[10DaysKF] Perutku Terlanjur Di Bedah

[10DaysKF] Perutku Terlanjur Di Belah
"Aku masih mengingatnya. Ketika perut ini di belah dan tak ada apapun yang disangkakan olehnya. Dia salah."

Seorang anak menjerit, mengerang sakit. Perutnya menegang. Keringat dan air matanya sama deras mengucur. Namun, tidak dengan air kencing yang membengkakkan perutnya. Berkali-kali dia julurkan burung mungilnya, tetap saja cuma setetes. Sekuat tenaga dia mengejan, tapi hanya menambah setetes. Apa yang terjadi? 

Bagi anak yang usianya belum genap lima tahun kondisi itu sangat menyakitkan. Dia hanya ingin kencing seperti biasa. Dari burung yang sama, tanpa mengejan yang menguras tenaga. Sayang otaknya baru sebiji siwalan, sehingga tak sempat berpikir masalah apa yang sedang dia alami. 

Bagaimana dengan bapaknya?
Lihatlah seorang bapak bertubuh kurus itu. Di pikirannya terlalu banyak pertanyaan. Dia sibuk bertanya, apa yang sedang terjadi pada anaknya? Bagaimana bisa kencingnya tidak keluar? Demit macam apa yang sedang jail? Apa dosanya? 

Pertanyaan itu hanya akan terus berwujud pertanyaan. Apa daya sebuah otak yang tak sekalipun dijejali menu santap tentang penyakit dan obat-obat modern? Yang sering terekam di otak bapak itu hanya sebatas klenik dan pitutur kejawen. Apa yang dia pikirkan tak jauh dari hal itu. 

Bagaimana dengan ibunya?
Lihatlah, seorang ibu yang suaranya merdu saat tilawah Al Quran itu terus tergugu kelu. Ketebalan hatinya semakin pipih teriris perih jerit anak laki-lakinya. Apa yang dia bisa, selain menangis dan menyebut nama-Nya untuk memohon pertolongan? 

Ah, malang benar nasib anak itu. 

Hasil pergulatan pikiran bapak si Anak Malang akhirnya memunculkan wacana untuk membawa anaknya ke rumah seorang mantri. Secara ilmu kejawen jelas penyakit anak itu tidak mampu di terawang. Jalan terakhir yang bisa di tempuh adalah jalur medis. Apa boleh buat demi keselamatan anak, apapun harus dilakoni. Termasuk mengesampingkan ego yang selalu mengunggulkan ilmu kejawen di atas segala hal. 

Setelah seorang mantri memeriksa, dia mengatakan si Anak Malang terkena KENCING BATU. Maka dibuatlah surat rujukan ke rumah sakit di Kabupaten Kota untuk segera dilakukan tindakan operasi. 

Dengan segala keterbatasan informasi dan pemikiran, akhirnya si Bapak manut saja. Membawa Anak Malangnya ke rumah sakit di Kabupaten Kota untuk tindakan operasi. Masalah biaya dipikir belakang. Yang penting derita anaknya hilang. 

Sesampainya di rumah sakit, si Anak laki-laki berambut jagung ini langsung di minta puasa oleh dokter bedah. Tindakan operasi akan dilakukan setelah 6 jam puasa. Tidak ada yang bisa dilakukan si Bapak selain manut anjuran dokter. 

Satu jam sebelum operasi, petugas medis melakukan pengosongan isi perut si anak. Memasukkan sejenia cairan pencuci perut ke dubur anak itu, menggunakan benda seperti alat suntik ukuran besar. 10 menit setelah cairan itu masuk, seluruh isi perut anak itu termuntahkan melalui jalan belakang. Kosong. 

Begitu tiba waktu yang ditentukan, anak itu memilih gendongan bapaknya sebagai kendaraan menuju ruang operasi. Dia menolak brankard atau kursi roda. Jelas baginya pelukan bapak adalah tempat ternyaman untuk meredam ketakutan. 

Di ruang persiapan, selembar sapu tangan membekap mulut anak itu. Dia berontak, tapi tangan-tangan yang mendekapnya lebih kuat. Dia terkunci. Menggeliatkan tubuh pun sia-sia. Teriakannya teredam selembar kain yang berlumur chloroform. Anak itu pingsan. Hilang kesadaran. 

Entah apa yang terjadi di kamar operasi. Begitu anak itu sadar, dia melihat luka sobek di perutnya yang di balut verban. Dia pun kaget melihat penampakan burung mungilnya yang terbebat verban juga. 

"Sesuk yen koe wis gede, kudu iso nyuntik. Ojo dadi wong bodho. Men ra gampang diapusi wong liyo." Wejang sang Bapak kepada anaknya yang masih 5 tahun. 

***

21 Tahun kemudian, anak lelaki itu telah merampungkan kuliahnya. Dia juga telah lunas mengucap sumpah sebagai tenaga kesehatan. Apa yang diinginkan bapaknya terkabul. 

Momen itu sekaligus menjadi bukti bahwa seorang petani miskin, kampungan, mudah di bodohi orang lain akhirnya mampu menyekolahkan anaknya hingga lulus sarjana keperawatan. 

"Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini jika kita mau berusaha."
Fakta mencengangkan kemudian terkuak. Bahwa si anak malang ini ternyata korban kesalahan diagnosa. Yang ketika umur 5 tahun, seorang mantri mendiagnosanya KENCING BATU tanpa melakukan pemeriksaan diagnostik penunjang sebelumnya. 

Dia ingat bagaimana bapak pernah cerita, "dulu pas di bedah, kata dokternya gak ketemu penyakitnya. Akhirnya disarankan untuk disunat sekalian, mumpung masih di kamar operasi. Ya, bapak manut saja gimana baiknya. Dokter kan lebih tahu."

Apa yang bisa diperbuat si anak malang ini yang sekarang telah menjadi mantri juga? 

Menerima masa lalu dan menjadikannya suplemen untuk lebih kuat menghadapi hidup. Dia tak mau menyia-nyiakan upaya bapaknya menyambung nyawa. 

"Apa yang terjadi di masa lalu tidak akan pernah di ulang atau di rubah. Masa lalu hanya bisa dijadikan guru. Dijadikan pijakan untuk memperbaiki masa depan. Suatu saat kau akan butuh luka-luka masa lalu sebagai sumber kekuatan"
Previous
Next Post »

Terima kasih sudah berkunjung ke Blog saya. Saya harap tidak meninggalkan komentar yang memicu konflik dan mengandung URL aktif. Jabat erat. ConversionConversion EmoticonEmoticon