Menjadi Penulis Karena Hidup Yang Membosankan

Sumber gambar: hipwee


Menjadi Penulis Karena Hidup Yang Membosankan - "Bagi saya, hidup ini membosankan. Saya tipe orang yang takut berinteraksi dengan orang lain. Bahkan dengan keluarga saya sendiri, saya jarang berkomunikasi. Satu-satunya orang dalam keluarga saya yang sering saya ajak ngomong adalah nenek saya." Ungkap seorang pencipta puisi AADC, M. Aan Mansyur.

Beruntung sekali saat itu saya menjadi bagian dari 400 tamu undangan ultah kampusfiksi yang ke tiga. Sehingga saya bisa mendengar langsung sharing kepenulisan dari penulis-penulis keren, seperti M. Aan Mansyur.

Saya agak terkejut ketika mendengar Mas Aan bercerita tentang masa kecilnya, latar belakang keluarganya, hingga perjalanan hidup sampai bisa menjadi penulis kondang. Menurut saya, Mas Aan Mansyur ini memiliki kepribadian yang unik. Beliau jarang berinteraksi, bahkan dengan keluarganya. Hingga kemudian beliau menggunakan puisi sebagai alat komunikasi dengan ibunya.

"Kadang ibu saya telepon, menanyakan 'apa kamu sudah gak nulis puisi lagi?' Saya tahu ibu sedang kangen sama saya. Biasanya saya bacakan puisi saya, lewat telepon. Begitulah saya. Puisi menjadi alat komunikasi saya dengan ibu." Aan Mansyur menceritakan.

Cerita Mas Aan Mansyur ini menambah deretan bayangan di otak saya tentang sekian banyaknya penulis yang ternyata punya latar belakang yang unik atau bisa dibilang istimewa. Banyak sekali justru dari mereka dulunya bukan siapa-siapa, bahkan hidupnya serba sulit kemudian menjadi sosok yang istimewa. Kondisi-kondisi yang rumit terkadang bisa menjadi motivasi kuat untuk merubah menjadi lebih baik. Termasuk hal-hal membosankan yang memaksa untuk segera menghadirkan perubahan.

Belajar dari Mas Aan Mansyur, bahwa menulis itu bukan karena kita ingin jadi penulis. Beliau dulu terpaksa menulis karena ingin membaca. Beliau di paksa oleh kakeknya untuk menulis jika ingin membaca buku-buku milik kakeknya. Beliau menulis karena ingin lebih banyak membaca. Beliau membaca untuk lebih tahu tentang banyak hal. Bukan membaca karena ingin jadi penulis.

Jadi, mari perbaiki niat kita, eh saya ding.. Membaca bukan untuk keinginan menjadi penulis. Melainkan agar kita lebih tahu akan banyak hal. Jangan sampai muncul kesombongan karena kita merasa paling tahu tentang semua hal sehingga enggan membaca. Karena ternyata dengan membaca kita akan tahu bahwa sebenarnya kita ini tidak tahu apa-apa alias masih bodoh.

Nasehat ini khusus saya tulis untuk diri saya sendiri. Karena terlambat menyadari bahwa saya butuh membaca. Saya ikhlaskan 29 tahun berlalu dengan kesombongan dan kebodohan karena tak suka membaca. Terima kasih.



Previous
Next Post »

Terima kasih sudah berkunjung ke Blog saya. Saya harap tidak meninggalkan komentar yang memicu konflik dan mengandung URL aktif. Jabat erat. ConversionConversion EmoticonEmoticon