7 Langkah Mudah Menulis Kisah True Story

Sumber Gambar: bukalapak.com

"Hal paling sulit dalam menulis kisah true story bukanlah bagaimana menguasai teknik menulisnya, melainkan beratnya menghadirkan KEJUJURAN dalam tulisan."

Jaman dulu mungkin kita masih ingat bagaimana ngetrendnya menulis di buku diary. Waktu itu belum ada blog dan media sosial, buku diary menjadi pelampiasan curhat paling nyaman. Bahkan beberapa orang menjadikannya pelipur lara sambil meneguk kehampaan dalam kamar, menangis sendirian. #eeaaaa....

Karena buku diary sifatnya tertutup dan terbatas pembacanya, penulis lebih mudah menuliskan kejujuran disana. Bahkan hal-hal yang sifatnya personal bisa tertuang dengan gamblang. Karena si penulis tahu, tidak semua orang bisa membaca buku diarynya. Berbeda dengan media sosial, blog, buku, atau media massa yang mempublish tulisan kita. Butuh keberanian ekstra untuk menuangkan kejujuran.

Jaman sekarang masihkah ada diantara kalian yang menuliskan curhatan di buku diary?
Sekarang eranya media sosial, blog, dan buku. Berani nggak menulis kisah true story lalu di publish disana?

Tidak ada yang salah dengan menulis di buku diary, daripada ngelamun nggak jelas. Dimanapun kita menulis kisah true story, yang terpenting adalah pikirkan manfaat apa yang akan kita peroleh dari menulis kisah tersebut. Syukur-syukur orang lain pun mendapat hikmah dari kisah yang dibacanya.

Masalah yang seringkali muncul ketika kita menulis kisah true story adalah terjebak dalam bentuk curhatan yang justru memakan korban. Artinya banyak pembaca kisah kita yang kemudian menjadi baper dan cenderung gagal mencerna hikmah kisah tersebut. Saya yakin, ketika kita menulis sesuatu lalu di share, dalam hati kecil kita mengharapkan orang lain bisa menangkap pesan tentang apa yang kita rasakan. Entah itu kesedihan, kesenangan, kekecewaan, dan lain sebagainya. Namun, karena masing-masing pembaca memiliki daya penalaran dan pencernaan makna tulisan yang berbeda kadang pesannya kurang mengena. Bahkan diterimanya berbeda dengan harapan kita.

Nah, untuk meminimalkan hal tersebut kita bisa memperbaiki cara penulisan kisah true story yang akan kita publish. Sebenarnya sudah banyak sekali referensi yang mengajarkan tentang bagaimana cara menulis yang baik. Namun, semua itu tidak serta merta bisa kita praktekkan semua. Tentunya kita bisa memilih metode mana yang kita anggap paling mudah dan nyaman kita gunakan.

Saya pribadi lebih nyaman menulis dengan cara-cara yang saya anggap simpel, tak banyak aturan. Bisa jadi cara-cara itu kita temukan melalui proses modifikasi dari referensi-referensi itu. Yang penting kan outputnya bisa jadi sebuah karya tulisan. Intinya karya, karya, dan karya. Berikut saya bocorkan bagaimana cara saya menulis kisah true story. Silakan jika cara ini kalian anggap sebagai metode paling mudah dan nyaman bisa kalian ikuti.
Sumber Gambar: bairuindra.com

Langkah-langkah mudahnya menulis kisah true story:

1. Catat Pengalaman atau Kejadian Paling Berkesan

Pilih salah satu saja dari sekian kejadian yang kita anggap paling berkesan. Jika kesulitan bisa dicoba dengan membuat daftar kejadiannya. Di data dulu saja kejadian-kejadian itu sejauh yang bisa diingat. Baru kemudian dipilih yang dianggap paling menarik untuk diceritakan.

Mungkin seseorang akan mengalami kesulitan ketika membuat daftar kejadian. Bisa jadi karena hidupnya berjalan biasa saja, nggak banyak konflik, atau mungkin karena situasi moodnya sedang nggak bersahabat. Nah, hal ini bisa disiasati dengan menstimulasi otak kita untuk menggali kejadian-kejadian yang pernah kita alami. Bagaimana caranya?

Coba jawab pertanyaan-pertanyaan ini:
- Apa yang membuat saya kesal?
- Apa yang membuat saya bangga?
- Kegagalan seperti apa yang pernah saya alami?
- Keberhasilan seperti apa yang pernah saya raih?
Dll

2. Bikin Poin Harapan, Rintangan, dan Ikhtiar atau Usaha yang Dilakukan

Bedanya antara curhatan dan kisah true story yang menarik adalah komposisi tulisan. Menulis curhatan mungkin tak perlu komposisi dan aturan khusus. Asal nulis saja apa yang ada di kepala, jadi. Berbeda jika kita mau menulis kisah true story yang tujuan akhirnya adalah publikasi. Mau nggak mau harus memberikan sentuhan khusus dengan memasukkan unsur-unsur yang bisa membuat cerita menjadi menarik untuk dikonsumsi orang lain.

Unsur-unsur itu adalah harapan, rintangan, dan usaha untuk mewujudkan harapan. Unsur-unsur inilah yang akan membuat cerita yang kita tulis layak disebut sebagai cerita. Tampak lebih mudah dicerna oleh pembaca.

Dalam cerita yang kita tulis sebaiknya mampu menunjukkan harapan atau tujuan yang akan dicapai. Lalu memunculkan rintangan dan hambatan yang dihadapi. Membawa ke puncak konflik yang kemudian membuat si tokoh terdesak harus menentukan sikap atas konflik yang dihadapi. Tentu saja diikuti dengan penjabaran usaha-usaha si tokoh saat menghadapi rintangan dan mewujudkan harapannya.

Agar lebih mudah, tuliskan dalam bentuk poin-poin dulu. Ini memudahkan kita menata plot atau bagian cerita. Menata dalam arti membagi tahapan-tahapan pemilihan konflik menuju konflik utama. Bingung? Hehe... Tarik napas dalam.

3. Susun Kerangka atau Plot Cerita
Sumber Gambar: istockphoto.com

Biar mudah memahaminya saya contohkan sedikit. Anggaplah saya mau nulis kisah tentang menjemput jodoh, dan anggap sebelumnya saya sudah susun poin-poinnya. Kurang lebih susunan kerangka ceritanya saya bikin seperti ini:

- Sosok perempuan idaman (harapan/ cita-cita)
- Syarat dari orang tua harus cocok hari lahirnya (hambatan)
- Wajah pas-pasan dan kurang pandai bergaul
- Simpati pada sosok cewek yang bukan sosok idaman
- Sulit mengungkapkan cinta
- Berdoa agar didekatkan jodoh (ikhtiar)
- Penjajakan perasaan dan latar belakang keluarga
- Ada kecocokan tapi belum ada rasa cinta
- Nekat nembak, ditolak
- 3 kali ditolak, akhirnya diterima
- Menikah, mengikat komitmen membangun cinta dan menyatukan 2 keluarga

Sebelum menjabarkan plot cerita di atas, kita bisa telaah lagi, apakah perlu penambahan atau penataan urutan. Setelah itu baru mulai menuliskan kisahnya.

4. Tuliskan Kisahnya

Pisahkan tugas editing dengan tugas menulis. Seringkali orang gagal menyelesaikan naskahnya karena melakukan tugas menulis sambil editing. Misalnya baru nulis satu pargraf, dibaca ulang, benahin typo, cari komposisi kalimat yang bagus. Proses seperti ini justru memperlama proses penyelesaian naskah. Sebaiknya tulis saja dulu semua yang ada di kepala. Tentu dengan memperhatikan kerangka yang sebelumnya sudah dibuat.

Rampungkan dulu, baru lakukan editing. Perbaiki typo, pilih kalimat yang pas, hapus yang nggak perlu, pastikan referensi penulisan, dll. In sya Allah beban menulis jadi lebih ringan. Naskah juga lebih cepat rampung.

5. Tambahkan Ulasan Hikmah

Sebenarnya tanpa ditambah ulasan hikmah, tugas menuliskan kisah true story sudah selesai. Sudah bisa di publish. Namun, tambahan ulasan hikmah bisa menjadi nilai tambah buat naskah kita.

Seperti yang saya sampaikan di awal, "daya interpretasi orang terhadap cerita berbeda-beda." Ulasan hikmah akan membantu pembaca menangkap dengan jelas pesan apa yang akan kita sampaikan melalui kisah true story yang kita tulis. Jadi meminimalkan salah persepsi atas kisah yang kita tulis.

Caranya gimana? Hehe... Bisa panjang nie bahasannya. Share di kesempatan lain aja kali ya?
Cara mudahnya, bikin poin-poin argumen yang berkaitan dengan hikmah dari cerita tersebut. Cari referensi atau dalil-dalil sebagai penguat. Lalu uraikan.

6. Swasunting

Nah, proses ini menuntut kita lebih objektif. Kalau memang ada kalimat atau paragraf yang perlu di buang, ya delet aja. Kalau ada uraian yang perlu dipastikan kebenarannya dengan referensi lain, ya carikan referensi lain. Kita posisikan sebagai editor dan pembaca. Bukan lagi sebagai penulis.

7. Publish Kisahmu

Bersiaplah panen pahala dari hikmah yang diserap oleh pembaca. Sangat mungkin sekali pembaca terinspirasi dari kisah true story yang kita tulis. Sangat mungkin pula hikmah kisah yang kita tulis mampu menggerakkan pembaca untuk menjadi peribadi yang lebih baik. So, menulislah dengan niat yang baik. Atau justru sebaliknya, kita panen dosa karena dampak buruk dari tulisan kita.

Terkait media apa yang akan digunakan untuk mempublish, tentu masing-masing orang punya pilihan. Bisa via medsos, blog, buku, dll.

Terakhir sebagai penutup, saya sampaikan bahwa sharing ini tidak ada maksud dalam diri saya untuk menggurui. Tentu saya sadar betul masih banyak yang lebih expert dalam bidang ini. Saya disini hanya sharing sebatas apa yang saya pahami dan terapkan. Semoga bermanfaat.

Salam bloger kreatif

Previous
Next Post »

Terima kasih sudah berkunjung ke Blog saya. Saya harap tidak meninggalkan komentar yang memicu konflik dan mengandung URL aktif. Jabat erat. ConversionConversion EmoticonEmoticon