[Tips] Inilah Solusi Bagi Penulis Pemula Untuk Meningkatkan Kualitas Tulisan

Share:

Inilah Solusi Buat Penulis Pemula Untuk Meningkatkan Kualitas Tulisan - Apakah kalian pernah merasa bahwa tulisan kalian tidak berbobot? Atau merasa sudah mempelajari cara menulis yang baik, tapi hasilnya belum kelihatan? Jika iya, lakukan tips ini untuk menaikkan bobot tulisan kalian.

Seperti yang pernah diajarkan oleh para penulis kondang, "untuk bisa menghasilkan tulisan yang bagus dibutuhkan kesenangan dan kebiasaan membaca buku." Jika kalian butuh bukti, silakan tanyakan kepada penulis-penulis kondang. Seberapa besar kesukaan mereka terhadap aktivitas baca buku? Berapa jam sehari mereka meluangkan waktu untuk baca buku? Buku macam apa yang mereka baca?

Apa yang saya temukan sih demikian. Para penulis itu punya riwayat kesukaan membaca yang mungkin lebih banyak porsinya dibanding orang biasa. Mereka memang sudah lahap menyerap informasi dari buku maupun media. Hingga akhirnya mereka tidak kesulitan ketika menulis konten yang berkualitas. Karena kepala mereka sudah berisi.

Lalu bagaimana dengan penulis pemula yang memiliki impian ingin menjadi penulis kondang? Apakah langkah mereka masih cukup jauh untuk sampai pada impian itu?

Menurut saya sangat sulit menentukan kapan seseorang bisa merealisasikan mimpinya untuk menjadi penulis kondang. Setiap orang berbeda-beda. Tergantung usaha dan peluang yang mereka ambil.

Contoh sederhananya adalah pada penulis idealis dan penulis fleksibel (mengikuti selera pasar). Meskipun bagi keduanya ketenaran nama bukanlah tujuan utama, tapi kenyataan di lapangan menunjukkan para penulis baru tergila-gila pengin terkenal. Karena melihat penulis terkenal itu keren. Hehe....

Bagi penulis fleksibel, peluang kondangnya lebih terbuka dibanding penulis idealis. Karena karyanya mengikuti apa yang dibutuhkan pasar. Sedangkan penulis idealis, karyanya tidak selalu laku di pasar. Mereka lebih menguatamakan idealisme karya, bukan ketenaran nama. Kalaupun mereka terkenal, itu karena kebesaran karya mereka. Sedangkan tulisan-tulisan penulis fleksibel porsinya lebih banyak dikonsumsi pembaca karena memang ditulis berdasarkan kebutuhan pembaca, sehingga popularitas penulisnya lebih cepat diraih.

Sebagai penulis pemula seperti saya, rasanya perlu solusi tercepat agar tulisan bisa lebih berbobot dan tidak terlalu banyak membuang waktu. Iya, setidaknya bisa menghasilkan karya yang berkualitas meskipun belum mampu meraih ketenaran. Haha...

Berdasarkan pengamatan saya ada beberapa solusi bagi penulis pemula yang bisa jadi bahan pertimbangan untuk memperbaiki bobot tulisannya. Apa saja solusi tersebut? Simak hal-hal berikut.

Pertama, pahami EYD.
Saya rasa tidak hanya penulis pemula, penulis senior pun perlu pemahaman EYD yang baik. Kenapa EYD? Karena pada prinsipnya yang tampak oleh mata adalah hal yang paling mudah untuk dinilai. Begitu juga dalam hal penilaian terhadap karya tulis. EYD yang tidak diperhatikan dapat menimbulkan kesan bahwa penulis kurang profesional. Bahkan ketika tulisan itu dibaca dan dinilai oleh orang awam sekalipun. Karena mood pembaca bisa turun seketika saat membaca tulisan yang tidak memerhatikan EYD. Sehingga kesan buruk bisa saja muncul sebagai hasil penilaian.

Contoh sederhananya adalah di forum grup diskusi kepenulisan. Disana poin EYD merupakan poin wajib yang harus dibahas. Bahkan sebagian besar membernya paling mudah menemukan kesalahan typo, penulisan huruf kapital, penggunaan awalan, dll pada sebuah karya yang dilempar sebagai bahan diskusi.

Jadi, sebagai penulis pemula sebaiknya jangan abaikan untuk mendalami EYD untuk bekal pertama dalam menulis.

Kedua, fokus pada satu bidang garap. 
Penyakit seorang penulis pemula adalah ikut-ikutan penulis senior. Melihat buku nonfiksi idolanya terbit, penginnya menulis buku nonfiksi. Melihat karya idolanya terbit di media cetak, maunya nembus media cetak. Sebenarnya tidak ada masalah dengan hal ini, tapi ada baiknya jika penulis pemula fokus pada salah satu bidang saja dulu. Pilih garap buku nonfiksi atau fiksi. Mau nembus media cetak atau online.

Pada prinsipnya proses menulisnya hampir sama, antara nonfiksi atau fiksi, media cetak atau online. Ada proses penggalian ide, riset atau baca referensi, mengembangkan dalam bentuk outline, kemudian menulisnya. Yang membedakan adalah ada dimana potensi dan penguasaan si penulis terhadap bidang yang dia garap. Tentu penulis akan lebih mudah menghasilkan tulisan berkualitas ketika menggarap bidang yang dia kuasai.

Kalau belum mampu menulis di media cetak, ya nulis saja di blog. Kalau belum mampu menulis naskah buku, ya nulis saja artikel. Kalau belum mampu menulis novel, latih saja menulis cerpen. Toh kita tidak pernah tahu jodoh kita sebagai penulis ada di bidang tulisan yang mana. Bisa saja jodoh saya ternyata menjadi penulis konten website, padahal saya ingin sekali menerbitkan novel.

So, penulis pemula ada baiknya fokus pada satu bidang yang diaukai. Nulis fiksi atau nonfiksi, media cetak atau online.

Ketiga, dekatkan hubungan antara buku acuan dengan mesin ketik/ laptop.
Biasanya penulis senior melahap beberapa buku untuk mendalami satu tema yang akan ditulis. Bahkan ada beberapa penulis yang memiliki prinsip, "baca minimal 10 halaman untuk menulis 1 halaman." Dalam hal ini tentu saja bukan hanya sekadar membaca, melainkan mendalami materi yang akan ditulis.

Lha, masalah yang sering muncul pada penulis pemula seperti saya ini adalah mudah lupa bunyi dan letak kalimat yang akan dijadikan acuan dalam artikel. Seringkali harus membuka buku berulang-ulang atau website tertentu. Memang seharusnya ketika kita membaca buku atau referensi sudah siap mencatat hal-hal yang nantinya akan kita butuhkan dalam penulisan artikel atau naskah.

Nah, maka dari itu ketika kita siap menulis artikel jangan sampai letak buku acuan dan alat ketik/ laptop berjauhan. Sandingkan, jejerkan biar mesra. Sehingga ketika sedang mengetik tidak membuang-buang waktu mencari buku yang entah dimana. Belum lagi mencari letak kalimat yang akan kita jadikan bahan tulisan. Rempong, Bro.

Biar nyaman, coba deh bikin kursi buku. Gampang kok. Cuma modal hanger kawat dan tang doang. Iya, hangernya dibengkoin sedemikian rupa sehingga bentuknya mirip kursi. Seperti di gambar di poatingan ini nih.

Cara bikinnya gimana? Ada di yutube. Haha....

Ok, gaes. Sampai disini dulu tips dari saya. Jika ada yang perlu didiskusikan, silakan tinggalkan komentar. Kita diskusi, barangkali kalian punya pengalaman terkait hal ini.

No comments

Terima kasih sudah berkunjung ke Blog saya. Saya harap tidak meninggalkan komentar yang memicu konflik dan mengandung URL aktif. Jabat erat.