Penipuan Yang Terstruktur dan Masif Para Calo Bus

Ini nyata. Pengalaman saya pribadi bersama dengan adik ipar. Perjalanan ke Banyuwangi yang seharusnya habis duit 110 ribuan perorang, menjadi 200 ribuan lebih perorang. Yang seharusnya perjalanan bisa ditempuh dalam 12 jam, ternyata menjadi 19 jam. Iya, saya sebut ada penipuan yang terstruktur dan masif yang dilakukan oleh para calo bus. Begini ceritanya.

Pagi hari saya yang di Jogja, dikabari oleh Bapak saya bahwa simbah saya yang di Banyuwangi sedang kritis. Saya diminta pulang.

Hari itu saya putuskan untuk masuk kantor. Selain tugas presentasi yang harus saya sampaikan, saya juga harus urus ijin cuti beberapa hari. Sebelumnya Pak Direktur sudah sampaikan bahwa dalam minggu-minggu itu tidak boleh ada yang cuti. Ada tugas merampungkan program kerja tahun 2017. Tapi saya coba mengajukan cuti. Alhamdulillah diijinkan cuti 2 hari memotong cuti tahun 2017.

Sore harinya saya berangkat ke Banyuwangi. Melalui terminal Giwangan, seperti biasa berharap masih tersisa bus Mila Sejahtera. Namun, sialnya bus Mila yang saya harapkan rupanya tidak beroperasional. Barangkali sedang cuti kawinan. Lumayan kan? Kalau beranak bisa tambah omset pemasukan.

Terpaksa kami ikut bus jurusan Surabaya. Ber-AC dan ada TV yang selalu on dengan lagu dangdut koplonya. Kami cukup bayar 75 ribu perorang. Tak perlu menunggu lama, bus kemudian berangkat. Tepat sekitar pukul 18.45 WIB.

Handphone saya silent, paket data saya matikan, dan pulas saya tertidur sepanjang perjalanan. Ini trik menikmati hidup agar tidak terlalu stress oleh pikiran yang tak karuan.

Sesampainya di terminal Purabaya Surabaya kami langsung menuju tempat mangkalnya bus jurusan Banyuwangi. Kami berjalan menyusuri terminal yang tak begitu ramai. Hanya beberapa orang saja yang lalu lalang. Mungkin karena saat itu sudah pukul 03.40 pagi.

Terlihat beberapa orang teriak-teriak menyebutkan nama daerah. Berharap penumpang yang tersesat menemukan arah kemana harus bertanya.

Tak satu pun dari kami mendengar teriakan kata 'Banyuwangi' dari mulut mereka. Sehingga kami memutuskan terus berjalan mencari tempat mangkalnya bus tujuan Banyuwangi. Beruntunglah kami ketika ada seseorang yang mengarahkan kami pada lokasi bus yang kami cari.

"Mari, Mas ke arah sini," ucap orang berbaju putih itu. "Banyuwanginya mana, Mas?"

"Benculuk, Pak."

"Sini, Mas. Tiketnya di loket sini," orang itu mengarahkan kami ke loket yang terlihat kosong. Namun, ada seorang temannya yang terlihat menulis entah apa di selembar kertas mirip tiket.

"Ke Benculuk berapa, Pak?"

"250 ribu dua orang."

Kami sempat saling pandang. Namun, akhirnya kami keluarkan saja duit sejumlah yang orang itu sebutkan. Saya memang belum tahu berapa sebenarnya tiket bus dari Surabaya ke Banyuwangi. Saya sempat berpikiran positif mungkin fasilitas busnya memang eksekutif. Sehingga tiketnya lebih mahal dibandingkan tiket bus Jogja - Banyuwangi.

Orang itu kemudian memberikan secarik kerta yang ditulisnya kepada seorang kawan yang berjaket hitam. Orang berjaket hitam inilah yang bertugas mengantarkan kami menuju bus jurusan Banyuwangi.

Begitu melihat kondisi bus tersebut, saya teecekat. Teringat bus kota yang pernah saya naiki di zaman SMA. Mau bilang mirip kaleng krupuk tidak tega saya. Umpatan seperti berjejal di tenggorokan. Untung saya masih kuat menahannya agar tidak keluar. Saya merasa ditipu. Bus yang katanya ber-AC ternyata tak layak.

Mungkinkah di Surabaya kita harus bayar ratusan ribu hanya untuk naik bus semacam ini? Hadewh... Dunia macam apa ini?
Ok lah. Saya berusaha menerima keadaan ini. Meskipun saya gagal menemui Simbah di ujung ajal, saya berharap bisa mengiringinya menuju pemakaman.

Bus jurusan Surabaya - Banyuwangi itupun melaju. Membawa kesal dan umpatan yang masih tertahan di tenggorokan. Kembali saya pejamkan mata demi meredam amuk di dada. Begitu sampai di depan terminal Jember, bus itu berhenti. Kami yang menuju Banyuwangi di oper ke bus lainnya yang sudah stand by di depan.

"Yang Banyuwangi oper depan. Langsung berangkat." Ucap kenek bus kaleng krupuk sialan itu.

Kami pun masuk bus operan. Begitu juga dengan beberapa penumpang lainnya. Begitu kami duduk, kenek bus menghampiri. Bermaksud memungut karcis. Padahal bus itu belum melaju sesenti pun.

"Turun mana, Mas?"

"Benculuk, dua orang."

"60 ribu." kenek sialan kedua menyobek dua lembar karcis.

"Lho, Mas. Aku operan penumpang seko bus kae mau." ucap saya dengan dialek jawa timuran.

"Coba ndelok karcise."

"Lha tadi gak dikasih karcis, mas?"

"Oh, berarti penumpang anyaran." kenek tersenyum kecut.

Astagfirulallah!! Ucap saya dalam hati. Mau bagaimana lagi. Akhirnya keluar lagi duit 60 ribu. Ternyata naik bus kaleng krupuk dari Surabaya ke Jember harus bayar 250 ribu untuk dua orang. Andaikan saya jamaahnya Ki Sujiwo Tejo mungkin saya akan sangat fasih melafalkan JANC**K!!. Alhamdulillah saya belum fasih. Jadi terlalu banci untuk misuh menggunakan kata itu.

Bus itu kemudian melaju. Bukan menuju Banyuwangi, melainkan masuk ke terminal Jember. Berhenti, kemudian mesin dimatikan. Muncullah tukang sapu bus, disusul kenek yang dengan baik hati memberi informasi, "silakan ke toilet dulu atau makan-makan dulu. Masih cukup waktunya. Habis ini kita berangkat."

Milyaran JANC**K tidak akan mungkin merubah keadaan. Hampir jam 9 pagi dan kami masih di terminal Jember. Sedangkan jenazah simbah saya sudah diberangkatkan ke pemakaman. Andaikan bus yang kami tumpangi adalah bus biasanya yang langsung menuju Banyuwangi, tentu saya masih punya kesempatan mengantar jenazah simbah ke makam. Bahkan mungkin juga masih sempat melihat wajahnya untuk terakhir kali. Tapi kenyataan berkata lain.

Allah sepertinya ingin menunjukkan pelajaran berharga pada saya. Barangkali agar kutulis kemudian ku publish dan memberi informasi ke orang-orang tentang model penipuan si calo bus yang terstruktur dan masif ini.

Kembali ke terminal. Setelah hampir 20 menit menunggu, akhirnya kami diminta naik ke bus. Bukan bus yang tadi, malainkan bus yang lain lagi. Tugas bus terakhir tadi sepertinya hanya membawa penumpang dari depan terminal Jember menuju ke dalam terminal.

Pintarnya si kenek bus adalah menarik tiket di awal. Jadi jika penumpang tak sabar menunggu ya silakan cari bus lain, uang tiket hangus. Kalau sabar menunggu, ya terima saja dioperkan ke bus kaleng krupuk lainnya.

Ok lah, mungkin memang sudah rejekinya calo. Jadi saya pasrah saja. Toh saya jelas tidak akan kesampaian melihat wajah simbah atau mengantarnya ke pemakaman. Terserah mau nyemplung jurang Kumitir juga masa bodoh.

Si kaleng krupuk beroda membawa kami menuju Banyuwangi. Saya diam saja tidak tertarik memikirkan apapun atau membicarakan apapun. Kembali saya pejamkan mata.

Lamat-lamat kudengar ibu-ibu mengomel, menyumpah, tentang besar biaya tiket bus Surabaya - Banyuwangi. Ibu itu mengatakan dia harus bayar 180 ribu untuk tiga orang. Awalnya diminta 200 ribu, tapi akhirnya setelah tawar-menawar kena 180 ribu. Ibu itu merasa tidak terima. Kenapa tarifnya hampir sama dengan tarif bus Jogja - Surabaya, tapi fasilitas busnya jauh berbeda. Saya yang kena 250 ribu untuk dua orang, diam saja. Dan saya menumpang bus kaleng krupuk yang sama dengan si ibu yang pandai mengumpat.

Previous
Next Post »

Terima kasih sudah berkunjung ke Blog saya. Saya harap tidak meninggalkan komentar yang memicu konflik dan mengandung URL aktif. Jabat erat. ConversionConversion EmoticonEmoticon