Karyawan: Akhirnya Saya Turun Jabatan

Sumber gambar: oranyenews.com

Kontras sekali dengan fenomena perpolitikan di Indonesia. Umumnya para pimpinan partai politik berlomba menduduki jabatan tertinggi. Tapi di salah satu perusahaan swasta beberapa manajernya sangat berharap bisa segera menanggalkan jabatan. Ini nyata. Barangkali akan menarik jika coba kita kupas sebagai bahan introspeksi.

Karyawan memang beda dengan tokoh politik. Mereka tidak diusung partai untuk bisa duduk pada jabatan tertinggi. Mereka juga tak harus keluarkan dana besar untuk kampanye. Tapi keduanya sama-sama butuh dukungan. Dukungan dari bawah, juga dari atas. Dalam arti ada dukungan dari rekan kerja, juga ada atasan yang memang menginginkan dia duduk di jabatan tertentu.

Sialnya adalah ketika dukungan itu hanya berdasarkan asal tunjuk saja, alias enggak ada orang lain yang mau mengajukan diri. Dukungan ada, tapi kemauan belum tentu. Jadi ketika si karyawan duduk di jabatan itu hanya sebatas pengisi kekosongan jabatan semata. Kondisi seperti ini bisa terjadi pada  perusahaan yang memiliki SDM terbatas dan tidak memiliki kualifikasi sesuai dengan standar. Namun tentu saja banyak perusahaan yang situasinya enggak seperti ini. Ini hanya gambaran kondisi pahitnya saja dalam proses promosi jabatan. Kita ambil situasi pahit ini sebagai ilustrasi kasusnya.

Karyawan yang jadi korban tunjuk seperti yang saya sebutkan di atas biasanya akan berusaha menunjukkan kemampuannya, tapi juga sangat labil terbawa suasana. Mudah goyah. "Salah siapa nunjuk saya? Udah tahu saya nggak kompeten juga masih maksa." Ending-nya ketika gagal menyelesaikan tugas, mudah menggerutu menyalahkan orang lain. 

Begitu labil ketika merasakan beban kerja yang semakin berat, tapi seolah gajinya tidak bertambah. Sudah bersabar sekian tahun ternyata daya belinya tetap sama. Bahkan semakin rendah karena harga-harga sudah pada naik, tapi penghasilannya stagnan. Akhirnya muncul angan-angan yang menawarkan alternatif kemakmuran di luar jalur sebagai karyawan.

Apa boleh buat, perut butuh makan. Anak-anak butuh piknik. Akhirnya dia coba cari tambahan penghasilan dari kegiatan yang bisa dikerjakan sambil menjalani status sebagai karyawan. Entah jualan online, bikin produk home industri, atau jual diri (menjual jasa keahlian yang dimiliki). Semua dicoba asal bisa bertahan hidup.

Ketika merasa sudah menemukan passion-nya, maka mulai timbullah rasa gamang menjalani perannya sebagai karyawan. Apalagi jika penghasilan di luar karyawan ternyata lebih besar dari gaji bulanan. Akibatnya performa kerjanya menurun. Kerja ya asal kerja saja. Menjalankan tugas semampunya lalu sudah. Perkara dinilai buruk ya silakan, kalau dicopot dari jabatan ya Alhamdulillah. Toh masih bisa cari duit dari jualan online. Kurang lebih begitulah.

Ingat teori Hirarki Maslow? Kebutuhan paling dasar yang ada dalam teori Maslow adalah kebutuhan fisiologi. Menurut Maslow, kebutuhan fisiologis seseorang harus terpenuhi dulu sebelum menjadikan kebutuhan diatasnya sebagai motivasi. Orang akan butuh rasa aman ketika sudah tercukupi kebutuhan pangannya. Orang butuh kasih sayang ketika sudah cukup merasa aman. Begitu seterusnya hingga sampai pada puncak kebutuhan tertingginya, yaitu aktualisasi diri. Namun, banyak teori-teori lain yang menganggap teori Maslow ini sudah enggak relevan. Hingga muncul teori Piramida terbalik. Yang menempatkan tahapan-tahapan kebutuhan Maslow dalam susunan terbalik. Yaitu menempatkan kebutuhan aktualisasi diri dalam urutan paling bawah, alias menjadi kebutuhan paling dasar.

Beberapa motivator dan Boss perusahaan sepertinya lebih cocok dengan teori Piramida terbalik ini. Menganggap karyawannya harus mengaktualisasikan diri mereka dalam bentuk kinerja yang baik, baru kemudian memperoleh upah yang layak. "Kalau mau kenyang, ya kerja yang bener." Sehingga penentuan besaran tunjangan biasanya akan disesuaikan dengan kinerja masing-masing karyawan. Yang kerjanya bagus, ya dapat tunjangan lebih banyak. Yang kerjaannya asal-asalan, ya mohon maaf. Kerjakan yang bener dulu baru dapat tunjangan sesuai yang ditetapkan.

Paling mengenaskan ketika situasi seperti ini menimpa karyawan yang susah beradaptasi dengan keadaan. Misalnya sudah bertahun-tahun menjabat, tapi belum juga mampu menyesuaikan dengan sistem kerja perusahaan. Sudah sering mendapat pengarahan, tapi tetap saja kesulitan menyelesaikan pekerjaan. Emang ada? Ada lah. Kan di awal tadi disebutkan bahwa penunjukan pejabat disini asal tunjuk. Belum tentu mau, karena kepepet keadaan. Perusahaan lagi butuh banget, meskipun kualifikasi belum sesuai. Maka risiko pejabat keteteran kerjaan karena susah beradaptasi pasti ada.

Ibaratnya si karyawan baru punya SIM C, tapi suruh mengendarai mobil truk. Yang susah bukan hanya si karyawan, Boss juga pasti mumet mengarahkan. Lalu solusinya bagaimana ini, Boss?

Mungkin bisa dicoba dengan memberikan pelatihan atau mengikutkan program pengembangan diri buat karyawan tersebut. Tentu yang spesifik sesuai bidang kerjaan dia. Biarkan dia fokus mendalami pekerjaan yang sesuai dengan keahliannya.

Kalau belum berhasil, bisa coba dilakukan rotasi atau mutasi. Barangkali posisinya nggak pas dengan keahlian yang dimiliki. Mungkin saja dia suka kerja di air, tapi ternyata salah ditempatkan di darat.

Kalau belum berhasil, bisa diganti dengan pejabat baru yang memang sengaja didatangkan dari luar karena kualifikasinya yang mumpuni. Ganti pejabat lama yang dianggap kurang berkontribusi maksimal dengan pejabat baru. Barangkali bisa mempercepat capaian tujuan organisasi.

Kalau belum berhasil, bisa coba introspeksi diri terkait dukungan fasilitas, sarana, atau sistem internal yang ada. Barangkali terlalu egois sehingga tidak pernah melibatkan karyawan dalam pengadaannya. Atau mungkin saja ada kendala komunikasi yang menghambat sistem kerja organisasi.

Kalau belum berhasil, barangkali perlu ditinjau lagi indikator kinerja yang dipakai. Mungkin terlalu tinggi standarnya, atau terlalu over jika dibandingkan dengan kualifikasi pejabat yang ada. Sehingga si pejabat tidak dihantui bayangan kemustahilan untuk mencapai reward yang dijanjikan. Kalau tahu karyawannya hanya punya SIM C, ya jangan nekat suruh ngendarai mobil pengangkut pasir.

Kalau belum berhasil, tandanya kita harus Sinau lebih dalam lagi. Mencoba lebih peka dan kritis terhadap keadaan. Bukankah kita senantiasa dianjurkan untuk belajar terus menerus?

Ok, Gaes. Jangan terlalu serius menanggapi tulisan ini. Ambil hikmah baiknya saja, jangan terpancing dengan hal buruknya. Kita sama-sama pernah ngerasain jadi karyawan. Tentu paham banget bagaimana pengaruh teori Maslow terhadap perut anak istri di rumah. Yang kita butuhkan adalah penghasilan dari jerih payah usaha yang kita lakukan sehari-hari. Jangan hanya berharap naik gaji, atau turun jabatan sedangkan kita tidak tahu dari mana isi perut bisa kita dapatkan. Tetap bersyukur dan berusaha. Semoga pilihan kita hari ini adalah yang terbaik untuk masa depan.
Newest
Previous
Next Post »

Terima kasih sudah berkunjung ke Blog saya. Saya harap tidak meninggalkan komentar yang memicu konflik dan mengandung URL aktif. Jabat erat. ConversionConversion EmoticonEmoticon