Kita Putus Saja, Mencintaiku Hanya Akan Membuat Hatimu Lebih Sakit

Share:

(Titik Nol, Malioboro, Yogyakarta, tiga hari setelah malam ulang tahun pernikahan Nizam dengan Azizah, pukul 21.30 WIB).

"Zam, aku ingin dengar sesuatu darimu."

"Apa?"

"Katakan kalau kau masih sayang sama aku."

"Iya, aku masih sayang sama kamu."

"Kau bohong!"

"Bohong? Bukankah aku berkali-kali bilang sayang sama kamu? Bahkan saat Azizah terlelap seranjang denganku, aku beranikan mengatakan itu."

"Kau bohong, Zam."

"Lalu, sayang macam apa yang kamu maksud?"

"Kenapa tak kau ceraikan Azizah dan hidup berdua sama aku?"

"Aku ...."

"Katakan saja kalau kau memang enggak sayang sama aku! Di hatimu cuma ada Azizah, kan?"

"Bukan begitu, Dina. Aku butuh waktu. Tak semudah itu menceraikan Azizah yang baru setahun menikah denganku."

"Butuh waktu? Sampai berapa lama lagi? Setahun, dua tahun, atau sampai aku mati dan kau cuma kasih aku janji?"

"Aku sudah berusaha, Din."

"Berusaha untuk meninggalkan aku, kan?"

"Din ... Harus dengan apa lagi aku meyakinkan kamu? Kemarin aku sudah meminta Azizah untuk menerimamu jadi istri keduaku. Bahkan saat itu kamu ada di sana saat aku mengatakan maksudku."

"Iya, tapi Azizah enggak mau, kan?"

"Apa kamu pikir Azizah akan dengan mudah mengizinkan aku menikahimu?"

"Itu urusanmu, Zam. Aku tak mau ambil pusing memikirkan itu. Aku hanya butuh bukti atas janji-janjimu."

"Kenapa kamu jadi menyebalkan gini, sih Din?"

"Menyebalkan katamu? Hei, aku sedang meminta hakku. Di mana rasa tanggung jawabmu sebagai lelaki, hah?!"

"Oke, fine! Aku yang salah! Puas kamu sekarang?"

"...."

"Aku minta maaf sama kamu."

"Sudah terlalu sering kau minta maaf, Zam."

"Dina! Apa sih maumu, hah?!"

"Nikahi aku, Zam. Tinggalkan Azizah. Selamanya. Apa masih kurang jelas?"

"Maaf, Din. Mungkin sebaiknya kita akhiri saja hubungan kita." 

"Enak saja kau bilang putus! Bagaimana dengan bayi yang ada di dalam perutku?"

"Kau ...."

"Iya, aku hamil. Ini anakmu."

"Jangan bercanda kamu, Din."

"Kalau bukan karena ini, aku rela menjauh darimu, Zam. Tolong jangan kau tambah dosamu dengan menelantarkan anak dalam perutku."

"Tidak! Aku tak percaya itu anakku. Bisa saja, kan kalau itu hasil perbuatanmu dengan orang lain? Atau jangan-jangan kamu sengaja melakukan itu untuk merusak rumah tanggaku?"

"Brengsek, kamu Zam!"

***

(Di dalam mobil, melaju di jalan Jogja-Solo, malam ulang tahun pernikahan Nizam dengan Azizah, pukul 22.05 WIB).

Apa dosa saya , ya Allah? Hingga ujian seberat ini Engkau berikan. 

Masih belum cukupkah sembah sujud saya kepada-Mu? Atau Engkau masih melihat keraguan dalam hati saya mengenai kebesaran-Mu?

Sungguh, ya Allah. Saya seutuhnya milik-Mu. Hidup saya, mati saya, bahkan cinta dalam hati, saya ikhlas memberikannya pada-Mu. Kalau pun cinta ini saya bagi dengan Mas Nizam, itu karena ingin menyempurnakan ibadah sesuai anjuran-Mu.

Saya tahu Engkau maha memgetahui segalanya, termasuk yang tersimpan dalam hati. Dulu saya taat pada-Mu. Bahkan sampai sekarang masih tetap berusaha menaati-Mu. Tolong jangan jadikan ketaatan ini memudar, karena menyalahkan takdir-Mu.

Dulu saya meminta petunjuk-Mu saat seseorang mengenalkan Mas Nizam sebagai lelaki yang hendak melamar saya. Saya yakin, keputusan untuk menerimanya adalah keputusan terbaik saat itu. Karena saya ambil setelah mengadu dan meminta petunjuk-Mu. 

Iya, di awal kami menikah, kebahagiaan itu melekat dalam rumah tangga. Kami bisa saling memahami, saling mengisi, dan saling menguatkan ketika sedang Kau-uji. Indah sekali rumah tangga kami saat itu. 

Saya sering mengucap syukur dan memuji-Mu. Seolah-olah tidak ingin masa-masa itu hilang, bahkan saat terlelap dalam tidur pun saya berharap tetap bisa merasakan bahagia itu. Saya sempat menjadi seorang istri yang paling bahagia saat itu. Mendapatkan seorang suami yang sempurna secara lahir dan batin. Yang saya pikir jarang didapatkan oleh istri mana pun di dunia ini.

Namun, setelah enam bulan pernikahan, saya merasa kebahagiaan itu mulai pudar. Perhatian Mas Nizam mulai berkurang. Sebagian besar waktunya mulai terenggut pekerjaan. Bahkan satu-satunya waktu yang saya harapkan bisa merekatkan hubungan pun hambar, setiap malam aku kehilangan sosok hangat Mas Nizam di ranjang.

Entah setan apa yang selama ini menguasai hati Mas Nizam? Sampai-sampai di malam ulang tahun pernikahan kami, dia meminta saya untuk berbagi hati dengan wanita lain. Sakit sekali, ya Allah. Apa harus seberat ini jalan seorang istri untuk merengkuh surga-Mu?

Ya, Allah. Kalau bukan karena ingat ibu, mungkin saya sudah ada di sisi-Mu sekarang. Iya, hanya ibu satu-satunya yang bisa membuat saya bertahan untuk tetap lurus di jalan-Mu.

'Ingat, Ndhuk. Seberat apapun ujian yang dikasih Gusti Allah dalam rumah tanggamu, jangan membuatmu belok dari jalan iman agamamu. Kewajiban istri itu berbakti pada suami, kalau memang nantinya ada sikap suami yang tak enak di hati, cobalah lebih mendekatkan diri sama Gustimu. Karena cuma Dia yang maha membolak-balikkan hati.' 

Sampai saat ini saya masih memegang nasihat ibu. Saya percaya akan mampu lebih kuat menghadapi cobaan ini, seperti kuatnya ibu saat mempertahankan cintanya dengan Ayah.

Astagfirullah. Ampuni saya, ya Allah. Saya terpaksa harus melakukan ini. Meninggalkan Mas Nizam sendiri untuk beberapa hari. Mohon sadarkan suami saya, ya Allah. Bukalah hatinya, kembalikan dia menjadi imam sebagaimana yang pernah saya minta pada-Mu.

Sebentar lagi saya akan sampai di rumah ibu. Saya tak ingin ibu tahu tentang masalah ini. Akan sangat berdosa jika ibu sedih dan kecewa melihat rumah tangga saya saat ini. Lalu, bagaimana cara menyembunyikan semua ini dari ibu?

"Azizah, kita sudah sampai di rumah ibu."

"...."

"Kau tunggu di sini sebentar ya? Aku bangunkan ibu."

"Mas, ibu jangan sampai tahu masalah ini."

***

(Di rumah ibu, Klaten, pukul 22.30 WIB).

"Tumben kalian ndhak ngabari ibu kalau mau nginap di sini. Kan kalau tahu mau ke sini tadi ihu masakin buat kalian. Untung tadi kamar kalian ibu bersihkan."

"Iya, Bu. Maaf, pihak kantor juga mendadak memberi tugas ke luar kota. Jadi tidak sempat memberi tahu ibu."

"Ah, ndhak apa-apa, Nak Nizam. Namanya juga kerja di perusahaan orang, kita ndhak bisa seenaknya sendiri. Harus patuh sama aturan dan perintah atasan."

"Iya, Bu."

"Ibu bersihkan kamar ini setiap hari, karena kalau sewaktu-waktu kalian ke sini biar ndhak bingung mau tidur di mana. Oh iya, ibu juga tempelkan foto-foto pernikahan kalian loh di tembok kamar. Ndhak apa-apa, kan?"

"Iya, tidak apa-apa, Bu."

"Maaf, loh Nak Nizam, ini tempat tidurnya belum ibu ganti. Masih tempat tidur yang sama dengan yang dulu kalian pakai saat malam pertama. Ibu pikir masih kokoh, jadi tidak ibu ganti."

"Ini juga masih bagus, kok Bu."

"Itu di meja samping tempat tidur ada alquran dan sajadah. Biasanya kalau malam ibu sering shalat di kamar ini. Nanti kalau Nak Nizam ingin menyimpannya, bisa ditaruh di lemari situ saja."

"Iya, Bu."

"Nanti kalian kunci pintunya, ya? Ibu mau melanjutkan tidur."

"Anu ... Bu. Saya sepertinya tidak bisa menginap malam ini. Karena besok harus berangkat pagi-pagi ke bandara dan belum persiapan sama sekali. Maaf, Bu."

"Loh, gitu? Kok tadi ndhak siap-siap sekalian? Kan bandara lebih dekat dari sini, toh?"

"A ... Tadi buru-buru, jadi tidak kepikiran untuk siap-siap dulu."

"Ya, sudah. Tuh Azizah suruh istirahat dulu aja. Kayaknya sudah ngantuk, lihat itu matanya merah dan bengkak."

"Terima kasih, Bu. Saya titip Azizah dulu, insyaallah cuma lima sampai tujuh hari urusan pekerjaan ini selesai."

"Iya, Nak Nizam jaga diri baik-baik ya?"

"Njih, Bu."

***

(Di rumah ibu, Klaten, pukul 02.20 WIB).

"Apa yang kamu sembunyikan dari ibu, Ndhuk?"

"...."

"Ibu sudah sering melihatmu shalat tahajud, tapi ndhak pernah melihatmu shalat sambil tersedu seperti tadi. Apa kalian sedang ada masalah?"

"Maafkan Azizah, Ibu. Tak seharusnya Ibu tahu tentang masalah ini. Azizah tak ingin Ibu sedih."

"Ndhuk ... Ibu ini sudah merasakan hidup lebih lama dari pada kamu. Jangankan masalah rumah tangga, masalah perasaan kamu pun ibu bisa tahu. Apa kamu lupa, kalau Allah memberi keistimewaan pada para ibu? Mereka diberi kepekaan untuk merasakan suasana hati anaknya."

"Mas Nizam, Bu ...."

"Nizam kenapa?"

"...."

"Kuatkan hatimu, Ndhuk. Allah sedang menunjukkan rasa sayangnya sama kamu. Jangan pernah tunjukkan ketidak-yakinanmu pada kasih sayang-Nya. Percayalah, setelah ini akan datang dua kemudahan padamu."

"Terima kasih, Bu

No comments

Terima kasih sudah berkunjung ke Blog saya. Silakan tinggalkan komentar dan share artikelnya. Jabat erat.