[10DaysKF] Surat Untukmu, Mbok

Assalaamu'alaikum, Mbok.... 

Bagaimana kabarmu disana? Semoga lebih bahagia. Aku sengaja berkirim surat kepadamu. Melalui barisan kata yang sepertinya tidak akan pernah kau baca. Karena aku tahu tanpa membaca surat ini pun kau bisa memahami apa yang akan kukabarkan padamu. 

Sebenarnya berat sekali bagiku untuk menuliskan surat ini. Terutama setelah hari itu. Hari yang kuharapkan menjadi pertemuan terakhir kita, tapi tak pernah terwujud. Meski begitu besar berharap, ternyata tak bisa merubah apapun. Pertemuan terakhir itu tetap tiada. 

Aku ingat engkau pernah bilang, "aku tak omah karo sampeyan ae yo, Le?" Kau ingin tinggal serumah denganku. Sedangkan saat itu aku pikir hidupmu cukup bahagia bersanding dengan Mbah Kakung dan anak-anak kesayanganmu. 

Maka aku, hanya anggap ucapanmu itu sebagai pelipur lara. Bagaimana mungkin anak-anak kesayanganmu akan mengijinkan tinggal bersamaku, cucumu. Sementara mereka masih sangat berharap bisa berbakti dengan merawatmu sebaik-baiknya. 

Hari itu ternyata hari terakhirku bisa melihat senyummu. Iya, dua hari setelah hari itu Bapak memberi kabar tentangmu. Tentang kesehatanmu, hilangnya senyummu. Kau terpaksa menghabiskan sisa umur dengan berbaring dan tak berdaya. 

Aku..., tak tahu harus melakukan apa. Keterbatasan membuatku tersudut menjadi orang yang paling berdosa. Maafkan aku, Mbok.... 

Aku harap kau tidak akan pernah bertanya kepadaku. Tentang dimana keberadaanku saat Tuhan memisahkan nyawa dari ragamu. Jangan pernah, Mbok. 

Saat itu aku sudah berusaha berlari menemuimu. Dari Jogja ke Banyuwangi, rumahmu, rumah masa kecilku dipangkuanmu. Namun, apa dayaku? Tuhan mengulur waktu. Membuatku harus mengikhlaskan kepergianmu di separuh pelarianku menujumu. Sekali lagi, maafkan aku. 

Secepat apapun aku berlari, sekuat apapun berharap, ternyata pelukan yang kubawa tak juga bisa kau terima. Aku bisa apa, Mbok? 

Aku hanya bisa mendaratkan pelukan pada nisan yang bertuliskan namamu. Aku hanya mampu meengganti ucapan maaf melalui doa diaamping pusaramu. 

Ini sungguh di luar rencanaku, Mbok. Jika surat ini sempat kau baca. Atau kata hati ini mampu kau tangkap, maka maafkan cucumu ini, Mbok. 

Semoga pertemuan terakhir kita yang tak pernah ada itu tidak mengurangi kebahagiaanmu disisi-Nya. Aamiin. 

Yogyakarta, 2017

Previous
Next Post »

Terima kasih sudah berkunjung ke Blog saya. Saya harap tidak meninggalkan komentar yang memicu konflik dan mengandung URL aktif. Jabat erat. ConversionConversion EmoticonEmoticon