Janji di Antara Mewahnya Bandara

Share:

Janji di Antara Mewahnya Bandara - Semula berjalan biasa saja. Bahkan di antara mereka terlihat saling tertawa, bercanda, dan begitu bahagia. Seolah melupakan kekesalan yang baru saja dirasakan saat beberapa kali dihajar permasalahan perihal keberangkatan. Mereka sampai di istana yang sengaja diciptakan dengan penuh kemewahan. Berhenti sejenak, meletakkan jasad pada bangku-bangku logam yang ditata menghadap jendela kaca raksasa. Di sanalah mereka bisa menyaksikan burung-burung raksasa menanti para penumpangnya.

***

Seorang laki-laki berkali-kali melihat ke arah jam yang terikat di pergelangan tangan kanannya. Kemudian menjinjit ke kanan sambil menjulurkan kepalanya. Seolah ingin meloloskan pandangannya ke depan melewati deretan kepala yang berbaris mengular. Lelaki itu berdiri di tengah barisan, di antara orang-orang yang juga sedang bergelut dengan waktu.

Lelaki itu seperti kurang puas dengan yang dilihatnya. Dia coba mengalihkan pandangan ke arah barisan lainnya. Di kepalanya barangkali sedang berhitung tentang seberapa lama waktu baginya untuk bisa menemui petugas di ujung depan sana. Dia ingin segera tuntas dan bisa melunasi janjinya.

"Penerbangan Sriwijaya Air jurusan Makassar," teriak seorang petugas perempuan dengan setelan hitam putih.

Lelaki itu melambaikan tangan sambil memegang selembar kertas dan KTP. "Saya, Mbak!" teriaknya.

"Mari Bapak ikut saya ke loket sebelah sana." Petugas perempuan itu menghampirinya lalu menunjuk sebuah loket di ujung selatan, di luar barisan tempat lelaki itu mengantri.

Bergegas lelaki itu menuju loket yang dimaksud. Dia serahkan selembar kertas dan KTP yang dari tadi dia pegang. Kemudian disusulkannya sebuah koper untuk ditimbang dan dimasukkan ke bagasi pesawat.

Setelah lelaki itu menerima selembar kertas tiket dari petugas, dia tampak menghela napas lega. Pihak penerbangan menjanjikan waktu keberangkatan sebagaimana angka yang tertulis dalam tiket itu. Lelaki itu membenahi posisi ransel kecil yang digendongnya. Sejenak melihat jam tangan, lalu bergegas menuju pintu masuk ruang tunggu bandara.

Tit ... Tit ... Tit ....

"Sial!" umpat lelaki itu saat alarm berbunyi ketika dia melewati lorong pemeriksaan.

"Tolong lepas ikat pinggang anda."

Lelaki itu pun menuruti permintaan petugas bandara. Melepas ikat pinggang, dan membiarkan orang lain mendahuluinya melewati prosedur pemeriksaan bandara. Dia letakkan ikat pinggangnya dalam nampan, lalu membiarkannya ditelan mesin scan pemeriksaan bandara. Lelaki itu berjalan kembali memasuki lorong pemeriksaan deteksi logam. Mesin tidak lagi berbunyi. Dia lolos kali ini.

"Maaf, tas ini milik siapa?" tanya petugas bandara.

Lelaki yang jarang tersenyum itu melihat tas yang dimaksud petugas, tas itu miliknya. Dia mendekati petugas, lalu menyilakan petugas membuka tas yang dimaksud.

"Alat apa ini?"

"Electrocauter, Pak. Itu alat sunat."

Petugas menatap mata lelaki bertubuh kurus itu. Melihatnya yang sedang sibuk mengancingkan ikat pinggang. Di tangan lelaki itu terselempang sebuah rompi merah. Rompi yang sama dengan yang dikenakan beberapa orang yang beberapa saat lalu terlihat baru saja memasuki ruang tunggu bandara. Tinggal menyisakan lelaki kurus seorang. Itu pun gara-gara dia lupa melepas ikat pinggang dan isi tas yang membuatnya terkendala dalam proses pemeriksaan bandara.

"Mau nyunat ke mana?"

"Bakti sosial di Halmahera, Pak. Khitan 2.500 anak."

Petugas bandara tersenyum sambil sedikit menggelengkan kepala. Kemudian menatap temannya. Dia bilang, "tuh, barangkali kamu pengin sunat dua kali. Reparasi dibikin kembang-kembang gitu, Bro." Mereka kemudian terbahak-bahak. Dan, si lelaki kurus itu seperti tak peduli lalu pergi. Dia tampak terburu-buru mengejar teman-temannya yang sudah hilang dari pandangan.

***

Di antara mereka ada yang bergelut dengan lamunan. Sebagian yang lainnya saling canda, berolok atas status jomblo temannya. Ada pula yang duduk terdiam, menari-narikan kedua jempol tangannya di permukaan layar LCD selebar 5 inch. Sedangkan saya, berkelana menjemput senyum anak istri sambil merebahkan jasad di lantai, di samping bangku-bangku yang mereka duduki.

Ternyata bukan senyum anak istri yang saya jumpai, melainkan tangis mereka yang pilu. Entah apa sebabnya. Berkali-kali mereka memanggil-manggil saya. Anak laki-laki saya tampak tenggelam dalam pelukan ibunya. Suara tangisnya terdengar samar tertutupi erangan istri saya. Mereka seperti berada di rumah orang tua saya di Banyuwangi.

Ah, tidak mungkin. Sangkal saya dalam hati.

Saya teringat janji saya kepada bapak. Kami akan menjemputnya setelah saya pulang dari tugas khitanan massal di Halmahera. Merawatnya di Jogja, dengan harapan bisa memulihkan kondisinya yang lumpuh akibat stroke serangan kedua. Tapi kenapa ada tangisan di rumah orang tua saya? Saya tak mau sesuatu yang buruk terjadi pada keluarga saya.

Saya tersentak. Buru-buru saya empaskan segala pikiran buruk tentang keluarga. Mencoba menenangkan detak jantung yang menggedor dinding dada yang semakin kuat. Mengatur keluar masuknya napas yang berjubel naik turun di rongga dada. Meyakinkan diri bahwa sebentar lagi janji itu akan saya lunasi.

Di antara kemewahan bandara itu, saya melihat banyak ikatan janji-janji. Tentang kepergian, dan janji akan kembali. Tentang kesetiaan, dan janji sehidup semati. Tentang keikhlasan, dan janji menghapus sakit hati. Semua itu tersimpan rapi, dalam hati mereka yang sedang saling tertawa, bercanda, dan terlihat bahagia. Jelas, kita tidak pernah benar-benar bisa membacanya, tapi kita bisa merasakannya.

Bahkan, kemewahan bandara itu pun bagian dari janji. Sebuah janji tentang penawar rasa kecewa. Seperti yang sering saya dengar setiap kali berada di ruang tunggu bandara mengenai penundaan jadwal penerbangan. Dan, kita dengan mudah memaafkan setelah sekian kali dikhianati. Jangan-jangan penawar itu berwujud sebungkus roti. Atau memang pada dasarnya hati kitalah yang sangat mulia dengan mudah bisa memaafkan kesalahan orang lain.

No comments

Terima kasih sudah berkunjung ke Blog saya. Silakan tinggalkan komentar dan share artikelnya. Jabat erat.