Jangan Baper, Ini Ritual Istri Saya Setiap Pagi

Keluarga saya saat ngadem di hutan pinus Mangunan.

Jangan Baper, Ini Ritual Istri Saya Setiap Pagi - Sebagian besar perawat memilih istri yang seprofesi atau minimal profesinya di bidang kesehatan sebagai teman hidupnya. Bisa lantaran kenal karena satu kampus, kenal di lahan praktek, atau dijodohin orang tua. Berbeda dengan saya, istri saya seorang seniman. Lahir dari keluarga seniman, bukan dari tenaga kesehatan seperti saya. Hehe…

Mungkin karena latar belakang keluarga istri saya itulah yang membuat hidup kami penuh dengan keindahan. #eeaaaa….

Dalam 24 jam setiap harinya, kecuali hari libur kerja, kurang lebih hanya 7 – 9 jam saja saya tidak membersamai istri saya. Karena saya harus ngantor, Gaes. Selebihnya saya habiskan waktu bersama istri dan anak saya. Kecuali kalau ada acara khusus tugas Negara misalnya, ya mau nggak mau harus berangkat. Bisa dibilang sebagian besar waktu saya ada untuk keluarga.

Ada sesuatu yang membuat istri saya menjadi sosok istimewa dalam hidup saya. Entah hal ini ada juga dalam diri orang lain atau nggak, yang jelas apa yang ditunjukkan dalam keseharian istri saya tidak kurang sebagai wujud baktinya kepada suami. Hal istimewa itu adalah totalitasnya menjalani peran sebagai istri sekaligus ibu bagi anak saya. Iya, semua istri pasti punya hal itu. Tapi mari simak bagaimana rutinitas istri saya setiap hari di rumah. Barangkali akan lebih mudah menangkap apa yang saya rasakan.
 
Dwiyanti, owner Salon Dianseno di Perum Trimulyo, Bantul, Yogyakarta
Kebiasaan istri saya adalah bangun jam 4 pagi. Mendahului saya dan anak saya untuk mengawali rutinitas sehari-hari. Begitu bangun, istri saya biasanya membereskan dapur dan ruangan-ruangan yang sebenarnya tidak terlalu berantakan. Karena sebelum tidur, biasanya sudah dia bereskan. Piring kotor, gelas, mainan anak yang berserakan, dll sudah rapi. Karena istri saya biasanya tidak bisa tidur kalau keadaan rumah berantakan.

Setelah beres-beres ruangan di subuh hari, istri saya sholat shubuh. Lalu dilanjutkan memasak untuk keperluan sarapan saya dan anak saya. Sembari memasak, dia menyiapkan kopi dan sepiring buah papaya untuk kami. Tugas saya adalah membangunkan anak dan memastikannya memakan buah yang disiapkan.

Selesai memasak, hidangan sarapan pagi kita santap bersama. Sesekali dia memastikan anak saya memakan menu sarapan secukup yang dia hidangkan. Begitu saya selesai sarapan, saya mandi, lalu disusul anak saya. Dan istri saya sudah hampir selesai menyapu rumah ketika anak saya selesai mandi.

Dia akan membantu anak saya mengenakan seragam sekolahnya. Menyisir rambutnya. Menyiapkan bawaan sekolahnya. Dan adegan yang paling saya suka adalah ketika kami telah siap berangkat (saya kerja dan anak saya sekolah), istri saya melakukan ritualnya.

Dia akan memeluk anak saya. Membisikkan nasehat, “Sena sekolah yang pintar ya, gak boleh rewel, gak boleh nakali temannya.” Masih dalam pelukan, mulut istri saya kemudian komat kamit membacakan ayat kursi. Setelah selesai, lalu istri saya mengajak anak saya saya berdo’a.

Dia akan memancing anak saya dengan kalimat, “ Semoga panjang U… (anak saya meneruskan, “mur..”), Sehat se… (“lalu…”), Ba… (“nyak rejekinya.”) aamiin…”

Baru kemudian pelukan dia lepas sambil menciup kedua pipi dan kening anak saya. Dia mengantar kami sampai pintu keluar, menyalami saya dan mencium kedua pipi saya. Ini ritual istri saya setiap pagi.
 
Istri saya bersama Wijasena saat perayaan hari Kartini
Belum cukup sampai disitu. Ketika kami berpamitan, sudah berada diatas motor, saya melihat bibir istri saya komat-kamit. Dia melepas kami dengan ayat kursi. Subhanallah. Saya melihat ritual istri saya ini bukan sesuatu yang dibuat-buat. Bukan hanya sekali dua kali, tapi setiap pagi saya bisa menikmatinya.

Entahlah, hal seperti ini terjadi juga di kehidupan tetangga atau tidak. Saya benar-benar bersyukur memiliki keluarga yang seperti ini. Dapat merasakan hal istimewa dalam hidup saya.


Ah, semoga secuil cerita kami di pagi hari tidak lantas membuat kalian baper. Hehe… siapapun bisa mewujudkan kebahagian dalam rumah tangga masing-masing. So, nikmati saja prosesnya.
Previous
Next Post »

Terima kasih sudah berkunjung ke Blog saya. Saya harap tidak meninggalkan komentar yang memicu konflik dan mengandung URL aktif. Jabat erat. ConversionConversion EmoticonEmoticon