[10DaysKF] Bukan Lelaki Penginjak Tai Ayam

[10DaysKF] Bukan Lelaki Penginjak Tai Ayam - Hal paling sulit bagi seseorang adalah secara terang-terangan menilai kekurangan pribadi orang lain. Kecuali menilai keburukan orang yang di benci. Lebih mudah lagi mencibir di belakang orang yang di benci. Lalu bagaimana dengan penilaian terhadap diri sendiri? 

Kita mungkin sering melakukan introspeksi diri. Bermuhasabah, meraba kesalahan diri. Bahkan ketika sesuatu hal buruk terjadi, kadang secara otomatis bertanya dalam hati. "Apa salah dan dosaku? Hingga kesialan terus menimpa."

Bagi seseorang yang menyadari hikmah di balik setiap kejadian, pasti akan menyikapi dengan bijak. Berpikir positif dan segera mengambil langkah perbaikan. Sebisa mungkin jangan sampai kesalahan atau kejadian yang sama terulang kembali. 

Namun, tidak banyak orang yang mampu bijak dalam menyikapi setiap permasalah hidupnya. Apalagi bijak menyikapi penilaian orang lain terhadap dirinya. Jika penilaian yang mereka terima itu berupa hal positif, saya yakin tidak ada masalah yang mengganjal dan senang hati mau menerimanya. Berbeda halnya jika penilaian itu bersifat kritik yang menunjukkan kesan negatif atas diri orang tersebut. Pastinya ada perasaan menolak atau defensif terhadapnya. Minimal terlintas di batinnya. 

Begitu juga yang terjadi pada diri saya. Pernah menerima kritik dari orang lain. Kritik yang baik maupun yang jelek. Saya selalu terbuka dan berusaha menerima, meskipun kadang sedikit mbatin dan defensif. 

Sayangnya tidak semua orang benar-benar mengenal saya. Sehingga opini atau kritik yang mereka lontarkan seringkali terasa menyinggung perasaan. Ya karena ada mekanisme defensif tadi itu. 

Nah, disini saya mau sampaikan 5 fakta yang ada dalam diri saya yang seringkali menjadi sasaran kritik orang lain. Silakan dicermati biar lebih kenal dengan saya. Haha.... 

Pertama, saya bukan orang pintar.
Meskipun tak banyak yang menilai saya pintar, tapi perlu saya sampaikan bahwa saya bukan orang pintar. Saya tak bisa meramal, saya tidak bisa menafsirkan mimpi, nilai kuliah saya ancur, prestasi kerja biasa saja, kepintaran macam apa yang bisa saya banggakan? 

Kalaupun saya terlihat menonjol di tempat kerja. Ehemmm.... Itu karena proses yang tidak instan. Saya terlihat bisa, karena saya mau belajar. Saya terlihat mampu, karena saya tak segan mencoba hal baru. Saya selalu berusaha memahami sesuatu hal yang ingin saya kuasai. 

Kedua, saya bukan orang sukses.
Sukses seringkali hanya di lihat dari penampakan fisik luarnya saja. Di lihat dari apa pekerjaannya, seperti apa jabatannya, dan sebanyak apa hartanya. Saya sampaikan lagi bahwa saya bukan orang sukses. Saya orang biasa. Apa yang terlihat oleh mata yang ada pada diri saya, itu hanya kamuflase. Haha... Bukan milik saya. 

Pekerjaan milik boss saya, jabatan dititipi atasan saya, harta kekayaan hanya titipan sesembahan saya, bahkan hidup saya ini juga bukan milik saya. Sukses yang bagaimana yang kalian maksud? Haha.... 

Ketiga, beneran nih saya nggak punya pendirian?
Plinplan nggak punya pendirian. Itulah penilaian untuk saya. Mari kita kupas definisi kata Pendirian menurut KBBI V. Disana diartikan sebagai, "pendapat (keyakinan) yang dipakai tumpuan untuk memandang atau mempertimbangkan sesuatu."

Kalau saya di nilai tidak memiliki pendirian artinya saya tidak memiliki pendapat (keyakinan) yang dipakai tumpuan untuk memandang atau mempertimbangkan sesuatu. Begitu? 

Kalau iya, bagaimana mungkin saya tidak memiliki pertimbangan sebelum menerima jabatan sebagai Kepala Satuan Pemeriksaan Internal di sebuah RS Swasta di Jogja. Bagaimana mungkin saya tidak memiliki pertimbangan untuk menekuni blogging sementara saya butuh media actualisasi diri. Ah, sudahlah. 

Keempat, saya tidak sepenuhnya cuek.
Kalau tidak salah cuek itu artinya tidak peduli dengan masalah orang lain. Cius gue tipe orang kek gitu? Ah, loe becanda kali, Brey.... 

Buktinya gue suka nolongin temen yang butuh bantuan untuk bikin laporan tuh. Gue juga asik-asik aja ngasih saran buat para jomblo yang suka curhat. Atau lihat tuh, kalau ada yang japri nanyain tentang blogging, gue juga mau jawab dan nanggepin tuh. Cuek yang bagaimana yang loe maksud, Brey? 

Cuek soal rumah tangga orang? Gue mah orangnya alergi sama ururan rumah tangga orang. Jadi maap-maap aje ye? 

Kelima, saya bukan lelaki penginjak tai ayam.
Hem.... Ini yang berat. Saya pernah dikatain, "bocah lanang kok midak telek ora penyet." Mereka bilang, "anak laki kok menginjak tai ayam tidak gepeng." Ini orang ahli banget bikin sajak. Dalem bingit maknanya, Brey. Untungnya waktu itu saya belum mendalami sastra Indonesia. Jadi ya plonga-plongo saja dikatain begitu. 

Sekarang berat badan saya sudah hampir 70 kilogram. Kalau ada tai ayam yang saya injak nggak berubah bentuknya, bisa dipastikan itu ayam buatan Jepang. Ayam yang jalannya pakek remot kontrol. Tainya mungkin juga butiran baut yang tak sempurna dia cerna. 

Jadi sekali lagi saya tegaskan, saya bukan lelaki penginjak tai ayam. STOP kalian mengatai saya sebangsa penginjak tai ayam. Case close!! 

Previous
Next Post »

Terima kasih sudah berkunjung ke Blog saya. Saya harap tidak meninggalkan komentar yang memicu konflik dan mengandung URL aktif. Jabat erat. ConversionConversion EmoticonEmoticon