Kepompong dan Ulat yang Jadi Santapan di Gunungkidul

Share:
Sekelompok kepompong dan ulat kipat. 

Kepompong dan Ulat yang Jadi Santapan di Gunungkidul - Mungkin kita sudah familiar dengan belalang goreng atau jangkrik goreng yang jadi camilan. Tapi pernahkah terbayang jika kepompong dan ulat pun jadi santapan? Hehe ....

Baru dengar namanya saja bikin merinding.
Bagi yang phobia dan jijik dengan kedua makhluk itu sebaiknya jangan coba-coba. Apalagi punya riwayat alergi serangga, beuh bisa jadi masalah.

Serius, ini pengalaman pribadi saya yang punya jodoh orang Gunungkidul. Betapa wonderfull-nya Gunungkidul hingga memberi pengalaman unik tentang alam dan kulinernya.

Dulu, sekira delapan tahun yang lalu ketika saya menapakkan kaki di Gunungkidul, di rumah mertua saya, kuliner ekstrim itu mulai menjamah hidup saya. Belalang goreng, gareng pung, ungker atau sejenis kepompong, dan jenis serangga lainnya diolah jadi lauk untuk makan. Iya, disajikan bersama dengan sepiring nasi, sambal, dan sayuran.

Mengupas kepompong dari selimutnya
Awalnya sih ragu untuk memakannya, tapi akhirnya sanggup menelan juga. Haha .... Enggak mungkin kan saya menolak suguhan? Takut nyakitin hati mertua. Ya, sebenarnya sih enggak apa-apa juga kalau enggak dimakan.

Icip-icip sedikit karena diledekin adik ipar, lama-lama ikutan makan. Haha....

Beruntung juga waktu itu diajak adik ipar menangkap gareng pung. Pakai galah yang ujungnya dikasi perekat. Bisa pakai lem atau getah pohon nangka. Ternyata enggak mudah. Baru beberapa saat, leher saya rasanya pegal-pegal. Karena harus mendongak ke atas sambil menahan galah dan menjerat sayap gareng pung dengan ujung galah. Butuh kesabaran, kejelian, kehati-hatian dan semangat juang yang tinggi. Bayangin saja kalau berburu model begitu dilakukan siang hari, pas terik matahari sedang cetar-cetarnya. Uwow.
Kepompong yang baru diambil dari pohon

Entah bisa disebut beruntung atau enggak ketika disuguhi kepompong dan ulat goreng. Hihihi ....

Di Gunungkidul menu ini bukan sesuatu yang ekstrim. Biasa saja. Memang kalau disajikan ke orang di luar Gunungkidul, jelas merasa ini sebentuk makanan ekstrim. Karena jarang menemui menu macam ini.

Hampir di setiap musim ketika para serangga dan ulat sedang banyak, warga Gunungkidul mengolahnya menjadi lauk atau sekadar camilan. Di musim panas misalnya, banyak belalang yang digoreng atau dibacem. Menjelang musim hujan, banyak ulat dan kepompong yang diburu untuk dimasak. Entah dulu siapa yang memulai tradisi memakan makanan ekstrim seperti ini.

Sampai sekarang, hal semacam ini masih sering ditemukan di Gunungkidul. Orang berburu belalang, gareng pung, ulat, kepompong, kemudian dimasak.

Biasanya ulat yang mereka masak adalah jenis ulat joar, ulat jati, ulat jedung, dan ulat kipat. Mereka bisa diburu di daun-daun yang biasa mereka hinggapi.

Ukuran ulat joar dan ulat jati cenderung kecil. Kira-kira sebesar pangkal lidi. Sedangkan ulat kipat, biasanya sebesar batang pupen, berwarna hitam ada garis merahnya dan berbulu lebat. Paling sering ditemukan di daun alpukat dan ketela. Berbeda dengan ulat jedung yang ukurannya bisa sampai sebesar jempol kaki. Berwarna hijau dan dipunggungnya menjuntai antena-antena mirip sungut alien. Kalau enggak biasa main sama ulat ini, kadang sekali melihat bisa mimpi buruk selama tujuh malam. Haha....

Kepompong yang masih terbungkus dan yang sudah dikupas
Kalau yang bentuknya kepompong, enggak tertalu seram. Malah agak lucu karena bisa buat mainan. Biasanya anak-anak suka bermain dengan menanyakan arah, "mana utara, mana selatan." Lucu, kan?

Sebelum dimasak, biasanya kepompong yang masih terbungkus benang-benang halus mesti dibebaskan dulu. Digunting sarangnya, kemudian dikeluarkan dari dalam sarang. Namun, tidak semua kepompong ulat terbungkus benang-benang seperti ini. Kebanyakan hanya bergelantungan di daun, atau terbuntal oleh daun. Sehingga lebih mudah untuk mengolahnya.

Bagaimana dengan bumbunya? Hehe .... Ini rahasia dapur Mama. Kalau mau tau resepnya, mainlah ke Gunungkidul. Atau menikah saja dengan orang Gunungkidul. Cewek-cewek di sana pintar masak. Hehehe....
 
Udah, ah. Kayaknya sudah cukup bikin merinding baca tulisan ini. Kalau mau icip-icip, bolehlah main ke Gunungkidul. Minimal makanlah nasi merah atau nasi thiwul dengan sayur lombok ijonya yang maknyus.
Semoga otak kalian tercerahkan. Bahwa apa yang kita pikir mengerikan, kadang terasa nikmat di lidah orang lain. Juga sebaliknya, apa yang kita anggap nikmat, belum tentu enak buat orang lain.

No comments

Terima kasih sudah berkunjung ke Blog saya. Saya harap tidak meninggalkan komentar yang memicu konflik dan mengandung URL aktif. Jabat erat.