Rolling Karyawan Penyebab Tingginya Angka Kematian

Share:

Rolling Karyawan Penyebab Tingginya Angka Kematian - Suatu hari seorang Boss pemilik jasa pelayanan kesehatan memanggil salah satu karyawan. Tentu karena ada masalah serius dan ingin mencari solusi terkait masalah itu. Si Bos ini bertanya kepada karyawan tersebut. "Apa kamu setuju terhadap pernyataan: tingginya angka kematian di tempat kita disebabkan oleh rolling karyawan?"

"Memang jika di pikir secara logika tidak ada pengaruhnya, Boss. Tetapi coba kita lihat dulu hasil telaahnya. Bisa jadi karena karyawan yang baru saja di rolling itu tidak cekatan saat melakukan pekerjaan, lalu berdampak pada yang lain." Karyawan itu menjawab sambil garuk-garuk kepala.

Boss tampak memikirkan sesuatu. Dia ingat manajernya pernah melaporkan hasil telaah kematian beberapa waktu yang lalu. Iya, salah satunya memang menyebutkan bahwa rolling karyawan menjadi akar masalah. Memang sih masih banyak akar masalah lain yang juga dituliskan di laporan tersebut. Terkait fasilitas, regulasi, kompetensi, dan lain sebagainya. Namun, entah mengapa si Boss begitu tertarik merenungkan masalah rolling karyawan sebagai salah satu poin yang diperdebatkan.

Boss jelas tahu arahnya ke mana. Rolling karyawan bisa mengakibatkan perubahan komposisi tim kerja. Lalu beberapa karyawan yang dirolling akan butuh waktu untuk adaptasi. Dan selama masa adaptasi, tentu ada kelambatan dalam menyelesaikan pekerjaan. Hal ini kemudian mempengaruhi kondusifitas lingkungan kerja. Hingga kemudian pelayanan terganggu dan kualitasnya menurun. Indikator penurunan ini salah satunya bisa dilihat dari tingginya angka kematian. Kira-kira seperti itu penjelasan yang pernah Boss dengar dari analisis salah satu manajer terbaiknya.

Dalam hal ini Boss sengaja tidak buru-buru mengambil keputusan. Karena dia ingin melihat cara manajernya melakukan telaah kasus kematian. Sebenarnya harapan si Boss lebih dari itu. Boss ingin para manajer mampu berpikir kritis dan menjadi champion di perusahaan. Maka dari itu dia meminta para manajernya untuk melakukan telaah sebuah kasus bersama dengan para karyawan fungsional.

Boss kembali mengarahkan pandangan pada wajah karyawan yang sedang duduk di hadapannya. "Jika tidak ada rolling karyawan, apa kamu yakin angka kematian bisa turun?"

Karyawan itu terdiam, lalu tersenyum tanggung. "Mungkin saja, Boss."

Beberapa menit kemudian pembiacaraan antara Boss dan karyawan berakhir. Si karyawan keluar ruangan dengan wajah yang sedikit penasaran. Meninggalkan Boss yang geleng-geleng kepala sambil tersenyum simpul. Keduanya masih memikirkan tentang rolling karyawan dan tingginya angka kematian.

****

Ilustrasi di atas hanya adegan fiktif yang mungkin saja tidak pernah terjadi dalam kehidupan nyata. Atau jarang sekali terjadi, tapi entah kapan. Cerita itu hanya sebagai ilustrasi mengenai salah satu proses telaah masalah yang terjadi dalam hidup kita. Hanya saja penggambarannya saya bikin dalam settingan percakapan antara boss dan karyawan dalam sebuah perusahaan.
Anggap saja perusahaan itu adalah tubuh kita, yang tengah mengalami masalah dan butuh solusi. Lalu karyawan tersebut adalah logika berpikir kita, dan si Boss sebagai kata hati.

Saat terjadi masalah biasanya kita cenderung mudah menyimpulkan masalah yang menitik beratkannya pada kesalahan orang lain. Atau terhadap sistem yang dibuat oleh orang lain. Memang ini hal kita, tapi coba dipikirkan kembali dampak ke depannya.

Ketika akar masalah itu ditimpakan ke orang lain, bisa jadi akan menyakiti hati orang tersebut. Atau membuat masalah baru akibat rasa tak nyaman. Padahal jika kita mau menahan diri dan mengeksplore permasalahan itu lebih jauh, tentu akan lebih baik hasilnya. Dalam hal ini kita butuh kata hati untuk mengendalikan logika kita.

Bisikan-bisikan dan renungan yang digaungkan dari hati biasanya lebih mampu membangkitkan empati dan kepedulian kita. Sehingga diri ini akan lebih dulu mengoreksi diri sendiri ketimbang mengoreksi orang lain. Hati yang baik tidak memiliki rasa dengki terhadap pencapaian orang lain. Hati yang baik akan berpikir dua kali untuk menyakiti orang lain.

Nah, ketika diri kita sedang bermasalah, dahulukan hati untuk menimbang akar permasalahannya. Dimulai dengan melihat kelemahan diri kita yang bisa menyebabkan masalah itu terjadi. Kalau sudah ketemu, baru kemudian tanyakan tentang kontribusi apa yang bisa kita berikan untuk memperbaiki masalah itu. Syukur-syukur turut berupaya agar masalah yang sama tidak kembali terjadi.
Bisa jadi rolling peran antara otak dan hati kita bisa menyebabkan matinya rasa kemanusiaan dalam diri. Liarnya ambisi tanpa diimbangi santunnya pribadi, mematikan silaturahim yang seharusnya tidak boleh terjadi.

#tetapkaryawan

No comments

Terima kasih sudah berkunjung ke Blog saya. Silakan tinggalkan komentar dan share artikelnya. Jabat erat.