Tentang Keberangkatan dan Hal-hal yang Ditinggalkan

Share:

Tentang Keberangkatan dan Hal-hal yang Ditinggalkan - "Kita pulang dan pergi dengan sebuah rencana. Namun, seringkali tak peduli atas apa yang akan ditinggalkan. Barangkali hanya orang yang siap pergi selama-lamanya yang lebih memikirkan tentang hal yang akan ditinggalkan."

Sudah pukul 11, saya masih menunggu tukang bakso memyiapkan 3 bungkus bakso pesanan saya. Dari tempat saya duduk menunggu, saya lihat salah satu teman saya menenteng kopernya. Melewati jalan depan ruang Hemodialisa, lalu NH Mart, menuju titik kumpul yang kami sepakati sebelumnya. Jelas ada rasa terburu-buru dalam hati saya. Karena hari ini kami sepakat berkumpul di Rumah Sakit pukul 11 untuk persiapan keberangkatan ke Halmahera.

Sebenarnya bisa saja saya langsung berangkat tanpa perlu beli bakso, tapi rasanya kurang elok jika nanti tamu itu datang ke rumah dan tidak ada makanan yang bisa disuguhkan. Iya, kebetulan saudara jauh istri saya yang di Gunungkidul sedang dalam perjalanan menuju rumah kontrakan saya. Tadi pagi saya mendaftarkan saudara istri saya itu untuk periksa di poliklinik. Karena beberapa hari sebelumnya memang kami sudah menyarankan untuk berobat ke rumah sakit di tempat saya bekerja.

Saya pamit kepada istri setelah memberikan bakso itu. Saya berpesan kalau nanti tamu itu datang, bisa langsung diantar saja ke poliklinik. Sudah saya daftarkan dan mendapat antrian nomor 4. Bisa jadi saya tidak bisa mendampingi ketika diperiksa di poliklinik. Karena ada agenda di kantor Bupati Bantul untuk pamitan bersama tim khitan yang akan berangkat ke Halmahera.

Di tengah kesibukan saya memeriksa barang-barang yang akan dibawa ke Halmahera, ada pesan WhatsApp (WA). Pesan itu dikirim oleh nomor handphone pendaftaran rumah sakit. Mengabarkan bahwa poliklinik dokter P hari ini tidak buka, karena dokternya sakit. Tentu saja saya rada panik. Secara, tamu dari Gunungkidul yang rencananya akan periksa di poliklinik dokter P sedang dalam perjalanan. Saya tidak tahu bagaimana harus menyampaikan info ini.

Saya segera menghubungi istri, tapi tidak tersambung. Sudah berkirim pesan WA, tapi belum juga dibaca. Sedangkan saya bersama tim tengah dalam perjalanan menuju Parasamya, kantor Bupati Bantul. Kami harus sampai di sana sebelum jam 13.30. Karena agenda pertemuan dengan Wakil Bupati sudah dijadwalkan sebelumnya.

Sesampainya di Kantor Bupati, saya masih terus mencoba menghubungi istri untuk memberitahukan kabar itu. Berkali-kali saya telepon masih juga belum bisa tersambung. Hingga beberapa menit kemudian telepon itu tersambung.

"Waduh, Pak. Lah ini tamunya sudah sampai rumah kontrakan je. Saya harus bilang apa ke mereka? Kasihan kalau sudah sampai sini terus balik lagi ke Gunungkidul tanpa diperiksa. Gimana ini, Pak?" Suara istri saya dengan nada rada panik, ketika berbicara di telephone.

"Ya mau bagaimana lagi? Bilang aja apa adanya, dokternya sakit dan polikliniknya tidak buka."

"Kenapa enggak dari pagi sih ngasih kabarnya?"

"Barangkali memang dokternya baru kerasa sakitnya agak siangan, jadi ngabari ke rumah sakitnya rada siang."

Sempat lengang beberapa saat. Saya dan istri sama-sama diam. Tidak ada suara, tapi telephone itu masih tersambung. Kami seperti saling menunggu solusi apa yang bisa memecahkan masalah ini.

"Kalau diperiksa dokter umum aja, bisa enggak, Pak?" tanya istri saya memecah keheningan.

"Bisa. Periksa di IGD aja enggak apa-apa ya? Entar aku daftarkan."

Mau bagaimana lagi. Daripada jauh-jauh dari Gunungkidul ke Bantul tidak mendapatkan apa-apa, mending dicoba periksa ke dokter umum dulu. Minimal bisa mendapat pertolongan pertama untuk mengatasi masalah kesehatannya. Toh kalau misalkan nanti butuh penanganan lanjut, tentu akan dibuatkan surat rujukan.

Saya segera menghubungi bagian pendaftaran. Meminta untuk memindahkan pendaftaran dari layanan poliklinik spesialis ke layanan poliklinik umum atau IGD. Setelah itu saya memberi tahu istri bahwa saudaranya bisa langsung dibawa ke IGD untuk diperiksa.

Alhamdulillah prosesnya berjalan lancar. Istri mengabarkan bahwa saudaranya sudah diperiksa dan mendapatkan obat. Agak lega rasanya, meskipun saat itu saya dan tim khitan sudah dua jam menunggu Bapak Wakil Bupati di depan ruangannya, belum juga datang. Waktu menunggu itu kami gunakan untuk koordinasi persiapan sebelum keberangkatan ke bandara. Tepat pukul 15.15 akhirnya kami diterima oleh Bapak Wakil Bupati di ruangannya.

"Pak, tadi Sena kuperiksakan di klinik." Tulis istri saya melalui pesan WhatsApp. Saya membuka pesan WA setelah keluar dari ruangan Wakil Bupati.

Sebuah foto yang dikirim istri saya menunjukkan gambar anak saya sedang tidur dan diperiksa dokter. Memang beberapa hari terakhir anak saya sedang batuk dan demam. Sempat saya belikan obat batuk dan penurun panas, tapi sepertinya kondisinya belum membaik. Namun, hal itu tidak bisa memcegah keberangkatan saya bersama tim khitan ke Halmahera. Saya berharap banyak kepada istri untuk bisa menjaganya.

Pukul 17.00 tim siap berangkat ke bandara. Semua perlengkapan sudah ditata di mobil dan kami akan segera berangkat. Saya teringat anak dan istri saya di rumah. Akan makan apa mereka ketika saya tinggal selama seminggu di Halmahera?

Pikiran itu membuat saya tak tenang. Saya buka sebuah amplop coklat jatah uang saku dari rumah sakit. Separuhnya saya ambil, lalu saya masukkan ke dompet. Separuhnya lagi saya biarkan tetap dalam amplop. Amplop itu lalu saya titipkan pada teman yang sedang jaga IGD.

"Jum, nitip ya? Berikan amplop ini ke istriku."

"Oh, siap. Tak kirain ditransfer, je. Ya udah, insyaallah besok pagi aku baru bisa main ke kontrakanmu," kata temanku.

"Enggak apa-apa. Nuwun, ya?" Saya lantas berlalu, keluar ruang IGD. Menyusul teman-teman yang sudah berada di dalam mobil, siap berangkat ke bandara.

Sepanjang perjalanan dari rumah sakit ke bandara, saya memikirkan tentang anak istri saya. Memikirkan bagaimana mereka menjalani hari-hari selama seminggu ke depan tanpa saya. Memang selama ini kami jarang terpisah dalam waktu yang lama. Rata-rata ya setahun sekali, saat ada kegiatan baksos seperti ini.

"Ah, pasti Allah akan menjaga mereka." Saya terus berdoa agar Allah menjaga semuanya. Menjaga rencana kegiatan saya selama di Halmahera, pun menjaga hal-hal yang saya tinggalkan selama di Halmahera.

Bismillaahitawakaltu 'alallah laakhaula walakuwata illabillah.

No comments

Terima kasih sudah berkunjung ke Blog saya. Saya harap tidak meninggalkan komentar yang memicu konflik dan mengandung URL aktif. Jabat erat.