Resensi Novel Tentang Kamu

Share:

Sumber Gambar: topsy.one


Judul                      : Tentang Kamu
Penulis                   : Tere Liye
Penerbit                  : Republika Penerbit
Tahun Terbit           : 2016
Cetakan                  : Pertama
Ukuran                   : 13,5 x 20,5 cm
Halaman                 : vi + 524 halaman
Peresensi               : Seno Ns

Apapun judul novelnya, jika penulisnya adalah Tere Liye, maka kamu tak akan rugi untuk membeli kemudian membaca isinya. Terutama bagi kamu yang masih merasa kesulitan memahami diksi atau bahasa penceritaan yang biasanya ditulis dengan puitis. Novel-novel Tere Liye menyajikan diksi yang ringan dan mudah di cerna. Bahkan pesan-pesan morang yang disampaikan pun sangat dalam dan mudah diterima.

Begitu juga kesan yang saya tangkap dari novel terbaru Tere Liye yang berjudul Tentang Kamu. Saya sempat terhanyut dalam cerita yang disajikan. Melalui tokoh Sri Ningsih, Tere Liye menunjukkan betapa kesabaran yang tak terbatas itu selalu berbuah manis.

Salah satu poin berharga yang akan pembaca dapatkan dari novel ini adalah pelajaran tentang bagaimana sosok Sri Ningsih menghadapi berbagai ujian dan cobaan hidup yang sangat berat. Kesabaran, persahabatan, keteguhan hati, cinta, dan upaya memeluk rasa sakit ditunjukkan di novel ini.  Melalui penataan plot dan bahasa yang mudah dipahami, Tere Liye kembali menggugah saya untuk menyelami pesan moral yang ada dalam novelnya. Mungkin juga hal ini akan terjadi pada anda, pembaca.

Cerita bermula dari sebuah kabar duka yang diterima oleh sebuah Firma Hukum di Belgrave Square, London. Tentang kematian seorang Sri Ningsih yang sama sekali tidak memiliki keluarga dan ahli waris. Namun, dia meninggalkan harta senilai satu milyar pounsterling. Maka ditunjuklah Zaman Zulkarnaen untuk menyelesaikan kasus perihal kejelasan siapa pewaris harta yang layak sebelum disita dan menjadi milik Ratu Inggris.

Berbekal buku harian, Zaman menelusuri tempat-tempat yang pernah disinggahi Sri Ningsih. Pulau Bungin, Solo, Jakarta, London hingga Paris. Berbagai informasi dia kumpulkan dari orang-orang yang ditemui. Mulai dari kerabat kerabat dekat, hingga teman-teman dekat yang menyaksikan dan berinteraksi langsung dengan kehidupan Sri Ningsih.

Di Pulau Bungin Zaman tercengang dengan cerita masa kecil Sri Ningsih yang memilukan. Cerita tentang bagaimana Ibunya meninggal sewaktu melahirkan Sri, bapaknya hanyut ditelan ombak ketika Sri kecil berumur 9 tahun, dan bagaimana Sri gagal menyelamatkan Ibu tirinya yang hangus terbakar. Zaman merasakan betapa Sri memiliki kesabaran tak berbatas. Ketika lara mendera, siksaan ibu tiri beruntun menyiksa, tetapi Sri justru mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan Ibu tirinya dari kebakaran. Meskipun akhirnya gagal.

Atas bantuan Tuan Guru Bajang akhirnya Sri Ningsih hijrah ke Solo menimba ilmu di sebuah madrasah. Disini Sri mendapatkan sahabat karib, Nur’aini dan Mbak Lastri. Awal persahabatan mereka begitu indah, hingga pada akhirnya masalah kecemburuan social merusak segalanya. Mbak Lastri bersama suaminya terlibat aksi pemberontakan tahun 1965. Lingkungan madrasah pun tak luput dari target pembantaian. Mbak Lastri dan Suaminya dibutakan oleh ambisi dan dendam bersama gerombolan lainnya menyerang madrasah. Sri yang menolak ajakan Mbak Lastri dianggap berkhianat. Dia tidak bisa mengingkari kejujuran di hatinya hingga kemudian bersaksi yang menghasilkan putusan bahwa Mbak Lastri bersalah.

Sri Ningsih kemudian hijrah ke Jakarta. Memulai hidup dengan bekerja di sebuah pabrik sabun, menjadi penjual nasi goreng, menjadi pengusaha rental mobil hingga sukses menjadi pengusaha sabun dan produk toiletries. Namun, ditengah kesuksesan Sri justru menjual saham perusahaannya. Dia kemudian hijrah ke London menjadi supir bus angkutan umum.

Di London Sri Ningsih menemukan sosok cinta sejatinya. Menemukan keluarga baru, merasakan kebahagiaan yang luar biasa namun juga rasa sakit yang tak terkira. Anak pertamanya meninggal ketika dia belum sempat mendengar tangisnya. Anak keduanya juga meninggal setelah menghirup udara tak lebih dari 10 jam. Kemudian suaminya juga meninggal, Sri Ningsih kembali sendirian, kemudian memutuskan tinggal di panti jompo di Paris. Hingga pada akhirnya meraih cita-citanya keliling dunia dan meninggal dunia.

Perjalanan Zaman Zurkarnaen memecahkan kasus Sri Ningsih ini tidak mudah. Apalagi setelah munculnya sosok yang mengaku sebagai ahli waris yang sah atas harta warisan yang ditinggalkan Sri. Sosok Tilamuta (adik kandungnya yang sudah meninggal) hadir kembali. Zaman akhirnya harus berhadapan dengan masalah yang hamper saja merenggut nyawanya.

Apa yang ditunjukkan Tere Liye dalam novel setebal 524 halaman ini sangat memesona. Mulai dari setting, kekuatan karakter tokoh, alur yang disajikan, dan pesan moral yang coba dihadirkan enak untuk dinikmati. Apalagi disampaikan dengan diksi yang ringan sehingga tidak memerlukan energy lebih untuk menelaah makna kalimat yang dituliskan.

Saya sangat merekomendasikan novel ini untuk dibaca. Terutama bagi kalangan remaja. Meskipun sebenarnya genre novel ini hamper bisa diterima oleh semua kalangan.


No comments

Terima kasih sudah berkunjung ke Blog saya. Saya harap tidak meninggalkan komentar yang memicu konflik dan mengandung URL aktif. Jabat erat.