Tangan-tangan Malaikat di Balik Harapan Mendunianya Produk UKM Jogja

Saya tercengang ketika melihat produk-produk seperti Thiwul Panggang, Gatot Instant, dan Bakmi Jawa kemasan kaleng di stand Gelar Produk Pelaku UMKM Yogyakarta. Dapat ide dari mana orang-orang ini hingga bisa berinovasi seperti itu? tanya saya dalam hati.
Benar-benar di luar bayangan saya, karena selama ini yang saya tahu makanan desa seperti Thiwul, dan Gatot yang sering saya makan saat pulang ke Gunung Kidul, bisa dikemas sedemikian apik.
Makanan-makan ini kan biasanya mudah basi. Lewat sehari saja sudah enggak enak dimakan. Maka Simbok (Ibu Mertua) saya sering menjemur sisa thiwul yang dimasak, lalu menggorengnya setelah kering. Di Gunung Kidul namanya Gogik Thiwul.
Paling sering, sisa thiwul yang enggak kemakan itu ya dikasih ayam.
Saya menduga ada tangan-tangan malaikat yang enggak terlihat, di balik kreatifnya mereka dalam berinovasi. Maka hari itu (saat acara Gelar Produk Pelaku UMKM berlangsung), saya nanya-nanya ke penunggu stand.
Enggak formal sih, hanya ngobrol tipis-tipis. Karena saya bukan wartawan, ya saya bilang saja kalau saya pengin mengulas produk mereka di blog. Sebenarnya ini trik saja biar mereka semangat menjawab pertanyaan dari saya.
Kalau enggak begitu, khawatirnya mereka mbatin (berkata dalam hati), “Ini orang nanya-nanya mulu, paling ujungnya enggak beli.” Tapi, saya positive thinking mereka enggak mungkin kayak gitulah ….

Stand Rumah Pangan Kita dan Produk Beras Kita

Pertama yang saya datangi adalah stand Rumah Pangan Kita. di sini istri saya beli beras dan minyak goreng. Memang sejak dari rumah sudah niat sih mau beli sembako, rencananya hari Minggu mau masak-masak buat acara ngunduh arisan PKK.
Belanja Sembako di Standa Rumah Pangan Kita

Di stand ini ketemu sama Mbak Risa dan Mas-mas yang saya belum sempat kenalan. Mereka dengan ramah melayani istri saya yang hendak membeli beras dan minyak goreng.
Melihat saya sedang curi-curi momen memotret menggunakan Hp, si Masnya nawarin mau memotretkan, tapi saya menolak. Akhirnya saya pulang membawa beras dan minyak goreng, serta foto seadanya.
Sampai di rumah, istri saya langsung coba memasak menggunakan Minyak Goreng Kita. Ternyata memang memang terasa lebih gurih hasilnya. Waktu itu istri saya coba goreng tempe yang memang pas stok di kulkas masih ada.
Untuk berasnya belum sempat dicoba, karena kebetulan di magicom masih ada nasi. Hehe.

Bakmi Jawa Kaleng di Stand Mbak Tyas

Di stand kedua, saya melihat-lihat produk Bakmi Jawa kemasan kaleng. Rada heran, karena selama ini saya lebih familiar dengan ikan kaleng, daging kaleng, dan si Mael Lee yang sering bilang, “Bukan kaleng-kaleng.”

Ini keren, kalau lagi pengin masak bakmi jawa tinggal manasin saja.
Saya langsung kebayang seandainya bisa jualan online produk Bakmi Jawa kalengan ini kayaknya bakal autosukses. Lha ini produknya masih belum banyak dijual online. Sangat potensial sekali untuk laris terjual di internet.

Stand Mbak Rub dan Thiwul Panggang

Setelah meminta kartu nama, saya kemudian lanjut ke standa ketiga. Kali ini saya tertarik dengan produk Thiwul Panggang. Semacam thiwul yang diolah seperti dipanggang.
Produk Thiwul Panggang 

Sengaja saya enggak mau bongkar bagaimana cara mengolahnya di sini ya. Takutnya membocorkan rahasia dapur pemilik produk.
“Mari Mas, boleh lho dicicipi thiwul panggangnya.”
Tanpa malu-malu saya langsung comot thiwulnya dari wadah kotak yang bertuliskan TESTER. Rasanya enak banget, rada renyah karena memang bukan thiwul yang biasa dimasak dengan dikukus.
“Kalau mau coba kripik thiwul juga boleh lho, Mas. Ini dicicip aja.” Ibu berjilbab penunggu stand itu menyodorkan sekantung ktipik thiwul yang baru dibukanya.
Iya jelas, reflek tangan saya autonyomot dong. Secara gratis gitu lho.
“Maaf, Bu. Ini produknya sudah dijual di mana saja?”
“Di beberapa toko oleh-oleh, Mas. Seperti di Gabusan, Wijilan, dan lain sebagainya. Biasanya anak saya yang nganter-nganter ke sana.”
“Sudah dijual online belum, Bu?”
“Belum, Mas,” jawab Bu Rub yang ternyata produsen dari produk thiwul panggang itu.
Setelah ngobrol-ngobrol dengan mereka, lalu saya coba nyari informasi di internet. Saya kepoin tuh website Dinas Koperasi UMKM Di Yogyakarta dan website PLUT-KUMKM Di Yogyakarta.
Dari sana saya mulai paham bahwa ada harapan besar untuk membawa produk UMKM Jogja mendunia. Harapan ini bukan isapan jempol belaka, karena saya mulai merasakan ada tangan-tangan malaikat yang berjuang membantu mewujudkan harapan itu.
Oke, mungkin kalian mulai berpikir saya terlalu lebay dengan penggunaan istilah tangan malaikat.

Tangan Malaikat Pertama Ada Pada Dinas Koperasi UMKM Yogyakarta

Saya meyakini di balik kesuksesan sebuah usaha, ada support system yang bagus. Saya melihat dalam bidang UMKM ini peran Dinas Koperasi sangat vital terhadap kemajuan perekonomian di kalangan pengusaha mikro dan menengah.


Hal ini ditunjukkan dengan pembagian tugas yang jelas dalam struktur pengorganisasiannya. Di sana ada Bidang Koperasi, Bidang UKM, Bidang Kewirausahaan, Bidang Pembiayaan, dan Sekretariat. Masing-masing memiliki tugas yang jelas.
Mungkin bagi orang awam enggak melihat peran mereka. Karena memang yang diurusi Dinas Koperasi lebih kepada hal-hal makro, seperti perumusan kebijakan teknis bidang koperasi UKM, pelaksanaan kerjasama koperasi UKM, pemberdayaan sumber daya, dan lain sebagainya.

Tangan Malaikat Kedua Ada Pada Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) UMKM Yogyakarta

Kalau kita tanya siapa actor di balik terwujudnya inovasi para pelaku UKM itu, ya PLUT UMKM Jogja pelakunya. Tanpa pendampingan dan bimbingan mereka ide-ide kreatif para pelaku UKM akan mengendap di kepala.
Sebagaimana tagline yang tertulis di halaman depan website PLUT Jogja, “Melayani, Mendampingi, Memberi Solusi, 100% Gratis.”
Luar biasa sekali bukan? Di tangan merekalah masa depan pelaku UKM bisa lebih cerah dengan inovasi-inovasi baru.

Tangan Malaikat Ketiga (mungkin) Ada Pada Kita

Nah, sekarang giliran kita. Terserah mau pilih jadi malaikat atau hanya diam saja tanpa berkontribusi apa-apa. Bagaimana agar kita bisa menjadi malaikat bagi para pelaku UMKM?

Jika profesi kita sebagai bloger, kayak saya nih, ya minimal sering-sering nulis artikel review produk UMKM. Kenalkan produk-produk mereka kepada dunia.
Jika kita ngaku sebagai online marketing, pemilik ecommerce, aktivis toko online, ya jualin dong produk UMKM di toko online kita. Jangan biarkan orang-orang seperti Mbak Rub yang punya produk Thiwul Panggangnya sampai enggak ada yang bantu jualin online.
Kemasannya sudah cantik, kualitas produknya juga teruji, eman-eman banget kan kalau hanya berhenti di tahap produksi doang?
Jika kita orang biasa, merasa enggak punya keahlian apa-apa buat bantu jualan mereka, ya minimal belilah produk mereka. Masa iya kita enggak mampu mengkonsumsi produk-produk keren buatan mereka?
Semoga kita tergerak menjadi malaikat untuk mewujudkan harapan-harapan menduniakan produk UKM Yogyakarta.


Post a Comment

3 Comments

  1. Mas, aku kesereten habis makan tiwul, mau dong dikasih minum

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jiahaha... Mau segalon atau lima galon, kak? Saya kirim via WA, ya?

      Delete
  2. Weeeehhh aku tak melihatvadanya thiwul kemarin wkwkwkwk. Ruame biyangtik pas aku ke sanaaa. BTW selamat mas Seno. Semoga semakin semangat nulis lagii.

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung ke Blog saya. Silakan tinggalkan komentar dan share artikelnya. Jabat erat.