Urip Mung Mampir Ngopi, Maka Jalani Nikmati Syukuri [Sebuah Resensi]

Share:


Buku Jalani Nikmati Syukuri, Karya Dwi Suwiknyo
Urip Mung Mampir Ngopi, Maka Jalani, Nikmati, Syukuri - Ada seseorang yang hidupnya selalu tampak bahagia. Rumah tangganya harmonis, akur dengan saudara, pun silaturahim antarorangtua sangat hangat. Pokoknya hampir tak pernah terlihat ada masalah. Sampai-sampai dengan bangga orangtuanya menjadikan mereka sebagai panutan. "Lihatlah anakku. Seharusnya orang berumah tangga, ya seperti itu. Akur, enggak pernah berantem." Tentu hal itu hanyalah persepsi dari sudut pandang orangtuanya. Berdasarkan penilaian subjektif saja, tapi apa kita tahu pandangan orang di luar sana?

Setiap orang sangat berharap bisa hidup bahagia. Kalau kita tanya, pasti akan lebih memilih bahagia daripada sengsara. Kalau pun ada yang memilih sengsara, barangkali ada gangguan jiwa atau memang dengan cara itulah mereka bahagia. Semacam membatasi diri dari kesenangan-kesenangan dunia untuk memperoleh kebahagiaan batin. Semacam laku spiritual yang dilakukan aliran kepercayaan atau keyakinan tertentu. Terlepas dari hal itu, saya sepakat bahwa kebahagiaan sering kali menjadi tujuan hidup seseorang.

Patut kita ingat bersama bahwa, tidak selamanya kebahagiaan itu melekat dalam hidup kita. Selama di dunia, kebahagiaan akan hadir bergantian dengan kesengsaraan. Meskipun kita meraihnya dengan susah payah, ibaratnya sampai menangis darah. Karena begitulah kehidupan di dunia. Tentu saja berbeda dengan kehidupan di surga yang penghuninya senantiasa dibahagiakan tanpa ada batas akhir. Alias abadi.

Saya ibaratkan hidup ini seperti sedang singgah minum kopi. Kenikmatannya hanya sesaat saja. Kenikmatan dari aromanya, kehangatannya, manisnya, pahitnya, hingga kesempatan menikmati waktu luang ketika meminumnya. Jika kita ingin kenikmatan yang lebih banyak, tentu saja kita harus mau mengenal kopi itu sendiri. Tentang jenisnya, sifatnya, zat yang terkandung di dalamnya, manfaat buat diri kita, dan lain sebagainya. Sehingga pencarian kita terhadap esensi sebuah kopi bisa mendalam dan benar-benar bermanfaat. Begitulah kebahagiaan. Tidak cukup hanya sekadar diharapkan atau dirasakan, tapi kita harus mengupasnya hingga memahami apa esensi yang ada di dalamnya. Hingga kemudian paham betul bagaimana cara untuk meraih kebahagiaan yang kita harapkan. Juga bagaimana caranya membagi kebahagiaan itu bersama orang lain.

Kita bisa saja berharap selalu hidup bahagia, lalu mati-matian berjuang meraihnya. Namun, juga harus selalu ingat bahwa apa yang akan didapatkan adalah sebatas yang menjadi hak kita. Sekeras apapun upaya untuk mendapatkan, jika hal itu bukan hak kita, pasti tidak akan jadi milik kita. Perjuangan tidak selalu berhasil seperti target dan harapan yang telah kita tetapkan. Oleh karena itu sisakan ruang di dalam hati untuk menampung rasa kecewa.

"Bersiaplah. Bertawakkal sedari awal. Sebab selalu ada celah untuk kita kecewa. Sekali lagi, meskipun itu hak kita. Benar sekali bahwa rezeki itu tidak bakal tertukar, tetapi bukan itu masalahnya. Ini hanya masalah bagaimana cara kita mengelola rasa bahagia pada sesuatu yang belum (atau baru akan) kita alami." (Jalani, Nikmati, Syukuri halaman 43)

Testimoni pembaca buku Jalani Nikmati Syukuri

Karena rasa kecewa itu ada dan tidak tentu datangnya, maka kita harus belajar menerima, melepaskan, lalu belajar bahagia. Memendam rasa kecewa terlalu lama hanya akan membebani diri kita. Membuat gelisah, bahkan efek parah yang bisa saja terjadi adalah menyalahkan Allah yang telah menetapkan takdir hidup kita. Harusnya hal ini tidak akan terjadi kalau kita yakin bahwa Allah selalu punya kejutan untuk kita.

Dulu saya ingin sekali menjadi seniman, tapi orangtua melarang. Tentu saja saya kecewa, karena merasa yakin bakal gagal mewujudkan impian dan harapan sebagai seniman. Saya jadi malas sekolah, malas kuliah, dan hal-hal lainnya. Karena saat itu saya memang sudah merasa setengah hati menjalaninya. 

Dulu saya pikir jadi seniman akan bisa membuat hidup saya bahagia. Karena waktu itu saya suka sekali dan hobi menggambar. saya merasa bakat saya di situ. Sehingga keinginan untuk jadi seniman kuat sekali. Bahkan saya sangat yakin kelak saya akan jadi seniman terkenal.

Namun, harapan itu pupus setelah Bapak saya bilang, "Apa anakmu besok mau kamu kasih makan gambar?" Saya tidak bisa membantah kehendak orangtua saya. Karena ternyata mereka punya pandangan lain tentang masa depan anaknya. Iya, mereka ingin saya jadi petugas kesehatan. Kata Bapak, di masa depan profesi inilah yang bakal dicari dan bisa menghidupi saya dan keluarga. 

Sepertinya ini bukan semata-mata harapan biasa. Mengingat waktu kecil dulu saya pernah jadi korban malpraktek. Saya sakit tidak bisa kencing, lalu mantri bilang, saya kena penyakit kencing batu dan harus segera dioperasi. Tentu saja orangtua saya panik mendengar hal ini. Dalam kondisi miskin, tidak paham ilmu medis, akhirnya orangtua saya manut saja. Hari itu saat usia saya lima tahun, akhirnya dilarikan ke rumah sakit kota Banyuwangi untuk menjalani operasi. Hasilnya nihil. Tidak ditemukan penyakit di dalam perut saya seperti yang disangkakan si mantri. 
Testimoni pembaca buku Jalani Nikmati Syukuri

Saya menangkap ada kemarahan yang dipendam dalam hati orangtua saya. "Kelak kamu harus bisa jadi orang kesehatan," kata Bapak sewaktu menemani saya jalan-jalan di lorong rumah sakit, saat menjalani masa perawatan. Tidak bisa saya bayangkan bagaimana kerasnya upaya orangtua saya merawat, mendidik, menyekolahkan, hingga saya benar-benar diterima kuliah jurusan kesehatan di Yogyakarta.

Saya kuliah jurusan keperawatan, lalu bekerja di rumah sakit sebagai petugas kesehatan. Sampai di sini saya mulai memahami bentuk masa depan seperti apa yang dulu pernah diharapkan orang tua saya. Hal ini mulai saya sadari setelah sekian lama berinteraksi dengan pasien-pasien di rumah sakit. Begitu juga ketika orang tua saya jatuh sakit, sayalah orang yang dimintai pendapat dalam mengambil keputusan terbaik untuk masalah kesehatan mereka. Saya merasa bersyukur Allah menjadikan profesi yang saya jalani bisa berguna bagi orang lain. Juga bisa membuat saya lebih dekat dengan orangtua saya.

Rasanya saya tidak perlu lagi menyesali kegagalan menjadi seniman. Saatnya saya memberikan bakti saya kepada orangtua, juga orang lain yang membutuhkan jasa saya sebagai petugas kesehatan. Tidak hanya terbatas lingkup keprofesian saja. Apa pun yang saya mampu, akan saya usahakan untuk bisa membantu orang lain. Karena saya merasa bahagia ketika bisa membantu orang lain. Saya pikir untuk hal itu, tidak penting saya harus menjadi seniman atau profesi lainnya. Cukup menjadi diri saya sendiri dan berusaha memberi nilai lebih pada diri saya.

"Sekecil apa pun aktivitas kita, pastikan kita tahu bahwa yang kita kerjakan itu tidak hanya bermanfaat untuk diri kita sendiri, tentu juga ada manfaatnya bagi orang lain."  (Jalani, Nikmati, Syukuri halaman 76)

Maka jangan heran kalau beberapa aktivitas yang saya lakukan tidak melulu berkaitan dengan profesi perawat. Saya tetap jadi perawat, tetap karyawan rumah sakit, tapi saya juga bantu orang mengelola website, ikut kegiatan ronda, jualan buku, dan lain-lain. Apa pun yang mampu saya lakukan, selama bermanfaat, ya akan saya kerjakan. Susah senang pasti ada. Karena itu bagian dari proses kehidupan. Saya tidak bisa menuntut kepada Allah untuk memberi saya yang enak-enak saja. Menolak yang bikin sengsara. Langkah terbaik yang harus saya lakukan adalah menikmati setiap detik episode kehidupan yang saya jalani.

"Hidup ini bukan lomba lari, tapi lomba berbagi. Yang berharga bukan seberapa cepat kita meraih impian, tapi seberapa banyak manfaat yang bisa kita berikan kepada orang lain saat impian tersebut akhirnya terwujud." (Jalani, Nikmati, Syukuri halaman 109)

Ada kejadian menarik yang akhir-akhir ini saya alami. Di tempat kerja saya sedang musim resign. Beberapa teman kerja saya beramai-ramai berencana resign. Beberapa orang yang tidak bisa resign, berencana mundur dari jabatan struktural. Bahkan, teman-teman saya di luar sana juga ternyata banyak memilih mencari rezeki secara independen. Alias tidak terikat sistem kerja perusahaan. Mereka bersolo karir menghidupi keluarga mereka sendiri. Saya sempat merasa iri ketika melihat mereka yang bisa independen seperti itu. Rasanya ingin ikut jejak mereka. Namun, sampai saat ini masih saya tahan.
Testimoni pembaca buku Jalani Nikmati Syukuri

Di luar pekerjaan utama saya, banyak sekali peluang-peluang yang datang menggoda. Menawarkan tambahan penghasilan bahkan kalau dihitung-hitung bisa lebih besar dari gaji pokok saya di perusahaan. Sampai-sampai istri saya bilang, "Kenapa enggak dari dulu-dulu, Pak? Sekarang kita banyak tertolong dari hasil jenengan nulis dan ngeblog."

Jujur saja, saya suka dengan tawaran-tawaran yang datang. Tawaran proyek blog, website, menulis konten, menulis buku, dan lain sebagainya. Misalkan saya nekat menerima tawaran itu semua, mungkin pendapatan saya bakalan melebihi gaji pokok saya. Tetapi sampai saat ini saya belum memutuskan untuk menerima semua tawaran itu.

Apa saya akan resign juga menyusul teman-teman? Hehe ... Biarkan semua ini tetap menjadi misteri. Karena saya yakin Allah selalu punya kejutan untuk hamba-Nya. Saya masih merasa takut jika terlalu sibuk justru menjauhkan diri saya dengan Allah.

Bagi saya, urip mung mampir ngopi, sangat sebentar sekali jika dibanding dengan periode waktu di akhirat. Sedangkan apa yang kita lakukan di dunia akan menjadi bekal hidup di akhirat. Sangat rugi jika seenak udel kita sendiri. Jangan berlarut-larut menyesali keterpurukan kita. Jangan pula terlalu bangga atas pujian yang kita terima. Apalagi terlena menyaksikan kebahagiaan orang lain. 

Apa yang sudah terjadi di masa lalu dalam hidup saya, cukup saya jadikan sebagai pengalaman. Tentu akan lebih bermanfaat jika ditempatkan sebagai pelecut motivasi agar bisa menjadi pribadi yang lebih baik. Apa pun yang Allah kasih sampai detik ini, saya syukuri. Tetap berprasangka baik, bahwa Allah Maha Baik dan akan selalu memberikan yang terbaik untuk hamba-Nya.

***

Apa yang ditulis Mas Dwi Suwiknyo dalam buku Jalani, Nikmati, Syukuri merupakan cerminan permasalahan yang sering kita hadapi sehari-hari. Lebih spesifik, buku ini menawarkan cara bagaimana kita menikmati hidup, memperoleh kebahagiaan yang kita harapkan. Saya pikir, beliau berhasil dalam hal ini.
Sumber gambar: Akun facebook Dwi Suwiknyo

Dari buku-buku Mas Dwi yang pernah saya baca, seperti Jangan Mudah Menyerah, Ubah Lelah Jadi Lillah, dan buku Jalani, Nikmati, Syukuri, saya menangkap bahwa beliau sangat jitu menembak hati pembaca. Saya rasa bukan hanya saya sendiri yang merasa demikian. Istri saya, teman-teman saya, dan beberapa testimoni pembaca pun merasa seperti itu. Seolah-olah dalam hati berkata, "Duh, ini aku banget." Ini bukti bahwa buku-buku Mas Dwi memang memiliki kekuatan khusus yang mungkin jarang kita temui di buku-buku lainnya.

Pernah saya iseng bertanya ke beliau, "Mas, bagaimana cara bikin tulisan yang bagus kayak di buku jenengan itu?"

Beliau bilang, "Jangan jauh-jauh dari kehidupan di sekitar kita. Juga pahami apa yang pembaca butuhkan."

Satu hal lagi yang selalu saya temukan di buku-buku karya Founder Trenlis,co ini adalah selalu menghadirkan sesuatu yang berbeda. Entah dari sisi teknik penulisannya, gaya penyampaiannya, konsep bukunya, dan lain sebagainya. Hal itu ternyata juga menjadi perhatian khusus beliau. Karena bagi Mas Dwi, seorang penulis harus terus naik level. Harus selalu ada kemajuan di setiap karyanya yang terbit. Bukan hanya soal asal terbit di penerbit mayor dan mendapat royalti, tapi lebih jauh dari itu. "Mencegah kebosanan pembaca terhadap karya kita adalah tantangan buat penulis buku," ungkap Mas Dwi.

Bahkan yang mencengangkan dan membuat saya harus introspeksi diri adalah pernyataan beliau yang menekankan bahwa, "Kualitas tulisan tercermin dari kualitas penulisnya." Artinya apa yang ditulis, selayaknya bukan hanya buah dari nalar penulisnya saja. Melainkan dari cerminan sikapnya, perilaku, dan idealisme yang ditunjukkan di kehidupan sehari-hari.

Membaca buku Jalani, Nikmati, Syukuri membuat saya introspeksi diri. Me-rewind episode-episode yang pernah tayang dalam kehidupan pribadi saya. Lalu memetakan plot-plot yang kemudian menjadi bahan dalam mengambil keputusan atas permasalahan yang sedang saya hadapi. Tentu saja saya tidak akan bosan membaca karya-karya Mas Dwi. Karena dari sana saya belajar banyak hal. Bukan hanya tentang hidup, tapi juga tentang cara menuangkan segala hal dalam bentuk tulisan. Saya rasa hal ini tidak jauh beda dengan yang dilakukan seniman. Sama-sama fokus menghasilkan karya. Gagal jadi seniman gambar, tidak ada salahnya jadi seniman tulisan, bukan?

Buku Jalani, Nikmati, Syukuri ini sangat saya rekomendasikan untuk dibaca. Serius. Selain penuh pesan yang bermanfaat, juga sangat enak dijadikan teman minum kopi. Hehe....

Judul Buku: Jalani, Nikmati, Syukuri
Penulis: Dwi Suwiknyo
Penerbit: Noktah (DIVA Press Group)
Cetakan: Pertama tahun 2018
ISBN: 978-602-50754-5-2
Ukuran: 14 x 20 cm
Halaman: 260 halaman
Harga: Rp. 70.000
Peresensi: Seno NS

No comments

Terima kasih sudah berkunjung ke Blog saya. Saya harap tidak meninggalkan komentar yang memicu konflik dan mengandung URL aktif. Jabat erat.