Terbit Lagi, True Story yang Penuh Emosi

Share:

Terbit Lagi, True Story yang Penuh Emosi - Untuk menulis kisah yang baik, tentu memerlukan riset data yang cukup. Namun, untuk menghasilkan cerita yang menyentuh hati pembaca, kita butuh penjiwaan dan emosi saat menuliskannya. Semacam ada proses menyalurkan rasa untuk memberi nyawa pada tulisan kita. Tidak semua penulis bisa total dalam hal ini. Tentu banyak faktor yang mempengaruhinya.

Saat sayembara antologi true story itu dibuka, saya sedang tak punya ide untuk ditulis. Sebagian stok kisah hidup saya sudah saya tulis dan diikutkan sayembara antologi sebelumnya. Beberapa juga saya tulis di blog. Karena hidup saya selama ini datar, nyaris tak ada konflik yang wow, maka susah menggali kisah yang menarik dalam diri saya untuk ditulis.

Bahkan sering kali saya baru bisa mulai menulis setelah mepet deadline. Karena ide itu muncul pas di hari-hari mepet deadline. Meskipun begitu, ya tetap harus disyukuri.

Hal seperti ini terulang pada sayembara true story tentang tiga tema (menanti momongan, bersabar, dan merawat orang tua) yang saya ikuti. Waktu itu saya sudah membuat outline untuk ketiga tema tersebut. Namun, masih belum cukup mood untuk menuliskannya.

Hingga pada suatu ketika bapak saya jatuh sakit dan harus opname di rumah sakit. Saya pun harus pulang ke Banyuwangi dan merawatnya. Kurang lebih selama 17 hari saya menunggui bapak yang sedang opname di rumah sakit. Di saat itulah motivasi saya untuk menyelesaikan tulisan itu muncul.

Setiap malam saat bapak saya istirahat dan orang-orang terlelap, saya buka leptop dan mengetik kisah itu. Saya tulis kisah tentang masa-masa pelik saat bapak saya terkena serangan stroke kedua. Tentang nasib karyawan perantauan yang terikat aturan pekerjaan, lalu mendapati orang tua yang butuh dirawat. Saya tuliskan kejadian yang saya alami saat merawat bapak. Merangkainya menjadi sebuah cerita, dengan harapan akan menginspirasi pembaca.

Entah ini berkah atau musibah. Di satu sisi saya butuh bahan untuk ditulis, di sisi lain saya harus merawat bapak yang sedang sakit.

Alhamdulillah, kisah itu lolos seleksi dan akhirnya dibukukan. Rasanya plong ketika bisa mengabadikan kisah hidup dalam sebuah buku. Total sudah ada lima buku antologi true story yang mencatat kisah hidup saya. Insyaallah jika masih diberi kesempatan akan terus bertambah. Semoga keinginan untuk menulis buku solo pun segera terealisasi. Aamiin.

No comments

Terima kasih sudah berkunjung ke Blog saya. Saya harap tidak meninggalkan komentar yang memicu konflik dan mengandung URL aktif. Jabat erat.