Waduh, Ternyata Istri Lebih Mencintainya [True Story]


Waduh, Ternyata Istri Saya Lebih Mencintainya - Manukil penggalan kata seorang pujangga yang mengatakan, "tak kan pernah cukup bait puisi untuk melukis keindahanmu. Tak ada umpama yang sejajar untuk mengungkap cantikmu." saya ingin sampaikan betapa 'embuhnya' rasa cinta pada istri saya. Satu-satunya wanita yang saat ini menjadi 'the best' dalam hati setingkat dibawah ibu saya. Namun, kebaikan dan ketulusan saya ternyata tidak serta merta bisa membuatnya cinta kepada saya melebihi 'DIA.'

Sudah terlalu sering saya menakar detik-detik kesenangan sejak kami bersama. Menikmati hidup sederhana yang begitu hangat menyatukan keluarganya dan keluarga saya. Termasuk ketika kami pura-pura tertawa untuk menjaga perasaan orang tua agar tak tahu pahit getir yang kami alami. 

Pagi sekitar pukul 3 istri saya mengeluh ada cairan yang merembes di tempat tidur. Waktu itu istri saya sedang hamil tua. Saya menduga itu cairan ketuban yang pecah. 

"Tidak apa-apa, entar kita periksakan ke rumah sakit." ucap saya untuk menenangkan istri. 

Kondisi keuangan keluarga saya waktu itu ada pada titik terendah. Usaha salon saya baru saja gulung tikar meninggalkan cicilan hutang jutaan yang harus dibayar tiap bulan. Juga, tanggungan pembiayaan kuliah adik-adik masih menyisakan cicilan di beberapa 'Bank Plecit' mingguan. Dengan bismillah, saya bawa istri saya periksa ke rumah sakit meskipun di kantong saya waktu itu hanya ada uang 20 ribu. 

Tidak perlu saya ceritakan rinci mengapa kami bisa sampai di titik terendah seperti saat itu. Saya akan fokus bahas cinta-cintaan saja. Hehe.... 

Justru kondisi-kondisi sulit itulah yang semakin mempererat ikatan hati kami. Susah senang itulah yang menumbuhkan rasa bangga dihati orang tua kami. Kemudian berlanjut pada babak baru dengan hadirnya sosok mungil yang lahir di tengah kebahagiaan kami.  

Ada perubahan dalam diri istri saya. Perhatiannya pada si kecil sepertinya terlalu berlebihan. Mulai dari bangun tidur, mandi, makan, bermain, hingga tidur lagi, semua tak luput dari perhatian istri saya. Semacam ada perlakuan berlebihan dan rasa takut kehilangan atas anak laki-laki kesayangan. Bahkan dia tak bisa pisah jauh meskipun hanya beberapa menit saja. 

Anak saya tak pernah keluar rumah bergaul dengan tetangga, dia hanya berinteraksi dengan temannya di sekolah. Keinginan anak sebisa mungkin akan kami wujudkan. Tentu saja bentuk kemanjaan-kemanjaan lain juga dia dapatkan dari kakek neneknya. Saya tahu itu baik buat dia, tapi ada ketakutan dalam diri saya terhadap tumbuh kembang mentalnya kelak. 

"Dia sudah besar, jangan terlalu dimanja. Kalau memang perlu ditegur ya lakukan saja. Kalau dibiarkan, lama-lama dia gak akan tahu mana yang benar dan salah."

"Aku nggak bisa!! Biar saja dia marah, mukul-mukul, terserah dia." Sambil memeluk anak kesayangannya, istri saya menangis. 

Sudah seminggu lebih anak saya tidak mau sekolah. Entah sebab ketakutan macam apa yang membuatnya trauma. Setiap hari kami bujuk dia agar mau berangkat sekolah. Namun, sia-sia. Perilakunya berubah, sering marah, mukul, nendang, dan sering menangis minta sesuatu yang belum tentu bisa kami kabulkan saat itu. 

Sekolah memang baik untuk perkembangan anak, tapi pergaulan di sekolah belum tentu. Oleh karena itu menurut saya perlu peran orang tua sebagai role model. Memberi contoh perilaku yang baik, memberi nasehat, dan meluruskan jika ada perilaku anak yang kurang baik. 

Permasalahannya saat itu kemanjaan-kemanjaan yang dia terima telah membuat anak saya menjadi sosok yang 'tak bisa disentuh' oleh siapapun. Apa yang dia maui harus diberi. Semua nasehat dia terjemahkan sebagai penolakan. Semua orang yang tidak dia sukai yang ditemui akan dia pukul dan tendang. Kehalusan hati istri saya seringkali berujung air mata, hanya untuk menahan ketidakmampuan melawan kenakalan anak kesayangannya. 

Terpaksa saya mengambil peran sebagai sosok yang ditakuti oleh anak saya. Dengan mendiamkan, teriakan, atau kepura-puraan lainnya untuk memberi kesan bahwa ada batasan yang harus dipatuhi. Saya tahu masih banyak cara yang lebih baik untuk mendidik seorang anak. Hal ini saya lakukan tentu dengan sangat hati-hati agar tidak menambah efek trauma pada anak. 

Apa yang ditunjukkan istri saya adalah bentuk kasih sayang yang berlebihan. Hal itu baik buat anak, tapi belum tentu buat ibu. Memang jika melihat riwayat melahirkannya, perjuangan membesarkannya, saya nilai wajar jika sikap istri saya seperti itu. Itu sepenuhnya hak seorang ibu untuk mencintai anaknya. 

Yang saya takutkan adalah apabila rasa cinta itu melebihi kecintaan kepada Allah. Gara-gara menuruti kemauan anak, mengesampingkan ibadah. Sebab memuja kehebatan anak, melupakan kebesaran Allah. Semoga hal ini tidak terjadi. 

Tidak penting lagi bagi saya mempertanyakan seberapa besar cinta istri kepada saya. Karena caranya menyayangi anak, itulah wujud cinta istri kepada saya. Saya hanya butuh kesempatan untuk membawa mereka ke jalan yang diridhoi.
Previous
Next Post »

Terima kasih sudah berkunjung ke Blog saya. Saya harap tidak meninggalkan komentar yang memicu konflik dan mengandung URL aktif. Jabat erat. ConversionConversion EmoticonEmoticon