[Review] Kehilangan Ibu Adalah Bilah Sembilu Kerinduan

Kehilangan Ibu Adalah Bilah Sembilu Kerinduan - Kehilangan orang yang dicintai memang sangat menyakitkan. Apalagi mereka adalah orang yang sangat dekat dengan kehidupan kita. Orang yang melahirkan kita, mendidik, menghidupi, serta yang di telapak kakinya diletakkan surga untuk kita. Dialah ibu. Sumber kerinduan yang tiada habisnya.

Seperti apa wujud surga di telapak kaki ibu?
Mari kita renungkan bersama. Jangan-jangan "surga di telapak kaki ibu" yang sering kita dengar selama ini ternyata belum benar-benar kita pahami. Hanya sebatas kalimat indah yang sesekali kita keluarkan untuk menutupi kebusukan di dalam hati, bahwa sebenarnya kita masih menyimpan dosa terhadap ibu kita. Kita belum bisa memenuhi bakti kita sebagai seorang anak.

Mbak Irfa Hudaya menggambarkan betapa berharganya seorang ibu melalui buku kisah true story yang berjudul Ya Allah Aku Rindu Ibu. Kisah nyata yang dia alami sendiri. Mulai dari bagaimana seorang ibu menjadi frenemy hingga rasa kehilangan yang memaksa harus mengikhlaskan. Dari buku ini saya menemukan sari pertanyaan untuk diri saya pribadi, "sudah tuntaskah baktiku kepada ibu?"

Sebagaimana yang diceritakan Mbak Irfa, seorang anak pernah merasa jengkel dengan pembatasan, kekangan, atau perlakuan dari ibu. Coba ingat kembali momen ketika ibu melarang sesuatu yang kita suka, ketika ibu tak merespon keberhasilan kita, atau ketika memaksa untuk memaafkan orang yang paling kita benci. Di masa-masa itu kita menganggap ibu sebagai teman sekaligus musuh. Yang kita lakukan kemudian mencari-cari dukungan dari orang lain. Untunglah ada ayah yang tentu saja menjadi sosok penengah dan penyelamat.

Mungkin saat ini kita telah melupakan hal itu, tapi pernahkah kita meminta maaf untuk kesalahan tersebut? Atau jangan-jangan kita lupa meminta maaf karena belum diingatkan Allah?

Apa yang terjadi suatu hari nanti, Allah akan menunjukkan betapa ibu selama ini begitu total menyayangi kita. Orang yang pernah kita anggap sebagai frenemy ternyata begitu tulus mencintai. Memaafkan setiap kesalahan anaknya. Tetap mendoakan kebaikan buat anaknya. Tidak perlu banyak kata, karena setiap jengkal perilaku ibu adalah pelajaran berharga untuk kita.

Allah mungkin akan menyentil kita dengan mengambil Ayah dari sisi kita. Ketika kita kolaps kehilangan sebelah sayap, Allah tunjukkan betapa tabah dan sabarnya ibu kita. Ibu pula yang mengajarkan kita untuk tetap tegak berdiri dan menyelesaikan setiap jengkal permasalahan hidup keluarga. Mengajarkan cara bertahan hidup tanpa adanya ayah di sisi kita.

Bagaimana jika sampai detik itu kita masih juga lupa bahwa surga benar-benar ada di telapak kaki ibu?
Mungkin Allah akan membuka mata hati dan menyadarkan kita dengan mengambil nyawa ibu. Nyawa dari satu-satunya sayap yang tersisa penopang hidup kita. Ketika hal itu terjadi, kehilangan seorang ibu akan menjadi bilah sembilu kerinduan sepanjang usia.

Buk, meski aku mengatakan cintaku bermilyar-milyar untuk Ibuk, tetap saja aku tak bisa mengalahkan cinta yang Ibuk punya untukku. (halaman 188).

Jika di dua novel sebelumnya Mbak Irfa menggunakan sudut pandang orang pertama dengan pencerita yang bergonta-ganti orang, kali ini tetap menggunakan sudut pandang orang pertama, tapi dengan pencerita satu orang yang sama. Adegan yang paling saya suka dari novel ini adalah ketika Ibuk menunjukkan ketegaran saat mengantar kepergian Bapak. Mencoba memberi kesan terakhir kepada suaminya yang sedang menjemput kematian.

Ibuk selalu disamping bapak. Mengucap asma Allah tak terputus. Untuk makan pun Ibuk tak mau. Yang Ibuk lakukan duduk di sisi pembaringan bapak dan menuntun bapak melafalkan nama Allah. Ibuk beranjak hanya ketika ke kamar kecil atau shalat. (halaman 92).

Saya sangat merekomendasikan novel Ya Allah Aku Rindu Ibu untuk dibaca. Kisah true story didalamnya menyadarkan kita untuk menyelami kembali sejauh mana bakti kita kepada ibu. Dengan teknik gelombang emosi, lagi-lagi tulisan Mbak Irfa sukses mengaduk-aduk perasaan pembaca. Dari novel ini pula kita bisa menemukan bagaimana bersikap ideal untuk menjadi seorang ibu bagi anak-anak.

Judul: Ya Allah Aku Rindu Ibu
Penulis: Irfa Hudaya
Penerbit: Kana Books
Terbit: Desember 2016
ISBN: 978-602-60440-1-3
Pereview: Seno NS

Previous
Next Post »

Terima kasih sudah berkunjung ke Blog saya. Saya harap tidak meninggalkan komentar yang memicu konflik dan mengandung URL aktif. Jabat erat. ConversionConversion EmoticonEmoticon