[10DaysKF] Shocking Moment Pada Pandangan Pertama

[10DaysKF] Shocking Moment Pada Pandangan Pertama - Kami bukanlah orang yang romantis. Setiap kisah yang terlewati kayak nggak ada gregetnya. Gitu-gitu ajah. Semacam SMS-an, kenalan, LDR-an, ketemu, nikah lalu punya anak. Sudah, gitu doang. Semua orang kayaknya juga ngalamin masa-masa kasmaran macam itu. Namun, soal pertemuan pertama memang spesial. 

Sebenarnya cerita ini sudah saya tulis di buku antologi true story Ya Allah Ijinkan Kami Menikah. Baru terbit pertengahan bulan Januari ini. Karena tema writing challenge #10DaysKF hari keempat menuntut hal ini, maka saya akan ceritakan ulang. Ya itung-itung sambil promo sekalian curcol dikit tak apa lah. 

Pertemuan pertama saya dengan si Dia bukanlah saat pertama kali kenalan. Melainkan setelah tahunan kami jadian. Parahnya lagi selama tahunan jadian kami belum pernah tahu rupa masing-masing. Iya, sebatas meraba-raba dari suara dan karakter bahasa dalam SMS. Serius. 

Selain media sosial yang belum booming, mungkin masalah privasi juga yang menyebabkan harus menyembunyikan identitas masing-masing. Maklum saya kenalnya kan lewat jalur spesial. Jauh dari modus kenalan pada umumnya. 

Jaman sekarang mungkin tidak ada pacaran model kayak yang saya alami. Rata-rata anak jaman sekarang riset dulu tentang si dia di media sosial. Buka-buka akunnya. Lihat-lihat gaya postingannya. Setelah manteb, godain dulu. Kalo responnya bagus, baru lanjut serius. Cara semacam ini mah pasaran.

Kecuali bagi orang-orang yang ideologinya kuat. Nah, mungkin mereka tidak terlalu mempermasalahkan soal bagaimana detail calon pasangannya. Kalo ada yang rekomended, langsung lamar. Pacarannya entar setelah nikah. 

Berhubung jalan cinta saya digariskan begitu, ya saya jalani aja. Nembak beberapa kali di tolak. Nyoba nembak lagi, eh di terima. Alhamdulillah. Belum tahu rupa orangnya nggak masalah, yang penting jadian dulu aja. 

Dia kerja di Bandung, saya kuliah di Jogja. Dengan dalih butuh pendamping wisuda, si Dia saya minta ke Jogja. Hehe.... Modus yang sempurna. 

Akhirnya dia setuju pulang ke Jogja. Kepastian itu saya dapat melalui kabar layar handpone Nokia 8250 yang selama ini menjadi penyambung rindu saya padanya. Ahay.... 

'Besok pagi aku sampai di Jogja. Naik bus dari Bandung. Ketemuan di terminal Giwangan, ya?'

Rasanya kayak kesiram madu, lalu nyebur kolam susu sambil koprol gaya baling-baling bambu. Nyez di hati. 

Menunggu waktu semalam saat itu rasanya kayak orang kenthir. Mesam-mesem, guya-guyu tak jelas. Berkali-kali razia jerawat dan anak kumis melalui cermin yang tertempel di tembok kamar. Sehelai rambut saja kelihatan di wajah langsung kepras, jerawat-jerawat saya dempul sementara. Pokoknya besok pagi harus tampil kece. 

Sehabis subuh, di tanggal dan waktu yang dinantikan, saya langsung meluncur ke terminal Giwangan. Stand bay di seberang jalan di depan gerbang masuk bus terminal Giwangan. Mata ini fokus menyeleksi plakat bus jurusan Bandung Jogja. 

Tiba-tiba saja Nokia 8520 saya bergetar. Ku lihat nama dia berkedip di layar buram semu kuning handphone itu. 

"Halo, Do," dia memanggil. "kamu dimana? Aku nunggu di pos ojek perempatan bangjo ringroad Giwangan."

"Ok, ok..., aku ke sana."

Saya geber supra x warna silver. Menikung melewati bangjo rambu-rambu depan gerbang masuk bus terminal Giwangan. Menuju pos ojek yang mangkrak di pojok selatan terminal Giwangan. 

Tidak ada orang lain disana selain seorang cewek kurus berambut warna-warni. Sepontan saja saya tersenyum, dia membalas. Tapi senyum itu terasa nanggung. Sepertinya kami sama-sama berpikir, "inikah si Doi? Ya sudahlah." Shock, Bro! 

"Nih pake helmnya," kusodorkan satu helm untuknya. "mau jalan kemana nie?"

"Ambarukmo, ke rumah saudaraku."

Kami melaju di belantara ringroad selatan menuju Ambarukmo. Sepanjang perjalanan tak banyak suara obrolan antara saya dan dia. Tak seheboh saat di telepon atau SMS. Andai orang lain melihat kami yang berboncengan, mungkin dikira kakak adik. Dia di ujung jok belakang, sedangkan saya mepet stang. Kira-kira kalo diantara kami di isi penumpang, masih muat sekitar 5 orang kurus-kurus berboncengan sambil nahan napas. 

Ah, itu hanya bagian dari cerita masa lalu saya. Pada akhirnya dialah jodoh saya. Menjadi istri yang setia dan melahirkan buah hati yang luar biasa. Hidup ini indah, Bro. Meskipun kadang-kadang kita dibikin gila. 

Yah, itu saja dulu cerita yang bisa saya share disini. Kalau panjang-panjang takut di copy paste, di plagiat, di bikin novel horor sama orang. Haha....
Previous
Next Post »

2 blogger-disqus

Click here for blogger-disqus
18/06/2017, 18:59 ×

Bagaimana rasax kesiram madu, nyebut kolam susu dan koprol? Bru dengar kata ini. Kalo baling-baling bambu emang kece bang...hehe

Reply
avatar
Eko Suseno
admin
19/06/2017, 04:04 ×

Jiahaha... Rasanya lebih aduhai dibanding melayang pakai baling-baling bambu mbak. Wkwkwk

Reply
avatar

Terima kasih sudah berkunjung ke Blog saya. Saya harap tidak meninggalkan komentar yang memicu konflik dan mengandung URL aktif. Jabat erat. ConversionConversion EmoticonEmoticon