Pulau Batu Putih: Surga Wisata Tanpa Media Sosial


Entah ini hanya kebetulan atau memang mimpi yang jadi nyata. Bisa kembali merasakan pasir pantai Pulau Batu Pulih tuh kayak enggak percaya. Apalagi bagi seorang karyawan dengan katong pas-pasan kayak saya. Jelas butuh beberapa tahun untuk bisa liburan ke luar Pulau Jawa.

Iya, paling mentok mah liburan ke Hutan Pinus Mangunan yang jaraknya enggak lebih dari 20 km dari tempat tinggal saya.

Dulu tahun 2016, saya mendapat tugas menjadi bagian dari tim bakti sosial. Kebetulan saya seorang perawat, kerja di rumah sakit, dan ada agenda tahunan berupa bakti sosial sunatan massal.

Setahun sekali, sunatan massal ini dilaksanakan di luar Pulau Jawa. Dan, sejak tahun 2013 pelaksanaannya selalu di daerah Indonesia timur. Kalau enggak di NTT, ya di Papua.

“Papua dan NTT itu kan surganya destinasi wisata. Raja Ampat, Labuan Bajo, Pulau Alor, dan masih banyak lagi. Bisa sekalian jalan-jalan nih,” pikir saya saat itu.

Maka, persiapan maksimal pun segera saya lakukan. Meski misi utamanya bakti sosial, tapi enggak ada salahnya juga menyiapkan perlengkapan untuk liburan, bukan?
Pulau Alor

Persiapan Sebelum Berlibur

Pertama, saya butuh ransel yang agak gede. Pengennya mau bawa koper, tapi saya enggak mau ribet aja. Soalnya bakal banyak bantu angkat-angkat box berisi paket obat dan bahan habis pakai untuk baksos.

Maka, saya ajak istri saya untuk nemenin nyari tas ransel. Sengaja beli yang agak murah, tapi kapasitasnya cukup buat bawa baju ganti selama lima hari.

Kedua, perlengkapan MCK. Iya, seperti sabun, pasta gigi, sikat gigi, shampo, deodoran sachet, dan kanebo. Ini standar banget ya? Sama seperti kita nyiapin perlengkapan ketika hendak traveling.

“Kanebo?” Iya, ini saya pakai sebagai pengganti handuk. Lebih praktis dan enggak seribet ketika bawa handuk.

Masalah-masalah seperti butuh jemuran untuk handuk basah, baju apek karena terpapar handuk basah yang dimasukin tas, bisa dihindari. Kanebo basah kan tinggal diperas dikit, digulung masukin wadah, selipin dalam ransel. Beres.

Ketiga, persiapan obat-obatan. Biasanya sih ada paket obat P3K yang dibawa oleh setiap tim bakti sosial. Namun, untuk obat-obat pribadi perlu juga dipikirkan. Kalau enggak ada masalah kesehatan, ya siapin obat umum aja. Minimal buat jaga-jaga kalau ada masalah kesehatan yang umum dialami oleh traveller.

Obat diare, obat demam, multivitamin, obat mual, dan lain sebagainya. Jangan lupa juga obat masuk angin.

Keempat, kamera atau gadget untuk foto. Ini wajib ya. Kalau enggak punya kamera bagus, ya minimal siapin storage dan powerbank untuk gadget.

Kosongin memori handphone, beli sdcard, atau siapin akun penyimpanan cloud. Powerbank juga enggak kalah penting. Soalnya kita bakal kelabakan jika baterai habis di saat butuh berkomunikasi menggunakan gadget.

Kelima, asuransi perjalanan. Ini yang dulu belum terpikirkan oleh saya. Waktu itu yang saya punya kartu BPJS Mandiri dari kantor. Maka, kartu itu yang saya bawa.

Cuma masalahnya, bawa kartu BPJS saja ternyata enggak bisa menghapus rasa cemas selama perjalanan. Saya merasa butuh sesuatu yang lain, yang bisa menjamin perjalanan saya aman. Ya, semacam #AsuransiPerjalanan.

Nah, setelah memastikan persiapan itu aman, selanjutnya tinggal jaga kesehatan. Setidaknya menjaga stamina agar siap ketika berangkat tugas.

Destinasi Impian di Belahan Indonesia Timur

Menikmati Pasir Pantai Pulau Batu Putih

Akhirnya hari yang dinantikan pun tiba. Saya ditugaskan ke Pulau Alor. Agak kecewa sih, karena saya berharap bisa ikutan tim yang ke Labuhan Bajo. Waktu itu belum ada gambaran seperti apa Pulau Alor.

Begitu mendarat di bandara, tim bakti sosial langsung menuju lokasi khitan dan eksekusi khitan massal. Bahkan waktu itu saya dan teman-teman belum sempat mandi. Karena hari itu kami harus mengkhitan di dua lokasi yang berbeda.

Dari Pulau Alor, kami menyeberang ke Pulau Buaya. Setelah selesai mengkhitan di sana, kami langsung menyeberang ke Pulau Batu Putih.

Perjalanan sore hari. Saya ingat betul, waktu itu bisa menikmati senja di tengah laut. Terombang-ambing di atas perahu nelayan, dengan kondisi belum mandi, berharap segera sampai di lokasi berikutnya.

Hari sudah gelap ketika kami sampai di Pulau Batu Putih. Bukan hotel bintang lima yang kami temui di sana, tapi kampung sederhana yang belum ada listrik dan enggak ada signal telekomunikasi.

Wow. Ini pengalaman pertama yang enggak pernah saya lupakan tentang Pulau Batu Putih. Justru dengan kondisi keterbatasan seperti itu, saya bisa benar-benar merasakan bagaimana rasanya hidup bersosial.

Bukan hidup bermedia sosial, sebagaimana yang selama ini telah merenggut kehidupan sosial kita.

Surga yang Tersembunyi

Pulau Batu Putih

Keindahan Pulau Batu Putih baru benar-benar bisa saya rasakan ketika pagi dan sore hari.

Saya melihat anak-anak kecil beramai-ramai mandi di pantai. Mereka berlarian riang, melompat, menceburkan diri di pantai.

Saya enggak menemukan kamar mandi di dalam rumah. Semua kamar mandi terpisah beberapa meter dari rumah. Berupa bilik kecil, dengan sumur di sebelahnya.

Lalu di siang hari, saya diajak menikmati pantai oleh pemuda-pemuda Pulau Batu Putih. Mereka mengajari saya bagaimana berburu ikan dengan busur sederhana. Mengenakan kaca mata snorkeling yang mereka buat sendiri dari batang kayu dan pengikat karet.

Menyelam, memburu ikan, melepas busur, lalu mengambilnya di dasar pantai. Setelah bosan, saya lalu bermain kano milik nelayan. Mendayung mondar-mandir di atas ombak yang tenang.

Selama saya mandi di pantai, beberapa pemuda terlihat sedang menyiapkan api unggun di pinggir pantai. Sebagian dari mereka datang membawa beberapa janjang kelapa muda dan pisang.

Saya menghampiri mereka. Ternyata mereka sedang membakar ikan dan pisang. Di samping api unggun juga ada beberapa buah kelapa muda yang sudah siap disantap.

Saya merasa seperti sedang berada di tempat yang jauh dari Indonesia. Entah di mana. Karena apa yang saya temukan di Pulau Batu Putih adalah kehidupan yang berbeda dengan aktivitas harian yang selama ini saya jalani di Jogja.

Saya merasa inilah surga yang saya impikan. Tempat paling pas untuk rehat dari kesibukan kerja yang selama ini memforsir fisik dan pikiran.
Pulau Batu Putih

Andaikan waktu itu saya mengenal #TokioMarineIndonesia @tmipartner sebagai #NewTravelPartner, saya yakin bisa benar-benar merasakan #LiburanBebasCEMAS

Itu tahun 2016, ya? Siapa sangka jika bulan Agustus tahun 2019 kemarin, saya mendapat tugas yang sama. Bakti sosial khitanan massal di Kupang dan Pulau Alor. Dan, agenda khitan di hari terakhir dilaksanakan di Pulau Batu Putih.

Saya benar-benar bisa merasakan surga wisata impian untuk yang kedua kalinya. Alhamdulillah.

Post a Comment

2 Comments

  1. Wah, ke traveling ke Indonesia bagian Timur juga impian saya karena memang alamnya sangat indah gak kalah dengan luar negeri. Menyiapkan asuransi juga penting ya mas walau jalan-jalannya domestik. Thanks for sharing :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Kak. Hampir setiap tahun saya ke Indonesia Timur, tapi ya bukan semata liburan. Lebih karena ada agenda bakti sosial. Asuransi menurutku penting, ya minimal bawa BPJS kalau ada. Cos kita enggak pernah tahu apa yang terjadi selama perjalanan.

      Delete

Terima kasih sudah berkunjung ke Blog saya. Silakan tinggalkan komentar dan share artikelnya. Jabat erat.