Bunuh Rasa Malu dan Mulailah Ngeblog

Bunuh Rasa Malu dan Mulailah Ngeblog - Kalau kamu adalah tipikal orang yang introvert, barangkali ngeblog merupakan terapi yang pas untuk memperbaiki kepribadianmu. Segera bunuh rasa malu yang ada dalam dirimu dan mulailah ngeblog. Semakin cepat semakin baik.

Saya masih ingat betul masa-masa buku diary begitu populer. Terutama di kalangan cewek dan beberapa cowok yang pada jaman itu terinspirasi film atau sekadar trend di masa itu. Saya dulu sempat punya buku diary, tapi tak sekalipun benar-benar leluasa menulis di dalamnya.

Jujur saja ada faktor keberanian yang terbatas untuk menulis diary. Takut dibilang lebay jika dibaca oleh teman atau orang lain. Bahkan kadang ketika saya baca ulang tulisan diary yang dulu pernah ditulis, ada rasa malu yang entah bagaimana seperti semakin menyiutkan nyali untuk melanjutkan tulisan. Ini yang kemudian justru membuat waswas kalau suatu saat ada yang membaca diary saya. "Apa jadinya dunia ini, bro?"

Mungkin kondisinya beda dengan yang dirasakan oleh kaum cewek. Mereka mengaku bisa sangat lega setelah menulis curhatan dalam diary mereka. Beberapa cewek sangat rajin menulis dan pada suatu masa mereka merasa inilah media yang tepat untuk mencurahkan kekesalan dan permasalahan mereka. Tentu diary lebih bisa dipercaya untuk menjaga rahasia dibanding dengan manusia.

Lalu bagaimana dengan kaum cowok? Ah, sepertinya bukan masalah pokok memiliki diary atau tidak. Bagi sebagian besar cowok, yang memang memiliki sifat tidak mudah terbawa perasaan, lebih mudah melampiaskan ke media lainnya. Main game misalnya, traveling, atau tawuran. Yang jelas ada perasaan lega ketika bisa melampiaskan kekesalan dengan cara lelaki. Lebih joz lagi kalo ada yang bilang, "wuih..., laki banget gaya Lu."

Mengamati perilaku dan kepribadian beberapa teman pergaulan saya, ada hal menarik yang membuat saya bertanya-tanya. Bagaimana dengan cowok yang memiliki kepribadian introvert atau menutup diri alias kurang gaul? Dengan cara apa mereka melampiaskan kekesalan atau masalahnya? Tentu menulis diary bagi mereka bukanlah solusi yang pas untuk mengatasi masalahnya. Meskipun ada beberapa dari mereka yang suka menulis diary, tapi prediksi saya tetap ada secuil rasa malu dan takut yang mengganggu.

Sempat terpikir oleh saya tentang bagaimana solusi terbaik bagi orang yang memiliki kepribadian introvert agar lebih percaya diri untuk mengaktualisasikan diri. Dengan memanfaatkan media pelampiasan yang tepat. Yakni semacam diary atau media tulis yang memadai dan efektif untuk menampung kreatifitas. Mengapa media tulis, karena menurut saya media inilah yang paling bersahabat dan tentu saja saat ini sedang booming. Artinya sudah banyak fakta menunjukkan bahwa banyak orang sukses dari hasil kegiatan menulis. Sebut saja salah satunya bloger.

Tentu sangat menarik ketika melihat para bloger senior mendulang dolar dan rupiah dari kegiatan blogging. Apalagi melihat fenomena media sosial yang begitu meledak kepopulerannya di Indonesia. Blog dan media sosial bagi kalangan orang kreatif bisa menjadi senjata untuk menghasilkan uang. Bagi sebagian besar lainnya bisa membantu meningkatkan rasa percaya diri. Terutama bagi orang-orang yang merasa memiliki hambatan dalam menjalin interaksi langsung dengan orang alias berkepribadian introvert.

Nah, menurut saya kita bisa memanfaatkan media blog sebagai alat untuk menumbuhkan rasa percaya diri. Lalu apa hubungannya dengan orang yang memiliki kepribadian introvert?

Mudahnya untuk memahami kaitan diantara yang saya maksud akan coba saya ilustrasikan dengan kasus berikut.

Anggaplah saya memiliki gangguan rasa percaya diri untuk bergaul dengan orang lain alias menutup diri dengan orang di luar sana. Saya lebih suka menyendiri, menghadapi permasalahan hidup sendiri, dan sebisa mungkin menjauhkan orang lain dari masalah yang tengah saya hadapi. Orang tipikal seperti saya ini (baca: yang memiliki kepribadian introvert) butuh media pelampiasan untuk mengurangi beban masalah yang tengah dihadapi. Meskipun seringkali cenderung memendamnya dan menanggungnya sendiri. Tapi yang namanya manusia selalu butuh pertolongan orang lain. Karena kodratnya sebagai makhluk sosial yang tidak bisa dipungkiri.

Cara terbaik buat saya yang memiliki kepribadian seperti itu adalah dengan mengungkapkan masalah yang sedang dihadapi. Maka saya pilih media blog sebagai media curhat alias pelampiasan uneg-uneg itu. Karena tentunya pembaca blog sebagian besar tidak tahu betul siapa saya, saya pun bisa menggunakan nama pena, dan kebutuhan mencurahkan isi hati dapat terpenuhi.

Mulailah saya menulis satu paragraf, dua paragraf, hingga beberapa artikel yang terpublish di blog. Awalnya berisi curhatan. Soal kesedihan, kesenangan atau menuliskan pengalaman teman yang begitu menginspirasi saya untuk bangkit dari masalah.

Dari hari ke hari pengunjung blog saya mulai bertambah. Bahkan beberapa pengunjung blog meninggal komentar yang meskipun singkat ternyata cukup untuk membuat saya merasa diperhatikan.

Beberapa waktu berlalu, semakin bertambah pengunjung blog bahkan kali ini ada beberapa pengikut blog saya. Ada pembaca setia, ada pembaca yang begitu empati selalu memberi motivasi. Orang-orang yang mungkin tidak saya kenal mulai mengenal saya. Meskipun hanya sebatas dari permasalahan hidup yang saya tulis di blog.

Semakin hari interaksi saya dengan para pembaca blog saya semakin intens. Saya mulai berminat bergaung dalam komunitas, ikut merasakan bagaimana indahnya memiliki teman, dan mulai menemukan inilah teman-teman saya.

Dari pengalaman berinteraksi dengan teman-teman bloger itulah kemudian menyadarkan saya bahwa di luar sana masih banyak orang yang mengalami masalah seperti saya. Bahkan lebih parah. Dan mereka mampu bertahan kemudian bangkit.

Semua berawal dari mampukah kita membunuh rasa malu dan mulai mempublish tulisan di blog. Tulisan jenis apa yang di publish? Apapun. Awalnya mungkin sebatas tulisan curhat, lama-lama tentang tips bagaimana bangkit dari keterpurukan.

Secara tak sadar dalam diriakan tertanam keberanian untuk mengungkapkan permasalahan yang dihadapi. Keinginan berbagi dan kesempatan membuka diri atas pergaulan dengan dunia luar. Hingga kemudian benar-benar membaur dengan dunia luar. Maka saat itulah saya berubah menjadi pribadi yang tak lagi introvert.

Kurang lebih seperti itulah ilustrasi bagaimana memanfaatkan media blog untuk mengubah kepribadian introvert menjadi lebih sosial dan terbuka. Pada akhirnya mengembalikan kodratmanusia sebagai makhluk sosial yang membutuhkan berinteraksi secara langsung dalam beraktifitas.

Kamu boleh saja memiliki pendapat lain terkait hal ini. Namun postingan ini saya tulis berdasarkan pengalaman pribadi saya. Pengalaman yang saya alami dan saya dapatkan dari hasil interaksi dengan orang-orang disekitar saya.

Semoga sedikit cerita memberikan hikmah bagi pembaca. Memberikan motivasi untuk bangkit dari keterpurukan.

Quote dari saya, "jika kamu malu menulis diary karena dibilang lebay, menulislah di blog. Setidaknya disana ada pembaca yang sama lebaynya denganmu."

Salam blogger kreatif.
Previous
Next Post »

2 blogger-disqus

Click here for blogger-disqus
16/01/2017, 11:01 ×

saya juga seorang introvert, Alhamdulillah saya menemukan blog sebagai medianya

saya menulis hal-hal yang saya alami di dunia nyata. Dulu, tidak saya publish atau follow up supaya teman-teman tau. Cukup dibaca oleh teman-teman jauh (dari dunia maya) yang mereka nggak mengenal saya sepenuhnya. Cukup terlampiaskan dengan hal itu

Kalau sekarang, hmm... untuk kebutuhan lomba, maka saya mau nggak mau mempromosikan blog saya kepada teman-teman di dunia nyata. Fiuuuh, cukup berat bagi saya melakukannya, hahaha

Reply
avatar
Eko Suseno
admin
16/01/2017, 15:08 ×

jiahaaha.... yang penting enjoy mbak. setiap orang ada masanya, setiap masa ada orangnya. mungkin masa lalu kita adalah sosok introvert, tapi siapa kita di masa depan belum ada yang tahu. kita sendiri yang mampu merubah takdir kita. hehe....

Reply
avatar

Terima kasih sudah berkunjung ke Blog saya. Saya harap tidak meninggalkan komentar yang memicu konflik dan mengandung URL aktif. Jabat erat. ConversionConversion EmoticonEmoticon