Legondo yang Hanya Bisa Dinikmati Setahun Sekali

Share:

Legondo yang Hanya Bisa Dinikmati Setahun Sekali - Sehebat-hebatnya koki zaman now, sepertinya masih hebat koki zaman old. Meskipun makanan zaman now variasinya banyak banget dan tampilannya lebih menarik. Dari segi rasa mungkin juga enak bagi lidah-lidah tertentu. Tetapi makanan zaman now sepertinya melupakan unsur-unsur filosofis yang jika diresapi maknanya mengandung nilai moralitas yang tinggi. Salah satu bukti bahwa makanan-makanan itu mengandung filosofi adalah hanya dibuat pada waktu atau momen-momen tertentu saja. Biasanya disuguhkan sebagai hidangan dalam perayaan hari-hari tertentu.

Misalnya saja: ketupat yang hanya dibuat dan disajikan saat hari lebaran. Apem yang hanya dibuat untuk disajikan ketika memperingati hari kematian. Atau legondo yang hanya dibikin setahun sekali saat perayaan bersih desa (di daerah Gunungkidul).

Legondo inilah yang membuat saya dan istri saya kemaren harus wira-wiri dari Bantul ke Gunungkidul hanya untuk menikmatinya. Awalnya memang kami (saya dan istri saya) berencana pulang ke Gunungkidul (tanggal 22 Juli 2018) untuk nyari legondo. Kebetulan di tanggal tersebut ada acara bersih desa di sana.

Ternyata rencana kami berubah. Pagi harinya harus ikut acara jalan sehat yang diadakan di kecamatan. Kami lupa sebelumnya sudah terlanjur beli tiket jalan sehat. Jadi rencana pulang ke Guningkidul kami undur setelah ikut acara jalan sehat.

Tepat jam 14 kami berangkat dari Bantul ke Guningkidul. Setelah istirahat sejenak dan beres-beres rumah. Kami melewati rute favorit yang biasa kami lalui, yaitu Imogiri, Dlingo, Playen, Wonosari, lalu Rongkop. Selain jalurnya yang tidak begitu ramai dengan kendaraan, view pemandangannya juga oke.

Saat naik dari Imogiri ke Dlingo, kita bisa melihat pemandangan di kanan kiri. Tebing dengan pepohonan hijau yang begitu jelas menyuguhkan area makam raja-raja di atas bukit. Setelah itu ada Bukit Bego, yang setiap minggu sore dipakai untuk latihan ketangkasan motor trail.

Berjalan naik lagi kita akan melewati area wisata Song Besuson, Bumi Langit, Watu Goyang, hingga sampai pada pusatnya jajanan thiwul khas Jogja. Berjalan naik lagi kita akan ketemu area wisata hutan pinus mangunan, dan wisata-wisata lain yang masih banyak lagi. Namun, kami tidak mampir ke wisata-wisata tersebut. Karena tujuan kami pulang ke Rongkop, rumah mertua saya.

Sesampainya di sana, ternyata suasana sepi. Hanya ada orang-orang yang sedang mendirikan panggung untuk pentas wayang. Setelah tanya ke bapak mertua, ternyata acara bersih desa baru dimulai esok hari. Duh.

Kami mampir di rumah mertua saya kurang lebih hanya dua jam dan harus pulang lagi ke Bantul. Perjalanan dari Bantu ke rumah mertua kurang lebih memakan waktu dua jam dengan mengendarai motor. Kami harus pulang malam itu, karena senin paginya saya harus masuk kerja dan anak saya sekolah. Tentu saja kami tetap ingin nyari legondo. Karena tujuan kami pulang adalah untuk legondo.

Maka, kami kemudian mampir ke rumah pembuat legondo. Kebetulan rumahnya dekat dengan rumah mertua saya. Waktu itu kami mampir sekitar jam 19 malam dan sekalian jalan untuk kembali ke Bantul. Untung saja kami boleh membawa pulang legondo. Meskipun masih mentah, belum di masak, tapi tidak masalah. Kami beli 30 ribu, dan dikasih 33 buah legondo. Murah bingit.

Padahal nih kalau dihitung-hitung secara bisnis, jelas keuntungan bisnisnya sedikit sekali. Katakanlah sebuah legondo dihargai seribu rupiah. Padahal legondo itu dibuat dari beras ketan dengan campuran kelapa yang diparut. Lalu dibungkus pakai daun aren yang panjangnya sekitar satu meter. Beras itu dibebat dengan daun aren lalu diikat pakai tali bambu.

Di daerah lain mungkin legondo dibungkus pakai janur atau daun pisang. Tetapi di Gunungkidul beda, dibungkus pakai daun aren. Bayangin, nyarinya saja susah. Belum lagi hitungan harga beras ketan dan biaya mengolahnya. Bagaimana bisa sebuah legondo dihargai seribu rupiah?

Mungkin kami bisa dapat harga murah karena legondonya masih mentah, belum dimasak. Tapi tetap saja untuk hitungan ekonomis sekelas jajanan tradisional langka seperti itu, seharusnya bisa dihargai lebih mahal.

Kami sampai di rumah, di Bantul pukul 21.30 malam. Lelah dan rada ngantuk. Tetapi masih pengin merasakan nikmatnya legondo. Akhirnya legondo itu kami masak.

Kami tata legondo di panci, kami susun berdiri memenuhi dasar panci. Lalu kami isi dengan air hingga lima sentimeter di atas legondo. Kecukupan air ini sangat berpengaruh terhadap matang tidaknya legondo yang kita masak. Nah, setelah itu kami nyalakan kompor dan menaruh panci yang berisi legondo di atas api.

Setelah lima belas menit, istri saya memastikan kematangan legondo. Setelah dicicip, kemudian kompor dimatikan. Legondo-legondo itu kami keluarkan dari panci dan ditiriskan di sebuah tampah. Sampai tahap ini sebenarnya legondo sudah bisa dinikmati, tapi jika ingin hasil yang lebih sempurna bisa dilanjutkan dengan mengukusnya.

Legondo itu kami biarkan diatas tampah hingga keesokan paginya. Sempet nyicipin satu, kami makan berdua. Rasanya beneran maknyuz. Yang jelas enggak ada rasa micin di dalamnya.

Istri saya bangun sebelum subuh dan mengukus legondo yang sudah direbus malam harinya. Proses mengukus kurang lebih sekitar lima menit. Setelah itu legondo akan terasa lebih kenyal dan super maknyus. Serius. Pagi itu bukan hanya kami yang menikmati nikmatnya legondo. Beberapa tetangga kami bagi untuk merasakan makanan jadul yang hanya bisa dinikmati setahun sekali itu. Apa komentar mereka? "Enak banget, Bu Seno. Kapan-kapan bawain lagi, ya?" Alhamdulillah.

Kira-kira di zaman now, restoran mana yang bisa menyajikan menu legondo yang kayak gini ya? Uwew....

No comments

Terima kasih sudah berkunjung ke Blog saya. Silakan tinggalkan komentar dan share artikelnya. Jabat erat.