Harapan di Tengah Gejolak Politik yang Menghantam Serambi Mekah

Share:

[Review Buku] Harapan di Tengah Gejolak Politik yang Menghantam Serambi Mekah - Pengaruh politik terhadap hubungan sosial sangat kuat. Seringkali membuat peran seseorang jungkir balik. Yang alim dianggap jahat, sedangkan yang jahat dibikin menjadi alim. Sehingga seringkali timbul perselisihan antar golongan.

Ada sebagian kelompok orang yang apatis terhadap isu politik. Namun, ada juga yang diam-diam menyimpan dendam ingin memberontak. Bagi sebagian lainnya cenderung mengikuti arus dan mengambil kesempatan atas situasi yang ada. Reaksi-reaksi orang seperti inilah yang kemudian dituangkan dalam novel Tanah Surga Merah. Novel peraih Katulistiwa Literary Award tahun 2016.

Novel Tanah Surga Merah menceritakan tentang kerinduan seorang mantan pemberontak terhadap tanah kelahirannya. Meskipun berstatus buron tak menyurutkan niat untuk pulang ke tanah kelahiran. Nyawa menjadi taruhan karena Murad adalah orang yang paling dibenci Partai Merah.

Kecintaanku yang begitu besar terhadap tanah kelahiran justru amat mengecewakan. Namun, aku tetap mencintainya dengan seluruh jiwa raga dan napasku. Di sinilah kenangan, hidup, dan juga matiku. Aku tidak bisa hidup di tempat lain, bagaimanapun makmur dan indahnya negeri itu. (halaman 21-22).

Hal pertama yang dilakukan Murad adalah menemui sahabat-sahabatnya. Salah satu diantaranya adalah seorang sahabat yang dulu mengantarnya ke terminal ketika hendak melarikan diri. Dia seorang guru yang begitu geram dengan kemalasan orang-orang untuk membaca. Hingga dia menulis naskah drama dan menggelar pertunjukan yang berakibat penghentian paksa oleh aparat. Drama yang mempertontonkan sindiran atas hilangnya budaya baca itu dianggap sebagai upaya untuk menjatuhkan pemerintahan. Murad dituduh sebagai dalang di balik pertunjukan itu.

Murad tidak bisa tinggal lama di satu tempat. Orang-orang partai merah selalu mencium keberadaannya. Maka dia segera pergi mencari tempat persembunyian yang lebih aman. Dia seperti maling yang harus sembunyi-sembunyi di rumahnya sendiri.

Tiba-tiba saja aku merasa asing pada tanah kelahiranku yang pulang ke rumah sendiri pun harus diam-diam dan sembunyi-sembunyi seperti pencuri. Orang-orang dekat dan sahabat karib kini menjadi musuh, bahkan mereka hendak membunuhku. (halaman 129).

Keadaan semakin rumit setelah Murad terlibat perkelahian yang berujung pada tertembaknya salah satu pimpinan wilayah dari partai merah. Murad yang habis-habisan dihajar hingga kakinya patah terpaksa menembakkan pistol sebagai upaya menyelamatkan diri. Dengan sisa tenaga, Murad melarikan diri sejauh-jauhnya. Beruntung masih ada sahabat yang menolongnya dan mengasingkannya ke sebuah perkampungan.

Murad menyamar sebagai seorang teungku yang dikirim pemerintah untuk mengajarkan ilmu agama. Ini jalan satu-satunya agar dia bisa diterima di kampung pedalaman itu. Karena masyarakat disana membutuhkan seorang teungku yang dianggap bisa menghapuskan kutukan. Murad merasakan gejolak batin dan kejengkelan atas perlakuan orang-orang di kampung Klekklok. Bagaimana mungkin seorang buron, pembunuh, yang tak pandai agama harus mengajarkan ilmu agama?

"Mungkin karena tak ada lagi teungku, tak ada lagi yang menyuruh, maka orang-orang pun malas shalat. Bahkan, mereka semua sudah melupakan bacaan dan cara shalat." (halaman 213).

Lagi-lagi situasi memaksa Murad untuk sembunyi dari orang-orang partai merah. Kali ini pelarian Murad tidak dilakukan sendirian. Seorang gadis cantik bernama Jemala membawanya menembus hutan belantara. Berdua melewati semak-semak dan sungai yang merintang. Mereka terus berlari tanpa peta pemandu arah. Hanya ada satu keyakinan bahwa di depan sana ada sebuah kampung. Murad menemukan sebuah harapan baru di tengah gejolak politik yang mengancam nyawa. Bukan harapan atas hak politik yang diperjuangkan, melainkan harapan atas cinta yang selama ini dia butuhkan.

"Pemandangan yang tampak di senja itu adalah seorang lelaki setengah baya mengenakan peci dengan jubahnya yang berkibaran ditiup angin, berdampingan dengan seorang gadis tanggung bercelana jins dan berkemeja gelap dengan rambut panjangnya yang lurus tergerai ditiup angin dari arah depan. Keduanya saling berpegangan tangan, berdiri tegak di dataran agak tinggi dekat sungai, sambil memandangi hamparan luas tanaman ganja yang begitu subur. (halaman 304).

Novel Tanah Surga Merah menyajikan wacana bertema politik. Menggambarkan sisi-sisi kelam dunia politik sekaligus kritik sosial yang sangat menggelitik untuk jadi bahan introspeksi diri. Bagi sebagian besar masyarakat yang dipusingkan dengan runyamnya situasi politik, sepertinya novel ini menjadi media pelampiasan penat yang pas. 

Penggambaran settingnya yang detail membuat pembaca seolah-olah bisa merasakan bagaimana situasi di Aceh saat itu. Melalui karakter Murad, pembaca bisa merasakan bagaimana pola pikir mantan pemberontak yang begitu cinta dengan tanah kelahirannya. Gigihnya perjuangan seseorang untuk mendapatkan hak politik demi masa depan yang lebih baik. Novel ini seolah menyentil pembaca untuk lebih berani menunjukkan rasa nasionalisme dalam menyikapi gejolak politik.

Saya sangat merekomendasikan novel ini untuk dibaca. Selain sarat muatan kritik sosial juga banyak pesan-pesan moral yang dapat dijadikan bahan renungan. Membuat kita berpikir ulang tentang apa peran terbaik yang seharusnya kita ambil untuk mewujudkan masa depan yang lebih baik.

Judul: Tanah Surga Merah
Penulis: Arafat Nur
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2016
Halaman: 312 halaman
ISBN: 978-602-03-3335-9
Pereview: Seno Ners

No comments

Terima kasih sudah berkunjung ke Blog saya. Saya harap tidak meninggalkan komentar yang memicu konflik dan mengandung URL aktif. Jabat erat.