Blak-blakan Teknik Menyunting Naskah Oleh Pakar di Forum TPY

Sesi foto bersama peserta Temu Penulis Yogyakarta. Sumber Gambar: Redy Kuswanto



Blak-blakan Teknik Menyunting Naskah Oleh Pakar di Forum TPY - Belum genap dua bulan diselenggarakan, forum Temu Penulis Yogyakarta (TPY) resmi memulai proyek menulis perdananya. Tak tanggung-tanggung, para penulis buku produktif seperti Mas Dwi Suwiknyo, Redy Kuswanto, Mbak Kayla Mubara, terlibat dalam proyek ini. Satu tema yang lagi ngetrend tengah menjadi bidang garap selama dua minggu ke depan. Tentu saja ini bagian dari konsep awal yang direncanakan dari forum TPY.

"Kita mau bikin acara yang fokus pada ketemuan langsung. Ngumpul bareng, belajar bareng, berkarya bareng. Sengaja, terbuka untuk penulis dari berbagai genre. Memang tujuannya biar bisa saling sharing ilmu, nambah pengetahuan baru. Harapannya penulis tidak hanya tahu bagaimana cara menulis yang baik saja. Melainkan tahu bagaimana dapur penerbitan, pemasaran, keredaksian, marketing, dll." Ungkap Redy Kuswanto, penulis novel dan buku anak.

Pada pertemuan ketiga di Forum TPY kali ini membahas tentang sharing penulisan kisah true story dan teknik penyuntingan naskah. Pada sesi pertama dibuka dengan bedah cerpen karya anggota, Mbak Oky yang berjudul Bingkai Ke 7. Sebelum dibedah, file cerpen sudah dibagikan kepada anggota melalui grup WA. Sehingga sudah dibaca terlebih dulu dan ketika bertemu di forum tinggal diskusi saja.

Pada sesi sharing penulisan kisah true story, Mbak Kayla Mubara menjabarkan bagaimana langkah-langkah menulis kisah true story. Mulai dari pemilihan tema, pembuatan premis, penyusunan outline, penulisan opening hingga bagaimana menuangkan hikmah ke dalam cerita. Mbak Kayla menjelaskannya dengan gamblang disertai dengan contoh-contoh yang dia ambil dari kisahnya di buku Ya Allah Ijinkan Kami Menikah. 

Sesi ketiga giliran Bu Yayan Rika Harari memaparkan teknik penyuntingan naskah. Sesi ini adalah yang paling ditunggu oleh teman-teman TPY. Sesi pamungkas yang melengkapi sesi sebelumnya tentang menulis true story. Kedua sesi ini dihadirkan sebagai pembekalan awal bagi teman-teman TPY sebelum mulai menggarap proyek antologi kisah true story.

Tema dan calon penerbit sudah ditetapkan sebelumnya. Tinggal pembekalan materi agar semua yang ikut menulis antologi memiliki pemahaman yang sama tentang cara menulis kisah true story dan teknik penyuntingan naskah. Oleh karena itu pada pertemuan ketiga forum TPY menghadirkan materi menulis kisah true story dan teknik penyuntingan naskah.

Nah, kira-kira Bu Yayan ngupas apa saja sih tentang teknik penyuntingan naskah?

Bu Yayan memaparkan, ada tiga urgensi dalam kegiatan menulis, antara lain: menulis secara baik, benar, dan bersih. Dikatakan baik, jika apa yang ditulis adalah sesuatu yang diperlukan, memang dibutuhkan oleh orang, atau bukan sesuatu yang sia-sia dan tidak ada manfaatnya. Faktor isi yang menarik juga menjadi kriteria atas sebuah karya yang baik. Menarik dalam arti bisa menggugah orang untuk membaca, mempelajari, dan merekomendasikan tulisan tersebut. Selain itu kriteria baik juga dinilai dari potensi pasar yang dimiliki oleh karya tersebut. Bisa dibilang sasaran pembacanya ada dan sudah jelas. 

Sebuah karya tulis harus mengandung nilai kebenaran. Artinya dari sisi isinya bisa dipertanggungjawabkan, bukan plagiat, tidak menipu, dan kontennya tidak membahayakan bagi pembaca. Dikatakan membahayakan jika efek dari bacaan tersebut berdampak buruk bagi pembaca. Merusak mental, memprovokasi untuk berbuat kerusakan, merusak ideologi, dan dampak buruk lainnya.

"Urgensi yang ketiga adalah menulis secara bersih. Termasuk tidak ada kesalahan teknis, salah ejaan dan salah ketik. Dalam hal ini butuh ketelitian seorang penulis, juga harus akrab dengan kamus bahasa, pedoman ejaan, harus sering-sering buka kamus lah pokoknya." Imbuh Bu Yayan menjelaskan.

Bu Yayan mencontohkan beberapa kata dan kalimat baku dan beberapa yang sering salah dalam penggunaan. Dari contoh-contoh ini beliau berusaha membawa peserta TPY menyadari dan mengingat konteks kalimat baku. Ternyata banyak juga dari teman-teman yang terlihat mengangguk dan tersenyum. Seolah-olah pernah menemui kesalahan-kesalahan yang dicontohkan dalam tulisannya.

Bu Yayan menjelaskan lebih dalam lagi termasuk bagaimana memahami penulisan kalimat efektif. Menjabarkan hal-hal yang harus dilakukan ketika menyunting naskah. Dan apa saja peran proof reader dan editor. Beliau blak-blakan tentang segala hal terkait penyuntingan naskah.

Di akhir sesi, Bu Yayan membagikan 5 novel karya suami beliau sebagai doorprize. Namun, sebelumnya beliau membagikan soal test tertulis kepada semua peserta forum TPY. Beliau memberikan 5 novel tersebut kepada 5 orang yang jumlah jawaban benarnya paling banyak. 

Heboh sekali begitu Bu Yayan mengungkapkan jika soal yang baru saja beliau bagikan tersebut ternyata soal yang biasa dibagikan kepada anak SD. Pukulan telak sekali bagi seorang penulis yang masih kesulitan dan mengabaikan tata bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Di akhir acara forum TPY digunakan sebagai forum bincang santai. Biasanya dipakai untuk diskusi ide naskah, bahas outline buku, dan saling koordinasi terkait proyek menulis. 

Berikut beberapa testimoni peserta forum TPY tanggal 27 Agustus kemarin:

"Saya senang bertemu penulis-penulis yang bersemangat dan haus ilmu. Semoga energi positif dan ilmu yang didapat menjalar terus tiada henti." (Yayan Rika Harari, Proof Reader dan Editor)

"Temu penulis kali ini seperti serenada, di mana bait-baitnya memijarkan ilmu, canda, dan yang lebih dari itu semua." (Kayla Mubara, Penulis buku Muslimah Antibaper)

"Cerpen saya di'bedah' di pertemuan TPY. Rasanya luar biasa senang. Banyak ilmu yang saya dapat dari koreksi, masukan dan saran yang diberikan secara 'live' oleh teman-teman. Bikin melek dan mak jleb! Semangat maju dan belajar bersama TPY." (Oky E. Noorsari, penulis fiksi)

"Alhamdulillah senang bisa belajar bareng teman-teman yang dengan senang hati berbagi ilmu, senang dapat teman baru sekaligus ketemu teman lama. Semoga tetap bisa sinau bareng, sharing dan berkarya TPY." (Maya Romayanti, penulis buku antologi Ya Allah Ijinkan Kami Menikah)

"Berasa keluar dari goa! Emak yang biasa ngladenin rumah tangga (eaa) terus kumpul bareng para penulis. Ketemu cara menuangkan ide nulis cerpen, nulis kisah menye-menye jadi berhikmah dan ilmu nyunting naskah yang berhadiah buku. Gak cuma ilmu, tapi perasaan dimengerti juga. Makasih buat semuanya di TPY. Hari saya tercerahkan (lagi). Plus seneng ketemu dunia bebas asap rokok. Makasih ya buat bapak/mas di TPY. Kalian mengerti banget aku wkwkwk. (Yang tiap bau rokok rasanya mau semaput)." (Dhita Erditya, penulis)

"Nyesel banget kemarin datang terlambat." (Dwi Suwiknyo, penulis buku best seller Ubah Lelah Jadi Lillah)

"Belum pernah ketemu komunitas yang isinya full ilmu dari awal sampai akhir, mungkin krna biasanya ngumpul sama emak2 rumpi. Semoga TPY bisa terus jadi jembatan inspirasi kita semua." (Wahyu Mardha)

Newest
Previous
Next Post »

Terima kasih sudah berkunjung ke Blog saya. Saya harap tidak meninggalkan komentar yang memicu konflik dan mengandung URL aktif. Jabat erat. ConversionConversion EmoticonEmoticon