Surat Bujuk Rindu

Share:

SURAT BUJUK RINDU
Oleh: Seno NS

Duhai Tuanku, sengaja dengan segenap ingatan
kutulis surat kerinduan untuk-Mu.
Sebelum Kau baca, berjanjilah
tak kan Kau bocorkan barang secuil
kepada angin, hujan, dan api yang Kau dekap.
Karena aku takut, mereka cemburu
atas janji-Mu, kasih-Mu, dan mungkin
juga kedekatan kita,
ketiadaan antara aku dan Engkau.

Aku tahu angin telah membawa kabar itu.
Tentang suara merdu, mengagungkan nama-Mu
soal pelafalan sabdha-Mu, juga ajakan mendekati-Mu.
Sesungguhnya aku melayang saat itu
oleh gemuruh sanjungan sesamaku.
Aku yakin Engkau maha mendengar.

Sepertinya hujan pernah mengadu.
Tentang benih-benih yang tumbuh
mengenyangkan perut sejagat sesamaku.
Aku terpampang bagai dewa
di pelupuk mata pengharap rahmat-Mu.
Sesungguhnya benih itu
mempercantik wajahku.
Aku sangat yakin Engkau maha melihat.

Engkau pasti tahu, aku berteman dengan api
lalu kuhianati.
Setelah hangus dia bakar sisa keyakinan di hati.
Setelah rontok segunung amal karena niat disalahi.
Setelah hambar kecantikanku karena bujuknya.
Setelah kutahu hangat darinya hanya tipu belaka.

Tuan...,
Aku meyakini Engkau maha pengampun.
Karena itu kutulis surat ini, sebagai bujuk rindu
Agar kau terima aku di pangkuan-Mu.

Yogyakarta, Juni 2017

2 comments:

Terima kasih sudah berkunjung ke Blog saya. Saya harap tidak meninggalkan komentar yang memicu konflik dan mengandung URL aktif. Jabat erat.