Editor Bentang Pustaka: Inilah Cara Agar Naskah Cepat Direspon Penerbit Mayor

Editor bentang pustaka

Editor Bentang Pustaka: Inilah Cara Agar Naskah Cepat Direspon Penerbit Mayor - Ada yang lebih menggalaukan seorang penulis selain penundaan cairnya royalti, yaitu menunggu respon penerbit atas naskah yang dikirim. Maklum saja, karena sebanyak apapun naskah yang ditulis, dikirim ke penerbit, kalau tidak mendapat respon dan diterbitkan, tidak mungkin ada royalti cair. 

Perjuangan penulis buku sebenarnya tidak hanya berhenti setelah dia berhasil menutup draft naskahnya dengan kata "TAMAT," tapi masih berlanjut hingga masa yang tak ditentukan. Salah jika penulis kemudian berpikiran, "ah, kan ada editor yang akan memperbaiki naskah saya." Merampungkan naskah hanya sebagai bagian kecil proses kelahiran karya buku yang layak konsumsi publik. Masih ada proses editing, layout buku, pencetakan, dan lain sebagainya.

Dari semua proses yang harus dilewati sebuah naskah, saya rasa bagaimana membuat editor tertarik untuk merekomendasikan naskah adalah titik krusial kelahiran sebuah naskah. Kecuali naskah tersebut mau diterbitkan sendiri, tanpa melalui proses keredaksian yang ketat.

Sumber gambar: Redy Kuswanto
Sulitnya menembus penerbit mayor seringkali membuat penulis putus asa. Terutama penulis pemula yang mencoba mencari pengakuan atas karyanya. Hingga kemudian mereka memilih menerbitkan naskahnya secara indie. 

Wejangan menarik disampaikan oleh editor Bentang Pustaka saat acara Temu Penulis Yogyakarta tanggal 13 Agustus kemarin. Mas Adham berwejang, "penulis sebaiknya mencoba mengirimkan naskahnya ke penerbit mayor. Bukan untuk gaya-gayaan, tapi untuk mengukur kualitas karya. Karena penerbit mayor melakukan seleksi ketat pada setiap naskah yang masuk. Sehingga yang lahir dari penerbit mayor adalah karya yang berkualitas."

Karya yang berkualitas tidak selalu lahir dari penulis yang namanya sudah terkenal. Penulis pemula juga berpotensi melahirkan naskah berkualitas. Semua naskah yang masuk ke penerbit mayor diperlakukan sama. Ada proses seleksi. Meskipun pada situasi tertentu nama besar penulis menjadi poin tambah bagi sebuah naskah. Hal ini berkaitan dengan kodrat penerbit yang memang harus melihat sisi daya jual naskah yang akan diterbitkan. (Adham, di acara Temu Penulis Yogyakarta)

Bagaimana cara penulis agar naskahnya tembus penerbit mayor?
Mas Adham bilang, "naskah yang kalian kirim ke penerbit harus menarik perhatian editor. Karena editorlah yang akan mati-matian membela naskah kalian untuk bisa diterbitkan." Ini artinya seorang penulis harus paham bagaimana cara menarik perhatian editor jika ingin naskahnya terbit. Menarik perhatian bukan dalam arti bertindak norak lho ya, tapi dari sisi cara pengajuan naskah ke penerbit.

Suasana sharing tenu penulis yogyakarta
Nah, inilah cara menarik perhatian editor yang diulas Mas Adham kemarin.

1. Sertakan Sinopsis Utuh atau Outline

Ingat, Gaes... Editor gak punya banyak waktu untuk membaca seluruh naskah yang masuk ke penerbit. Mereka butuh uraian singkat yang bisa menunjukkan gambaran keseluruhan isi dari naskah. Mereka butuh sinopsis/outline yang dengan sekali baca bisa tahu gambaran isi naskah.

Menarik tidaknya tema naskah bisa tergambar disini. Dari sinopsis inilah editor akan melihat ide utama, kesesuaian tema, kesesusian dengan sasaran pembaca, dll. Juga kesesuaian tema dengan visi penerbit. Kalau editor tidak bisa mendapatkan gambaran isi naskah dari sinopsis, jangan harap naskah kalian akan diterbitkan.

2. Sertakan Keunggulan Naskah

Selling poin, atau biasa disebut daya jual atau nilai keunggulan yang menjadi jaminan bahwa naskah yang diajukan memang berbeda dari buku setema yang sudah ada. Kalau seorang penulis tidak tahu atau tidak bisa menunjukkan keunggulan naskah yang diajukan, maka jangan harap naskahnya diterbitkan penerbit mayor.

Keunggulan seperti apa yang harus ditunjukkan?
Bisa dari keunikan tema yang diangkat, karakter tokohnya, gaya penulisan, dan lain sebagainya. Semua itu seharusnya sudah dipikirkan oleh penulis sejak merancang konsep buku yang akan ditulis.

3. Sertakan CV Penulis

Curriculum Vittae penulis perlu disertakan untuk melihat latar belakang dan data personal penulis. Apakah sama dengan CV yang dikirim untuk melamar kerja? Hehe... Beda, poin-poin yang disampaikan di CV disini disesuaikan dengan kebutuhan naskah. Misalnya mencantumkan karya yang sudah dihasilkan, prestasi kepenulisan, dan lain sebagainya.

Minimal informasikan sesuatu tentang personal penulis. Akun media sosial atau url blog juga dapat disertakan sebagai bahan pertimbangan mbok menowo editor butuh data tambahan tentang sosok penulis.

4. Tunjukkan Attitude atau Etika yang Baik

Nah, attitude ini penting. Baik attitude yang ditunjukkan dalam kehidupan sehari-hari, bermedia sosial, maupun attitude terhadap pihak penerbit/editor. Misal nie, kita ngajuin naskah buku islami tentang berbakti kepada orang tua, tapi jika attitude kita sama sekali tidak menunjukkan sosok anak yang berbakti bagaimana editor yakin dengan naskah kita? Kualitas tulisan bakal diragukan. Lha wong yang nulis saja kelakuannya begitu.

Terkait attitude kepada editor/penerbit. Misalnya ketika mengirimkan naskah tentunya disertai surat pengantar. Atau beberapa paragraf basa-basi menjelaskan maksud pengiriman naskah. Apa jadinya kalau kita kirim naskah melalui email tapi tidak menyertakan ulasan pengantar di badan email? Penerima email pasti nggak akan tahu file apa yang masuk ke inbox email mereka.

Attitude bermedia sosial. Jika kita menulis buku islami, tentu akan sangat fatal jika perilaku bermedia sosial kita tidak mencerminkan sikap islami. Sering berujar kebencian misalnya, atau menulis status galau yang secara tak sadar menunjukkan bahwa kita tak benar-benar mengenal siapa Tuhan kita. Duh, jangan sampai ya, Gaes...

Ok, Gaes... Itulah tips bagaimana agar naskah kita bisa menembus penerbit mayor. Nah terkait cepat tidaknya respon penerbit tentu relatif. Ada yang sebulan, 3 bulan, atau bahkan tahunan. Semua tergantung kekuatan daya tarik naskah kita terhadap editor. Tapi ada nie cara agar naskah cepat mendapatkan respon penerbit mayor. Gak harus menunggu hitungan bulan. Manjur banget ini tips yang saya dapat dari editor Bentang Pustaka.

Apa tipsnya, Gaes?
Mudah banget. Cobalah membuat pengantar naskah yang bombastis. Bagaimana contoh pengantar yang bombastis? Perhatikan contoh pengantar di bawah ini: 

Selamat siang. Berikut saya kirimkan naskah buku yang saya tulis dengan susah payah selama 5 tahun. Ketika riset pun menghabiskan dana puluhan juta untuk mencari referensi dan data sebagai bahan tulisan. Saya yakin naskah ini akan best seller jika anda terbitkan.  

Satu hal lagi, saya tahu bahwa lama review naskah di penerbit anda sekitar 1 bulan. Maka saya harap setelah satu bulan anda sudah memberi kabar tentang bakal tetbitnya buku saya. Apabila lebih dari satu bulan tidak ada kabar dari anda, maka saya akan mengambil langkah hukum. Saya akan ajukan tuntutan bahwa anda telah memberikan informasi tidak benar terkait periode review naskah. Mohon diindahkan hal ini. Karena bapak saya punya akses ke penegak hukum. Terima kasih.

Hehe... Ketik surat tersebut di badan email. Di jamin gak sampe sebulan sejak pengiriman naskah akan mendapat respon penerbit mayor. Bahkan setelah selesai baca pengantar itu bakal langsung direspon. Iya, bukan respon penerimaan, tapi respon PENOLAKAN

Salam sukses, Gaes...

Previous
Next Post »

Terima kasih sudah berkunjung ke Blog saya. Saya harap tidak meninggalkan komentar yang memicu konflik dan mengandung URL aktif. Jabat erat. ConversionConversion EmoticonEmoticon