[10DaysKF] Mendua Adalah Jalan Menuju Setia

Share:

[10DaysKF] Mendua Adalah Jalan Menuju Setia - Hal paling buruk yang dilakukan oleh seorang kekasih adalah mendua. Dia hanya memiliki satu hati, namun cintanya bercabang. Meskipun hal ini seringkali dianggap sebuah sensasi, tapi bagi kekasih lainnya ini adalah bentuk pengkhianatan.

Coba kita menyelami dunia percintaan yang ada di sekitar kita. Amati orang-orang terdekat, bagaimana mereka menjalani romance hidupnya. Atau paling mudah, coba tanyakan kepada orang-orang, pernahkah mereka mendua? Mencintai 2 orang dalam waktu yang sama.

Hehe..., banyak nie yang menjawab pernah mendua. Rata-rata mereka adalah cowok, tapi bukan berarti cewek tidak pernah mendua. Sama saja. Apalagi di era gadget seperti sekarang ini. Atau jangan-jangan sekarang "Mendua" sudah jadi trend kekinian?

Banyak pasangan suami istri cerai karena sebab orang ketiga. Banyak anak stress karena menjadi korban perceraian orang tua. Ada beberapa cewek-cewek cantik mati sia-sia karena dikhianati lelaki pujaannya. Banyak jomblo yang rela nggak nikah-nikah karena setia untuk tidak mendua. #lho menyatu aja belum.

Lalu sensasinya mendua tuh dimana?
Saya coba cerita sedikit soal masa lalu kelam saya boleh ya? Xixi....

Dulu semasa SMA saya pernah menjalin komitmen dengan seorang cewek. Komitmen untuk saling menjaga, saling mencintai. Hingga lulus SMA komitmen itu masih berlanjut. Bahkan komitmen itu kami jalani hingga kurang lebih 4 tahun. Namun, jarak menjadi perintang hubungan saya dengan dia.

Pada suatu masa saya sibuk kuliah, dia juga. Awalnya sering ketemu, lama-lama lelah. Apalagi setelah hadir orang ketiga diantara saya dan dia. Seorang cowok yang awalnya dikenalkan sebagai teman dan saat ini menjadi suami dia. Break. Saya mengalah.

Sejak saat itu saya menggila. Cari pelampiasan rasa kecewa. Modusnya cari pacar, tapi tak pernah ada ikatan. Saya gantung aja status cewek-cewek yang pernah dekat dengan saya. Hingga pada saatnya saya menemukan cewek yang saya pikir pas untuk menjalin komitmen saling menjaga dan mencinta.

Untungnya dia bukan orang Jogja, sehingga saya bisa melebarkan sayap di jogja. Cari perhatian di mata cewek-cewek Jogja. Ya, sekadar asik-asik aja. Kenalan, ketemu, makan angkringan, ngopi-ngopi, gitu-gitu aja. Lumayan bisa ngurangi stress mikir kuliah.

Pada suatu titik, masalah terjadi. Kebiasaan bergaul dengan cewek-cewek itu ternyata melelahkan. Berat di ongkos juga stress di pikiran. Bagaimana tidak? Jika sewaktu-waktu harus hidup dalam pura-pura. Semakin hari semakin sering melihat cewek-cewek menangis, pun semakin lanyah mengucapkan maaf. Entah apa yang ada di otak saya waktu itu. Apakah ini sensasi? Nggak tahu.

Pada akhirnya saya merasa bosan dengan kehidupan seperti itu. Bikin gak tenang. Tiap hari harus menyembunyikan satu kebohongan dan kebohongan lainnya. Dan itu melelahkan. Ahirnya, saya memutuskan serius mencari calon istri. Untuk menghilangkan kelakuan buruk itu.

Jika saya tidak segera mengakhiri masa lajang, maka kebiaasaan buruk itu bisa saja berulang. Godaan lelaki lajang itu berat, Bro. Jadi segeralah menikah.

Sejak mendapatkan calon istri, saya berjanji tidak akan mengulangi kesalahan di masa lalu. Saya hanya akan setia pada satu wanita, yaitu istri saya. Ini komitmen saya untuk saling menjaga dan saling mencinta. Memang tidak mudah, tapi begitulah seharusnya yang dilakukan oleh seorang kekasih. Saling menjaga, saling mencinta, tidak mendua.

Mendua bisa menjadi jalan untuk setia jika kalian menyadari bahwa mendua adalah hal yang sia-sia. Mendua bukanlah jalan untuk mencari sensasi. Karena mendua adalah sebuah pengkhianatan.

No comments

Terima kasih sudah berkunjung ke Blog saya. Saya harap tidak meninggalkan komentar yang memicu konflik dan mengandung URL aktif. Jabat erat.