[Renungan] Mari Mematut Hati dan Lidah Kita

[Renungan] Mari Mematut Hati dan Lidah Kita - Seorang perawat perempuan berparas cantik menemui seorang pasien. Dia bergegas setelah bel ruang perawatan menyala, tanda seorang pasien butuh bantuan dari petugas jaga. Perawat itu kemudian bertanya, "adakah yang bisa saya bantu?"

"ini, Sus," Pasien dengan raut sedikit cemas menunjukkan selang infus yang menjulur di pergelangan tangan. "darahnya naik."

"Kenapa darahnya bisa naik begini, Bu?" Perawat itu menutup klem aliran selang infus.

"Tidak tahu, Sus. Tadi setelah dari kamar mandi saya lihat tau-tau sudah begini."

"Kalau ke kamar mandi tolong minta petugas untuk mematikan aliran infusnya dulu. Atau ibu harus tempatkan cairan infusnya lebih tinggi dari posisi jantung. Kan di kamar mandi sudah disediakan gantungan tempat infus, Bu."

"Maaf, Sus. Saya...."

"Kalo sudah begini kan saya yang repot. Iya kalo bisa dibenerin. Kalau tidak, kan harus infus ulang lagi. Memangnya ibu nggak bosen apa di coblas-coblos?" Suara perawat berbibir tipis itu nadanya meninggi. Mengiringi lirikan cepat matanya yang mengunci pendangan seorang ibu yang infusnya bermasalah.

Ibu yang terbaring deman itu hanya diam. Dia sadar bahwa pasien dengan jaminan sosial sepertinya tidak bisa menuntut lebih. Tidak seperti pasien umum yang bisa mendapatkan layanan VIP. Maka ketika berkali-kali diomelin perawat, si Ibu hanya bisa menerima dengan lapang dada. Meskipun sebenarnya hal ini tidak benar, tapi hati kecil ibu yang sedang sakit itu membawa logika penerimaan atas kondisi sakit yang sedang dia alami. Kondisi keterbatasan hidup yang dia jalani selama telah membentuk sebuah hati yang cukup lapang menerima setiap kekurangan.

Perawat berbusana putih bersih itu membenahi aliran infus yang tersumbat. Matanya tak begitu simpati mengirim tatapan hangat. Lidahnya beku, seperti tak sanggup menyapa ramah pada sosok lemah yang dia rawat. Ternyata dalam hati perawat itu sedang bergemuruh. Memprotes kekesalan yang harus dia terima karena beberapa kali harus berurusan dengan pasien yang rewel. Belum lagi endapan luka hati terkait ketidakadilan soal pemberian tunjangan yang terus menyulut penolakan untuk bekerja lebih baik. Dia merasa lelah.

Siapa yang bisa membaca hati si perawat cantik itu? Rekan kerja, atasan, pasien, atau keluarga pasien mereka tidak punya urusan dengan bagaimana kondisi hati perawat. Ketika berhadapan dengan pasien, ya tugasnya merawat pasien sepenuh hati. Ketika berurusan dengan rekan kerja dan atasan, ya urusannya soal bagaimana dia harus menjalankan prosedur yang sudah ditetapkan. Dalam kondisi apapun suasana hati, seorang perawat harus menjadi perawat.

Namun, yang terjadi pada perawat cantik itu berbeda. Sudah beberapa tahun bekerja dia merasa tidak ada perbaikan gaji. Sempat beberapa kali mencoba menemui bagian manajemen untuk menanyakan perihal tersebut, namun responnya tidak memuaskan. Si perawat merasa beban kerjanya bertambah, tapi gaji tidak bertambah.

Hal itu kemudian membuat si perawat bekerja semaunya saja. Toh gajinya juga sama. Ngapain capek-capek kerja mondar-mandir ngurusin pasien yang rewel. Mendingan kerja sekenanya saja. Biarlah teman-teman yang gajinya sudah lebih banyak yang kerja.

Begitu pekat kekecewaan yang membebat hati si perawat. Membutakan mata hatinya. Membuat pemikirannya berbelok ke kiri karena hatinya lebih condong ke arah kiri. Hatinya terlanjur membatu, sewujud gumpalan dengan bisikan keburukan.

Maka yang terlontar dari lidah dan lisan si perawat menjadi lantunan yang menyakitkan. Nadanya sumbang, kalimatnya sinis menghujam. Ketika kalimat-kalimat itu menyentuh hati orang lain, bukannya meneduhkan, tapi menjengkelkan.

Ketika seseorang dalam kodisi sehat saja seringkali mudah tersinggung perkataan orang lain, apalagi saat sakit. Maka wajar jika si pasien merasa sakit hati. Menerjemahkan sikap si perawat cantik sebagai petaka lara dalam masa penyembuhannya.

"Terima kasih, Sus." Ucap ibu yang terbaring dengan wajah sedikit pucat.

"Iya, Bu." Balas perawat yang dipanggil suster oleh pasien itu.

***

Menjaga hati dan lidah kita bukanlah pekerjaan yang mudah. Setiap saat keduanya kita gunakan untuk bersentuhan dengan kehidupan. Bersentuhan dengan perilaku terhadap diri sendiri, juga perilaku sosial yang berhubungan dengan orang lain. Semua sikap kita, perilaku, ucapan, bahkan gerak tubuh kita dipengaruhi oleh suasana hati.

Atau juga sebaliknya, suasana hati kita mempengaruhi penerimaan sikap orang lain terhadap diri kita. Kadang seseorang lebih mudah tersinggung ketika suasana hatinya sedang buruk. Kadang juga lebih mudah marah ketika hati sedang sakit. Bahkan suasana hati bisa juga merenggut semangat hidup seseorang. Maka jagalah selalu hati kita.

Kita tidak mampu mengetahui secara pasti isi hati orang lain. Namun, kita bisa menebaknya dari apa yang ditunjukkannya. Baik dari ucapan, sikap dan perilaku. Hal yang paling fatal adalah ketika ucapan secara tidak sadar menyakiti hati orang lain. Meskipun tidak disengaja, tapi sakit yang ditimbulkan bisa membekas di hati dan sulit dihapuskan. Risikonya adalah munculnya KEBENCIAN.

“Tidak halal apabila seorang Muslim menjauhi kawannya lebih dari tiga hari. Apabila telah lewat waktu tiga hari tersebut maka berbicaralah dengannya dan beri salam. Jika ia menjawab salam maka keduanya akan mendapat pahala dan jika ia tidak membalasnya maka sungguhlah dia kembali dengan membawa dosanya, sementara orang yang memberi salam akan keluar dari dosa.”(HR. Muslim)

Baik orang yang membenci dan dibenci sama-sama mendapat kerugian. Sama-sama memikul dosa, kecuali bagi yang meminta maaf atau yang memaafkan. Dalam hadits di atas sangat jelas dianjurkan untuk saling memaafkan kesalahan.

Mari kita mematut hati dan lidah kita. Memperindahnya dengan saling memaafkan. Sudahkah kita meminta maaf dan memaafkan saudara kita?

Inspirasi:
"Jika hati dan lidah baik, maka tidak ada bagian yang lebih baik dari keduanya. Jika hati dan lidah buruk, maka tidak ada bagian yang lebih buruk dari keduanya."

Previous
Next Post »

Terima kasih sudah berkunjung ke Blog saya. Saya harap tidak meninggalkan komentar yang memicu konflik dan mengandung URL aktif. Jabat erat. ConversionConversion EmoticonEmoticon