Heran sekali saya dengan kebodohan yang saya lakukan saat menerima telepon dari Axa Mandiri. Sudah tahu kalau ujung-ujungnya bakal memotong saldo tabungan secara otomatis, tapi kok ya diturut saja. Enggak hanya dua kali, ini sudah terjadi tiga kali. Saldo terpotong otomatis di saat saya butuh duit.

Kebodohan pertama, ya ketika di awal-awal dulu saat saya menerima telepon dari petugas bank yang mengaku dari Axa Mandiri. Menawarkan program asuransi kesehatan yang katanya aktivasinya cukup melalui telepon. 

Jadi, nasabah cukup menjalani proses pendaftaran melalui telepon saja. Lalu setelah itu akan dikirimkan rincian klaim asuransinya melalui SMS dan email. Jika nasabah sepakat, maka secara otomatis sistem akan autodebit dari rekening Mandiri.

Kalau pas saldonya kurang, maka autodebit akan dilakukan setelah saldo memenuhi. Sistem ini akan otomatis memotong saldo tabungan di Bank Mandiri, dua sampai tujuh hari setelah kita setuju melakukan aktivasi produk Axa Mandiri tersebut.


Sumber gambar: pixabay.com
 

Serius, saya sudah tiga kali merasakan sunatan saldo tabungan seperti itu. Padahal saya sendiri mantri sunat, eh ternyata bisa kena sunat juga. 

Saat telepon pertama itu sudah saya sampaikan kalau saya terdaftar sebagai peserta BPJS Mandiri melalui tempat kerja saya. Saya merasa cukup dengan itu, tapi karena kalah omongan, ya entah kenapa akhirnya menerima tawaran itu.

Ada kalimat, “Silakan dipelajari dulu rincian klaim asuransinya, Pak. Nanti kalau tidak setuju bisa dibatalkan. Selama tidak lebih dari 20 hari sejak rincian premi dikirimkan, uangnya bisa ditarik kembali ke rekening.” 

Kurang lebih seperti itu, penjelasan petugas yang berusaha meyakinkan saya untuk melakukan aktivasi. Kalimat pastinya sih enggak ingat, tapi kurang lebih yang saya tangkap seperti itu.

Saya pun mengambil premi paling rendah. Dengan pertimbangan bahwa saat itu memang belum punya rencana untuk mengalokasikan sebagian penghasilan untuk asuransi. Selain itu saya juga rada kurang minat dengan program asuransi. Apalagi setelah tahu riwayat bapak saya yang pernah ikut asuransi, tapi uangnya enggak bisa cair setelah selesai masa temponya.

Saya pikir, jika besok setelah tiga tahun ikut asuransi Axa Mandiri, duitnya cair karena enggak pernah terpakai, kan lumayan. Katanya bisa otomatis masuk rekening tabungan. Dengan berbaik sangka, saya percaya dengan yang dikatakan petugas di telepon itu.

Beberapa bulan kemudian, ketika saya mulai bisa menerima sunatan saldo otomatis di rekening saya, ada telepon lagi. Dari Axa Mandiri, menawarkan produk. Awalnya saya menangkap ini sekadar penyampaian informasi, tapi setelah tahu prosesnya sama dengan yang pertama, saya baru nyadar ini produk lain. 

Saya tanyakan, “Berapa perbulan yang harus saya bayar?”

“300 ribu, Pak. Terpotong otomatis dari rekening bapak,” keterangan petugas.

“Loh, bukannya kemaren Cuma 80 ribuan?”

“Iya, Bapak. Ini produknya berbeda dengan program Axa yang kemaren bapak ikuti.” Petugas itu kemudian menjelaskan panjang lebar di telepon. Hingga akhirnya saya enggak punya pilihan, selain mengiyakan. Toh, katanya bisa dibatalkan.

Sialnya, saya baru bisa ngurus pembatalan itu di hari-hari terakhir menjelang batas waktu yang ditentukan. Hampir 20 hari lewatlah, ya. 

Saya ke Bank Mandiri cabang terdekat, menanyan perihal prosedur pembatalan. Lalu saya disarankan ke Kantor Bank Mandiri pusat yang bisa melayani perihal produk Axa. 

Maka saya pergi ke Bantul kota, mendatangi kantor Bank Mandiri. Di sana pun saya Cuma dikasih informasi, kalau proses pembatalan bisa dilakukan via telepon. Ya sudah, saya pulang.

Lebih sial lagi, saya baru selo telepon ke Bank Mandiri setelah lebih dari 20 hari. Sudah melebihi batas waktu. Memang akhirnya bisa dibatalkan, tapi risikonya uang enggak bisa kembali. Ya sudah, daripada tiap bulan rekening saya disunat 300 ribu. Saya ikhlasin saja, uang itu melayang. 

Sejak kejadian itu, setiap kali saya menerima telepon dengan nomor berkode wilayah Jakarta, dugaan saya selalu mengarah ke petugas Axa. Maka, jarang saya angkat. Kalaupun saya angkat, saya bilang enggak punya waktu, atau kadang saya bilang enggak berminat dengan tawaran produknya.

Pernah suatu kali saya eyel-eyelan sama petugas di telepon, sampai nada suara embak-nya terdengar sebal. Haha.

“Enggak usah, Mbak. Saya enggak minat untuk aktivasi.”

“Ini sekadar aktivasi kok, Pak. Nanti bisa bapak batalkan sewaktu-waktu jika tidak berkenan dengan produknya.” Kurang lebih seperti itu penjelasan dari embak di telepon.

Saya ceritakan masalah sebelum-sebelumnya, termasuk tentang pembatalan yang pernah saya lakukan. Hingga akhirnya embaknya menutup telepon tanpa jadi menjelaskan panjang lebar dan tanpa persetujuan aktivasi dari saya. Haha.

Nah, belum lama ini saya menerima telepon lagi. Dari Axa Mandiri juga, menjelaskan panjang lebar dan saya menangkapnya sebagai informasi bahwa akan diberikan kartu untuk kepesertaan saya. Memang sebelumnya belum dapat kartu, jadi saya anggap ini program yang sama.

Saya ikuti seperti arahan petugas, hingga pada ujung pembicaraan yang meminta saya untuk bilang “setuju” ketika ditanya si petugas. Lalu dia menutup telepon setelah mengulang penyimpulan dari obrolan di telepon itu. 

Beberapa hari kemudian, saya rada curiga setelah mendapi saldo rekening saya berkurang 300 ribu. Jangan-jangan kemaren itu saya menyetujui aktivasi produk Axa baru lagi. Modyar! Ternyata benar.

Setelah saya baca rincian klaim asuransinya yang dikirim via SMS, itu produk yang berbeda. Di situlah saya merasakan kegoblokan yang hakiki. Kenapa enggak paham dengan modus yang sama?

Memang sih, ada bagian-bagian kalimat yang kurang terang dijelaskan petugas ketika berbicara di telepon. Terutama terkait besaran nominal yang harus saya bayar tiap bulan. Seingat saya, angka 300 ribu hanya disebut satu kali saat petugas menyampaikan penyimpulan, setelah saya menyatakan setuju seperti arahan dia. Itu pun dia bacakan dengan nada yang kurang jelas. 

Mungkin telinga saya yang enggak beres, atau ada masalah jaringan saja. Saya positif thinking sajalah. 

Ya sudah, siap-siap telepon lagi ke Bank Mandiri untuk pembatalan. Mungkin memang harus demikian sandiwara yang kudu dilakoni.

Ngomong-ngomong, apa Bank Mandiri semiskin itu hingga memperdaya nasabahnya dengan program aktivasi Axa melalui telepon?