Lumrahnya kan film pendidikan atau apa gitu.

"Dah, Mas. Besok jenengan bantu editingnya ya? Ini aku dah ada gambaran kasar skenarionya. Besok mau coba langsung shooting."

"Ok siap."

Dia kemudian kirim rancangan sinopsis melalui WA. Sekilas saya baca dan saya kasih masukan terkait alur cerita. 

Meski enggak semua ide perubahan alur itu diterima adik saya sebagai sutradara, tapi dia menerima ide saya untuk memasukkan flashback sebagai komposisi alur cerita.

Saya pikir ada benarnya juga ketika adik saya menjelaskan alasan kenapa dia tetap ingin menonjolkan kekuatan mantra Caraka Balik. Untuk sebuah lomba, memang kita harus bisa tepat menempatkan tema.

Ya, udah. Langsung eksekusi saja. 
Poster Film Caraka Balik


Percaya Kemampuan Tim

Sambil mantau dari jauh, saya percaya aja soal proses pengambilan gambar. Pertama, karena sebagian besar artis yang terlibat adalah pemain kethoprak. Kedua, adik saya pakai perangkat shooting yang dia sewa.

Artinya dari sisi konten, sudah memadai. Tinggal nanti proses editingnya. Risikonya, kalau ada adegan yang kurang pas, ya kudu shoot lagi.

Beberapa hari setelah proses shooting hampir selesai, adik saya ikut workshop pembuatan film yang diadakan oleh Dinas Kebudayaan Gunungkidul. Sekaligus konsultasi mengenai film yang sedang dia kerjakan.

Rada pusing ketika ada saran untuk mengubah alur dan beberapa adegam film. Karena jelas harus take gambar lagi, tentu juga keluar duit buat sewa alat lagi.

Namun, hal itu enggak menyurutkan niat adik saya buat bikin film dan memenangkan festival. Saya pun jadi optimis bakal bisa menang. Maka dari itu, saya pelajari bagaimana cara editing film pakai Adobe Premiere.

Ini pengalaman pertama saya melakukan editing video pakai Adobe premiere. Biasanya sih hanya pakai Filmora untuk bikin video YouTube.

Mengapa Adobe Premiere? karena kami pengin hasil editan yang sesuai standar perfilman. Enggak mau yang asal-asalan.

Pinjam Laptop utuk Edit Film

Akhirnya saya pinjam laptop teman yang sudah terinstall Adobe Premiere. Pelan-pelan saya edit video sambil memahami lembar kerja Adobe Premier.

Bolak-balik saya pelajari tutorial di YouTube. Sambil praktekin langsung di film yang sedang saya edit.

Akhirnya 75% editing film sudah saya kerjakan. Saya simpan di laptop tersebut. Tinggal menambahkan 25% lagi yang merupakan adegan tambahan setelah diminta revisi.

H-4 menjelang deadline pengumpulan film, saya cuti kerja. Kebetulan ada acara keluarga, selamatan setahun meninggalnya bapak. Ini artinya selama saya cuti, saya enggak bisa pinjam laptop teman saya karena dia pakai untuk kerja.

Mau enggak mau, saya akhirnya sewa laptop. 400 ribu selama dua hari, dan baru saya pakai sehari terus saya kembalikan. 

Pasalnya setelah saya coba buka file Adobe Premiere yang saya pindah dari laptop sebelumnya, enggak bisa kebuka. Source filenya beda. Agak stress, karena baru kali ini memgalami masalah kek gini.

Akhirnya saya bujuk teman saya. Saya ajak tukeran laptop. Minimal untuk 3 hari ke depan sampai filmnya selesai saya kerjakan.

Alhamdulillah dia mau. Saya meluncur dari Gunungkidul ke Bantul untuk menukar laptop. Sambil mengembalikan laptop yang saya sewa.

Saya pikir uang sewa akan bisa kembali separuh ketika saya kembalikan lebih cepat laptopnya. Ternyata enggak. Saya harus ikhlas kehilangan uang 200 ribu karena pihak pemilik persewaan laptop enggak mau ngembaliin duit sewa. 

Rada dongkol, sih. Sempat saya kasih rate bintang satu dan review kekecewaan saya di akun Google My Bisnisnya jasa penyewaan laptop tersebut. 


Rada dramatis, di sisi lain saya butuh duit untuk biaya selamatan peringatan setahun meninggalnya bapak, di sisi lain harus kehilangan duit 200 ribu. 

Pengorbanan dan Dedikasi

Sepanjang jalan dari Bantul ke Gunungkidul saya merenung. Kemudian meyakinkan diri bahwa Allah akan mengganti rezeki saya dengan berkali-kali lipat.

Malam hari, ketika orang-orang pada tirakatan, saya otak-atik laptop. Melanjutkan editing film yang belum kelar. Selama 3 malam saya tidur di atas jam 3 pagi untul menyelesaikan editan film tersebut.

Siang hari pun masih mengerjakan hal-hal yang dibutuhkan sebagai syarat lomba tersebut. Proposal pembuatan film, sinopsis, dll.

Yang paling bikin pusing adalah ketika harus memangkas adegan agar durasinya menjadi 15 menit. Pasalnya film ini sebenarnya berdurasi 30 menit. 

Meskipun berat, kahirnya mau enggak mau harus membuang adegan-adegan yang temponya agak lambat. Termasuk adegan-adegan komedi yang menurut saya bakal bikin cair suasana.

Setelah selesai, kemudian saya lanjut bikin trailer film Caraka Balik. Cukup puas dengan hasilnya, tapi masih ragu apakah bisa meraih juara dalam festival tersebut.

Nonton Bareng Film Karya yang Dilombakan


Ketika dikabari agenda nobar (nonton bareng) film karya peserta festival yang dilombakan, otomatis saya semangat untuk datang.

Suasana Nonton Bareng


Selain penasaran dengan karya film dari peserta lain, juga pengin merasain sensasi nonton film buatan sendiri di layar lebar.

Ternyata seru juga. Film yang pertama saya bikin bersama Indra Production ditontong oleh banyak orang di GK Steak dan Caffe Siyono, Gunungkidul.

Setelah menonton semua film, saya jadi optimis bakal mendapat juara. Ya, minimal juara 3. Hehe.

Karena saya menilai di film Caraka Balik ini punya kekuatan dari sisi peran, alur, kesesuaian tema, dan videografi. Jika dibandingkan dengan film hasil karya peserta lainnya loh ya.

Malam Anugrah Festival Film Gunungkidul 2019

"Mas, entar pokoknya kita berlima maju semua, ya kalau juara?"

"Weh, aku tak jadi tukang foto aja. Eman-eman nek enggak ada dokumentasinya."

Saya sudah siap-siap bawa kamera dari rumah. Pakai batik, sesuai dresscode ketentuan dalam undangan. Kemudian adik saya saya minta bawain tripod dari rumah.

Undangan pukul 19, dan saya bersama anak istri sampai di lokasi pukul 18.45. 

"Lho, kok koe ra nganggo batik? Kan undangane suruh pakai batik." (Kok kamu enggak pakai batik, kan undangannya suruh pakai batik?)

Akhirnya adik saya telepon keponakan yang sedang menuju ke lokasi. Dia minta pulang balik ambilkan batik dan mengantarnya ke lokasi. 

Cukup lama menunggunya. Hingga pukul 20.00 batik untuk adik saya belum juga datang. Sebagian besar tamu undangan sudah pada datang. Tim panitia juga beberapa kali menyuruh kami untuk segera masuk saja.

Namun, kami tetap menunggu baju batik sebelum masuk ke ruang penganugerahan. 

Pukul 20.15 akhirnya kami masuk ruangan. Menyaksikan acara dimulai, lalu menunggu pengumuman hasil penjurian.

Rada deg-degan itu berlangsung sejak acara dimulai hingga pengumuman terakhir pemenang lomba film kategori fiksi. Tepat pukul 23 an, film terbaik yang menjadi juara di Festival Film Gunungkidul 2019 itu diumumkan.


Pemberian piala dan uang pembinaan oleh Bupati Gunungkidul kepada tim Indra Production

Gemuruh sorak sorai tamu undangan memenuhi seisi kafe ketika film kami, Caraka Balik diumumkan sebagai film pendek terbaik kategori fiksi. Rasanya kek enggak percaya. 

Ini debut pertama saya bersama Indra Production dalam pembuatan film. Juga pengalaman pertama saya mengedit film dengan aplikasi Adobe Premiere. 

Fullteam Indra Production bersama para artis film Caraka Balik

Dari pengalaman ini saya mendapat pelajaran penting bahwa, "Untuk melahirkan karya yang sempurna enggak cukup hanya mengandalkan otak dan pikiran saja, melainkan harus tahu bagaimana memanfaatkan teknologi untuk memudahkan pekerjaan kita."

Nah, demikian curhat saya yang mungkin kurang berfaedah ini. Ya, karena saya enggak tahu lagi harus dengan apa meluapkan rasa senang ini, selain dengan menulis.

Silakan intip seperti apa film Caraka Balik yang kami buat. Berikut link youtubenya: