Tragedi Over Bagasi

Share:

Tragedi Over Bagasi - Adzan magrib berkumandang, ketika kami dalam perjalanan menuju bandara. "Nih, batalin puasa dulu." Salah seorang teman memutarkan sebotol air mineral ukuran tanggung. Sebotol itu kami minum untuk berlima.

Kami perkirakan masih 15 menit lagi sebelum sampai di bandara. Hari itu kami sedang puasa arafah, dan bekal nasi untuk berbuka ada di mobil rombongan yang satunya. Bersama barang-barang perbekalan baksos yang sudah berangkat lebih dulu. Kami berbuka dengan apa adanya. Air mineral dan sekotak bakpia. Maknyusss....

"Kami sudah sampai di terminal B, kalian di sebelah mana?" Kuncoro sedang menelepon rombongan tim lain yang berangkat sebelumnya membawa barang-barang.

"Kami di pintu masuk sebelah timur."

"Loh, ngapain di situ? Kita tuh boarding di terminal B, pintu masuk sebelah barat."

"Iya, mas. Tadi aku udah bilang ke driver kalau kita turun di terminal B, tapi ngeyel. Katanya tim yang tadi juga turunnya di sini. Jadi driver nurunin kami di sini."

"Allahuakbar! Lah kok kalian tuh ya manut aja. Udah, drivernya suruh nganter ke sini sekarang."

"Lah, drivernya udah pulang mas. Ini barang-barang diturunin di sini."

"Astagfirullah ...." Kuncoro menutup telepon sambil memegang jidatnya.

Saat itu juga setelah menurunkan sebagian teman-teman di terminal B, kami meminta driver menjemput teman kami yang ada di terminal A. Dua orang teman kami ada di sana, bersama 40 kardus obat dan BHP, 6 koper peralatan khitan, dan puluhan koper/tas pakaian tim khitan. Beramai-ramai kami masukkan barang-barang itu ke mobil. Memindahkannya ke terminal B. Tentu saja butuh dua kali angkut untuk bisa memindahkan keseluruhan perbekalan baksos tersebut.

Untunglah masih ada waktu dua jam sebelum waktu keberangkatan pesawat menuju Makassar. Namun, tetap saja ada rasa terburu-buru karena belum check in. Apalagi dengan barang bawaan begitu banyaknya.

Setelah selesai memindahkan barang-barang itu ke trolli, kami kemudian menyantap nasi kotak yang sebelumnya disiapkan untuk berbuka puasa. Rasanya nikmat sekali. Mungkin karena kami juga dalam kondisi capek. Dengan tempat seadanya, di teras bandara, kami makan nasi kotak. Maknyusss....

***

Antrian chek in mengular. Tentu saja barang bawaan kami yang berderet menjadi pusat perhatian yang menohok. Melihat ekspresi orang-orang yang mengantri di belakang barisan kami, saya tahu mereka menahan rasa sebal. Jelas mereka akan berpikir bahwa untuk check in butuh waktu berjam-jam menunggu urusan kami dengan petugas bandara selesai.

Kuncoro tampak seperti panglima perang. Berada di depan, berhadapan dengan petugas check in bandara, sesekali menginstruksikan untuk menaikkan barang-barang ke alat penimbangan. Setelah dalam batas bobot tertentu, petugas menempelkan stiker identitas barang, lalu membiarkannya terbawa eskalator menuju kereta angkut.

"Maaf, Bapak. Ini sudah over bagasi. Kira-kira itu masih 120 kiloan lagi," kata perempuan cantik yang dari tadi mengurusi check in para penumpang Sriwijaya Air.

"120 kilo, Mbak?" Kuncoro tercekat. "Tambahan perkilonya berapa, ya?"

"50 ribu, Pak. Tapi maaf, kalau mau nambah kapasitas bagasi nanti nunggu setelah selesai check in penumpang lainnya dulu. Kalau misal kapasitasnya tidak cukup, ya mohon maaf tidak bisa nambah."

Mampus gue. Lagian over bagasi 120 kilo mau dibayar pakai apa? Uang yang kubawa jelas enggak cukup. Gerutu Kuncoro dalam hati.

"Apa enggak ada keringanan, Mbak? Ini kami dalam misi bakti sosial loh. Mohon dibantu."

"Maaf, Bapak. Mengenai keringanan, mungkin bapak bisa menemui manajer kami langsung."

Sesaat kemudian Kuncoro meminta Bu Ratna untuk menemui manajer Sriwijaya Air. Dengan harapan ada pemecahan solusi atas permasalahan over bagasi yang fantastis itu. Kecemasan menguar di wajah Kuncoro. Matanya menyusuri dari trolli ke trolli yang masih penuh dengan beberapa barang bawaan yang belum tuntas dalam urusan check in. Entah apa yang ada di pikirannya, yang jelas jika barang-barang itu tidak terangkut semua, bisa gagal kegiatan khitan 2500 anak di Halmahera.

***

"Loh, Mas. Ini kok sampeyan bawa semua rompinya? Harusnya cukup bawa satu saja untuk jenengan." Mas Hari kaget melihat Mas Azzam yang baru datang menyusul kami membawa satu kresek besar berisi sisa rompi tim khitan.

"Duh. Tak kira suruh bawa semua, je. Tadi aku nanya yang di RS katanya suruh bawa semua saja," terang Mas Azzam dengan ekspresi polosnya.

"Duh, piye iki? Aku juga salah sih, tadi enggak jelasin harus bawa satu saja. Yo wis entar biar diambil driver RS ke sini."

Kebetulan memang Mas Azzam tidak berangkat bareng dengan kami. Dia menyusul, dan rompinya dibawakan Mas Hari. Karena mereka satu tim. Namun, ndilalahnya Mas Hari lupa bahwa rompi yang dia bawa untuk Mas Azzam tertinggal di rumah. Bersama satu kresek snack yang sebelumnya dia siapkan untuk logistik tim baksosnya selama di Halmahera. Namanya juga lupa, biasanya memang tidak ingat.

***

Satu persatu anggota tim berdatangan. Hal ini memberi angin segar buat Kuncoro. Mereka dimintai KTP dan boarding pass-nya untuk menambah kuota bagasi. Kebetulan barang bawaan mereka tak banyak, jadi jatah bagasinya bisa dipakai untuk perbekalan baksos yang over bagasi.

"Maaf, Bapak. Harusnya KTP dikumpulkan dulu, jangan satu-satu kayak gini. Jadinya menghambat proses check in," semprot petugas bandara kepada Kuncoro.

"Iya, maaf Mbak." Kuncoro menahan diri.

Sementara petugas bandara menyelesaikan proses check in, ada seseorang yang juga bagian dari tim baksos mendekati Kuncoro. "Ini tiket dan KTP saya." Dia menyodorkan selembar tiket dan KTP kepada Kuncoro.

Kuncoro menerimanya. "Iya, Pak. Maaf, ada barang bawaan yang akan masuk ke bagasi enggak Pak?"

"Ada, satu koper ini." Dia mendekatkan kopernya pada Kuncoro.

"Ok, tunggu sebentar ya Pak? Ini masih belum selesai check in barang-barang."

"Ya sudah! Sini KTP dan tiketnya, saya check in sendiri saja!" Orang itu pun mengambil kembali tiket dan KTP dari tangan Kuncoro.

Saya lihat aura mendung gelap menggelayut di wajah Kuncoro. Sepasang tanduk seperti menyembul di kepala, tepat di atas telinganya. Kalau digambar dalam film animasi, bisa jadi keluar asap dan cahaya kuning keemasan dari sekujur tubuh Kuncoro. Semacam hendak berubah jadi manusia super saiya.

Barangkali dia sudah sangat lelah mengurus check in yang belum juga kelar. Mungkin juga dia belum sempat berbuka puasa. Yang jelas dia lagi banyak pikiran. Entah mikirin status jomblo, atau yang lainnya. Dalam kondisi seperti itu seseorang pasti rawan mengalamai guncangan emosi dan kejiwaannya. Semoga Kuncoro masih kuat menahan diri untuk tetap waras. Setidaknya hingga kegiatan khitan di Halmahera selesai.

***

Akhirnya kami sampai di ruang tunggu bandara. Urusan check in selesai. Barang-barang sudah dipastikan masuk bagasi semua. Kecuali tas ransel milik saya yang saya ambil karena merasa perlu menyelamatkan tim baksos dari tragedi over bagasi. Efeknya, saya harus menggendong tas ransel berisi pakaian yang beratnya 10 kilogram dari bandara Adisucipto Jogja hingga Bandara Ternate. Iya, sudah saya timbang tas ransel itu di bandara. Karena kata Kuncoro, "kalau bobotnya kurang dari 7 kilo, bisa masuk bagasi, Bang."

Ternyata dari sekian banyak tim baksos yang berangkat, cuma saya yang menggendong tas ransel seberat itu. Dari Jogja hingga Ternate. Maknyusss.... Terima kasih Mas Kuncoro....

1 comment:

  1. Tim saya over bagasi juga. Ya ........... Bayar he he

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung ke Blog saya. Saya harap tidak meninggalkan komentar yang memicu konflik dan mengandung URL aktif. Jabat erat.