Maaf, Aku Perawat, Bukan Dokter!

Share:
Sumber gambar: jurnal.mensrepublic.id

Pernah suatu kali aku - perawat - dipanggil dengan sebutan dokter oleh seseorang. Nggak hanya sekali, bahkan beberapa kali kejadian seperti ini aku temui. Bukan karena tampang yang mirip dokter, mungkin lebih kepada ketidakjelasan sekat antara pekerjaan seorang dokter dengan perawat. Hal itu yang terjadi di lingkungan masyarakat awam. Ketika melihat seseorang aktif dalam kegiatan pengobatan, banyak orang awam yang menyangka mereka dokter. Dan ketika aku jawab, "maaf, aku perawat, bukan dokter."

Orang-orang itu sebagaian besar menjawab, "Ohh.." begitu saja, Gaes.. Jawaban 'ohh..' itu rasanya gimana, gitu. Kayak ada sedikit feel meremehkan perawat. 

Sebenarnya perawat ini layak nggak sih di sebut profesi? Pasti layak, iya kan? 

Permasalahannya, sudah sejauh mana kita sebagai perawat berusaha menjadi profesional? Sehingga nantinya layak di sebut sebagai sebuah profesi, setara dengan profesi dokter. 

Menurut Direktur Keperawatan BUK Kemenkes RI, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, antara lain:

1. Legalisasi Praktik Keperawatan

Untuk sebuah profesi, jelas legalisasi menjadi syarat mutlak dalam pelaksanaan tugas dan tanggung jawab profesi. Dikatakan sebagai perawat jika seseorang telah dinyatakan lulus pendidikan akademik dan dibuktikan dengan ijazah. Namun untuk bisa melaksanakan tugas dan tanggung jawab, tidak cukup hanya dengan ijazah saja, melainkan harus ada surat tanda registrasi (STR) dan surat ijin kerja (SIK) atau surat ijin praktik keperawatan (SIPP). 

Kalau perawat bekerja dalam suatu fasilitas pelayanan kesehatan minimal harus punya STR dan SIK sebagai syarat legalnya. Namun jika seorang perawat melakukan praktik mandiri, maka cukup dengan STF dan SIPP. Penuhi ini dan jangan modal nekat doang. 

2. Harus Ada Kejelasan Profesi Perawat

Dalam undang-undang keperawatan, yang di sebut sebagai perawat adalah perawat vokasi (lulusan D3 keperawatan), dan peeawat profesi (lulusan ners). Namun dalam Peraturan Menteri Kesehatan tentang komite keperawatan disebutkan bahwa yang disebut tenaga keperawatan adalah tenaga perawat dan bidan. Lalu bagaimana dengan perawat lulusan SMK atau SPK? Kalau kiblatnya adalah regulasi pemerintah diatas, maka lulusan SMK atau SPK bukan tenaga keperawatan. Mereka disebut asisten perawat. Karena seharusnya jika perawat di pandang sebagai sebuah profesi, maka ada standar profesi yang harus dijalankan. 

3. Metode Layanan Asuhan Keperawatan Di Rumah Sakit

Hal ini kaitannya dengan mefode asuhan keperawatan yang diterapkan di rumah sakit. Jika ingin menunjukkan profesionalisme, seharusnya perawat menjalankan metode asuhan perawat primer di rumah sakit, bukan metode fungsional yang cenderung bergantung pada rutinitas sehari-hari. Bisa dibilang pelayanan asuhan keperawatan di rumah sakit saat ini sudah terjebak ke dalam metode asuhan fungsional, yang secara tak langsung membuat perawat dipandang sebagai asisten dokter. Karena metode fungsional ini tugas perawat lebih dominan sebagai pelaksana advis dokter. Perlu ada perubahan paradigma terkait dengan sistem pemberian asuhan keperawatan di rumah sakit. 

Tentunya untuk menerapkan hal ini butuh dukungan dari manajemen rumah sakit dan kompetensi perawat yang cukup atau yang memadai. Karena ketika manajemen menerapkan metode asuhan keperawatan primer, konsekuensinya adalah harus menyediakan SDM perawat yang kompeten sebagai perawat primer. 

Sebagai perawat, kita nggak boleh diam saja. Kita juga harus terus mengembangkan diri untuk meningkatkan kompetensi sebagai perawat primer. Lha kalau hanya pasrah begini saja, ya nggak akan berkembang. Kita harus move on, Gaes. 

4. Praktik Mandiri Keperawatan

Ini gongnya, Gaes. Semakin banyak perawat yang praktik mandiri, semakin cepat profesi perawat diakui. Sampai kapan perawat menjadi pekerja di rumah sakit? Seharusnya perawat sudah mencita-citakan dalam hidupnya untuk bisa praktik mandiri, bahkan kalau perlu sejak pertama kali bu guru nanya cita-citamu. 

Kurang lebih begitulah cara agar perawat diakui profesional oleh masyarakat dan juga profesi lain. Informasi ini aku dapat dari seminar patient safety yang diselenggarakan oleh PERSI di JCC tanggal 22 Oktober 2015. Mungkin masih banyak materi yang belum aku jabarkan dipostingan ini. Oleh karena itu diskusi dan saran kritik akan selalu aku harapkan menjadi pengaya pengetahuan. 

No comments

Terima kasih sudah berkunjung ke Blog saya. Saya harap tidak meninggalkan komentar yang memicu konflik dan mengandung URL aktif. Jabat erat.