[10DaysKF] Ke-tomboy-an Dalam Diri Pesolek

[10DaysKF] Ke-Tomboy-an Dalam Diri Pesolek - Kalau sebagian besar laki-laki mendambakan perempuan yang cantik, seksi, putih, tinggi, dan tetek bengek lainnya, maka saya tidak. BIG NO!!! Kriteria semacam itu sudah biasa. Mainstream. Bukan karena saya kurang waras, tapi karena saya memang bukan anda. 

Orang tua jaman penjajahan Belanda mewariskan kepada anak cucunya agar melihat "bibit, bobot, dan bebet" ketika memilih calon pasangan hidup. Tujuannya agar setelah menikah tidak ada penyesalan. Entah menyesalkan kekurangan fisiknya, hartanya, atau sifat dan kelakuannya. Tidak ada yang salah dengan pewarisan ini. Yang salah adalah yang menerima warisan tapi masih suka jajan dan pelihara simpanan. 

Namun, syarat yang muluk-muluk seperti itu kadang justru mempersulit seseorang untuk segera mengakhiri masa lajangnya. Mengakhiri takdir kejombloannya. Bahkan beberapa orang yang umurnya kadaluwarsa kemudian berubah haluan membuka diri terhadap kriteria pasangannya. Tak begitu memperhitungkan kesempurnaan fisiknya. Yang penting laku, Boz. Seneng-senengnya belakangan. 

Dulu ketika saya masih SMA, pernah mendambakan cewek tomboy yang tidak suka dandan. Bahkan kalau bisa, jago bela diri sekalian. Jadi kalau mau kemana-mana tidak ribet. Pun jika situasi khusus, si Do'i bisa jaga diri.

Berbeda dengan selera teman-teman sepantaran saya, selera mereka pasaran. Maunya punya cewek cantik, sexi, dan tetek bengek lainnya. 

Hingga saya kuliah, tipe cewek seperti ini masih jadi idola. Bahkan saya pernah merasa risih jika melihat cewek bergincu. Apalagi dandan menor yang berlebihan. Idiih. 

Namun, seiring berjalannya waktu pengidolaan atas cewek tomboy itu sedikit memudar. Barangkali karena pergaulan anak kuliahan yang memang sangat mempengaruhi pola pikir. Hingga akhirnya saya tidak lagi peduli dengan tipe cewek macam apa yang sebaiknya saya puja. Saya mencoba jalani saja hidup sebagai mahasiswa ala umumnya. Kuliah, organisasi, dan berbaur dengan segala macam karakter orang yang berbeda. 

Pernah pada suatu momen saya berkenalan dengan seorang cewek melalui telepon. Berlanjut hubungan LDR hingga merubah pandangan saya terhadap tipe cewek yang benar-benar saya dambakan. Kenyamanan perasaan setiap kali berbincang dengannya membuat saya cuek dengan pekerjaannya. Dia seorang kapster yang notabene sangat dekat dengan dunia pesolek. Ini membuat hati saya harus berdamai dengan kaum pesolek. 

Pesolek tidak selalu identik dengan cewek manja, nakal, atau citra negatif lainnya. Apa yang terjadi pada kehidupan si Do'i membuka mata hati saya. Sosoknya yang mandiri, dewasa, tanggung jawab, dan tahu unggah-ungguh membuat kiblat sosok dambaan saya mengarah padanya. Ada ke-tomboy-an yang tersembunyi di balik kehidupannya yang pesolek. 

Dia perempuan, anak pertama dan memikul peran selaiknya kepala keluarga. Rela mengorbankan sekolah demi kelangsungan pendidikan adik-adiknya. Rela membanting tulang demi kelangsungan hidup keluarganya. Bahkan yang membuat saya tersentuh adalah ketika dia menceritakan bagaimana keprihatinan hidupnya demi meraih impian untuk bisa sekolah. 

Apa yang dilakukan dan dialami olehnya, hampir belum pernah saya temukan dalam sosok perempuan lain. Andai dia adalah seorang lelaki, maka saya akan biasa saja dengan sosoknya. Saya harus memberi nilai plus karena kenyataannya dia adalah sosok perempuan pesolek yang notabene dulu merupakan tipikal cewek yang saya benci. Sosok yang pernah saya deskripsikan negatif melekat pada sosok perempuan. 

Saya akhirnya menjatuhkan dambaan pada sosok cewek yang mau menerima apa adanya kelebihan dan kekurangan saya, plus keluarga saya. Tanpa menuntuk kesempurnaan fisiknya. Kenapa demikian? Karena bagi saya pribadi, pasangan hidup adalah pemersatu kebahagian dua keluarga. Jika timpang, maka tidak akan terwujud kebahagiaan yang diharapkan. Nggak ketemu chemistry-nya. Maka si Do'i yang memiliki ke-tomboy-an berbalut solek pun perlu saya pastikan tentang itu. 

Sepemahaman saya, kunci dasar kebahagiaan keluarga adalah rasa saling menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kelak ketika menikah, seseorang tidak akan benar-benar menemukan pasangan hidup yang sesuai dengan dambaannya. Meskipun di awal masa pernikahan sosoknya begitu sempurna. Namun, tidak menutup kemungkinan hal-hal negatif yang tidak kita ketahui sebelumnya bermunculan. Karena pernikahan itu adalah awal komitmen hidup bersama, artinya ada karakter berbeda dari dua keluarga dalam satu lingkup keluarga baru. 

Perbedaan dua karakter yang disatukan selalu ada potensi menimbulkan konflik atau masalah. Keluarga A maunya A, keluarga B maunya B. Si A cocok dengan pendapat keluarga A, si B tidak. Dalam situasi seperti ini dibutuhkan sikap bijak mencari jalan tengah. Mencari solusi terbaik atas permasalahan yang sedang terjadi. 

Permasalahan yang biasa terjadi misalnya adalah terkait konflik antara menantu dan ibu mertua. Bukan hanya seperti yang digambarkan dalam film atau sinetron. Di kehidupan nyata pun konflik antara menantu dan ibu mertua dapat dengan mudah kita temui. Silakan amati lingkungan di sekitar kalian. Hehe... 

Ah, intinya saya mendambakan sosok kekasih yang bisa menerima kelebihan dan kekurangan saya. Mengenai kriteria tambahan lainnya, itu hanya tambahan semata. 

Tak perlu cantik, sexi, putih, tinggi atau tetek bengek lainnya. Asal dia masih bernapas, cinta dalam hati saya ini pun in sya Allah hidup untuknya. Bagaimana dengan kalian? 

Mungkin itu saja. Jika kawan-kawan suka dengan postingan saya ini atau ada yang perlu didiskusikan silakan tinggalkan komentar di bawah postingan ini. Silakan di share juga boleh. Kalau perlu menghubungi saya bisa lewat chat room di bawah. 

Sekian.
Previous
Next Post »

Terima kasih sudah berkunjung ke Blog saya. Saya harap tidak meninggalkan komentar yang memicu konflik dan mengandung URL aktif. Jabat erat. ConversionConversion EmoticonEmoticon