Mata Pisau yang Siap Menikam Perawat

Sumber gambar: fokusmetrosulbar.com

Mata Pisau yang Siap Menikam Perawat - Di satu pagi, sirine ambulan meraung di depan IGD salah satu RS Entah. Roda ambulan berhenti, pintu depan terbuka, seorang berseragam putih dan sopir ambulan bergegas membuka pintu belakang. Sebuah brankard dimuntahkan dari perut ambulan itu. Seorang lelaki terkapar diatas brankard bersimbah darah diwajahnya. Tak bersuara. Hanya diam mengikuti kemana para petugas berseragam putih membawanya. Mungkin saja akan ada mata pisau yang siap menikam perawat saat itu.

Sesaat kemudian lelaki itu sudah terbaring di tempat tidur ruang IGD, setelah beberapa orang perawat memindahkan lelaki itu dari brankard, kemudian bergegas memeriksa tingkat kesadaran lelaki itu. Jelas tak ada respon.

"Nadi tak teraba, lakukan resusitasi"

"Baik, Dokter.." seorang perawat menyambut perintah dokter dengan mengambil posisi disamping kanan pasien. Tepat digaris lurus kedua bahu lelaki yang terkapar itu, perawat mengambil posisi menggencet dada lelaki itu dengan kedua lengannya.

"satu, dua, tiga..." suara perawat itu menghitung satu demi satu ketika ia jatuhkan berat badannya didada lelaki itu. Pada hentakan pertama, tulang dada lelaki itu seperti remuk menyuara. Tapi sedikitpun lelaki itu tak menunjukkan rasa sakit. Dia bahkan seperti tertidur pulas dengan mimpi yang memabukkan.

Setelah hitungan ketiga puluh, perawat itu berhenti dari gerakannya. Berhenti menghitung. Kemudian teman perawat yang berseragam putih itu memompa sebuah alat yang terhubung dengan tabung oksigen. Tak lama kemudian.. Lelaki yang terkapar itu tak bernyawa. Meski beberapa orang perawat dan dokter telah mengerahkan ilmu yang mereka punya, tak ada yang bisa menghentikan kehendak-Nya. Mencabut nyawa lelaki ganteng yang bersimbah darah, setelah menabrakkan tubuhnya dibibir truck yang melaju cepat.

***

"Bambang, Anakku.." seorang ibu tergugu menangisi jasad putranya yang sudah dimakamkan beberapa saat yang lalu. Beberapa orang berbaju hitam mulai meninggalkan rumah ibu paruh baya itu. Disampingnya duduk seorang perempuan muda yang menjadi saksi pencabutan nyawa putranya. Perempuan muda itu begitu baik melapangkan bahunya untuk sandaran ibu yang tergugu.

"Ibu yang sabar, Bambang pasti sudah bahagia disisi-Nya, Bu."

"Apa Allah akan menerima umat-Nya yang mati karena bunuh diri?"

"Ibu.. Hanya Allah yang tahu jawaban pertanyaan ibu. Ketika Bambang sampai di rumah sakit kondisinya cukup parah, kami sudah berusaha menyelamatkannya. Dari keterangan orang yang membawa Bambang ke rumah sakit juga belum bisa memastikan kalau Bambang bunuh diri, Bu."

Di rumah itu hanya tinggal beberapa orang saja setelah para peziarah pulang ke rumah mereka masing-masing. Menyisakan ibu yang tergugu dan perempuan muda saksi kematian Bambang. Tak lama kemudian datang seorang lelaki yang melihat kejadian ketika Bambang menabrakkan dirinya dengan bibir truck yang melaju di jalan.

Lelaki itu membawa seorang temannya yang terlihat seperti pemain catur. Raut mukanya dingin dan tatapan matanya tajam. Beberapa kali matanya menusuk sudut-sudut rumah seperti sedang merekam adegan drama di otaknya. Kumis tipisnya serasi dengan potongan rambut klimis belah samping. Langkahnya tegap, terlihat intelek dengan busana rapi. Teka-teki selalu muncul dibenak orang-orang yang melihatnya. Apalagi dengan isi yang ada dalam koper yang selalu dibawanya.

Orang seperti ibu yang tergugu itu selalu menjadi ladang empuk bagi lelaki yang penuh teka-teki ini. Apalagi setelah ia mulai membuka percakapan dengan kalimat yang menikam.

"Maaf, Ibu.. Saya turut berbela sungkawa atas kejadian yang menimpa anak ibu. Kalau di ijinkan, saya ingin membantu ibu untuk menuntut keadilan atas meninggalnya anak ibu. Saya melihat ada kejanggalan prosedur penanganan di rumah sakit, yang sepertinya menyebabkan meninggalnya anak ibu."

***

Maaf, Gaes.. Ada yang bisa menangkap pesan dalam penggalan cerita diatas?

Akhir dari cerita diatas bisa berujung pada tiga hal. Yang pertama perawat masuk penjara, atau yang kedua Direktur rumah sakit yang masuk penjara, dan yang ketiga perawat dan Direktur selamat dari ancaman penjara. Poin kuncinya hanya satu, yakni REGULASI rumah sakit.

Perawat bisa masuk penjara jika melakukan prosedur yang tidak sesuai dengan yang ditetapkan rumah sakit (meskipun prosedur yang ditetapkan tidak sesuai dengan teori terkini). Akan sebaliknya, Direktur yang masuk penjara jika perawat sudah melaksanakan prosedur namun belum ada regulasi atau prosedur yang disahkan di rumah sakit. Atau bisa saja keduanya selamat jika regulasi atau prosedur sudah ada dan dijalankan oleh perawat sesuai dengan yang disahkan.

Jadi, adanya regulasi dalam sebuah instansi pelayanan itu vital. Seperti mata pisau yang siap menikam perawat. Jika perawat ndak mau tahu regulasi, ya siap-siap saja dengan konsekuensinya. Maka dari itu tim penyusun regulasi rumah sakit butuh SDM perawat sebagai tim perumus, karena yang paling paham ilmu keperawatan kan perawat.

Kalau para perawat tidak mau dipersulit dengan prosedur di rumah sakit, ya sebaiknya melibatkan diri dalam penyusunan regulasi di rumah sakit. Jadi apa yang ditetapkan di regulasi sesuai dengan apa yang menjadi tugas kita sebagai perawat. Kurang lebihnya begitulah, Gaes...

Tulisan ini hanya sebagai pengantar saja sebelum kita sharing tentang cara pembuatan regulasi. Biar nantinya kita sebagai perawat juga punya peran vital dalam pengorganisasian rumah sakit. Semangat, Gaes.. Tetaplah yakin, perawat itu seperti malaikat.

Previous
Next Post »

Terima kasih sudah berkunjung ke Blog saya. Saya harap tidak meninggalkan komentar yang memicu konflik dan mengandung URL aktif. Jabat erat. ConversionConversion EmoticonEmoticon